ANALIS MARKET (09/10/2020) : Pasar Obligasi Berpotensi Mengalami Pelemahan Harga

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi bergerak melamah terbatas, namun dalam rentang toleransi.

Maraknya unjuk rasa membuat situasi dan kondisi politik di Indonesia menjadi tidak stabil yang meningkatkan resiko stabilitas nasional, yang dimana itu artinya memberikan kesempatan imbal hasil untuk mengalami kenaikkan sebagai kompensasi dari situasi dan kondisi yang ada saat ini.

Sejauh ini pasar obligasi masih akan bergerak bervariatif dalam beberapa hari ke depan.

Situasi dan kondisi global dan dalam negeri yang masih diiringi ketidakpastian, akan membuat pasar obligasi berpotensi mengalami pelemahan secara harga.

Di penghujung akhir pekan, perhatian pelaku pasar dan investor masih akan tertuju kepada cerita tentang Omnibus Law dari dalam negeri, dan tentu saja pertemuan Bank Sentral India yang dihelat hari ini.

Setelah sebelumnya mengalami penundaan yang membuat pelaku pasar dan investor berfikir negative kepada Bank Sentral India, pada akhirnya pertemuan tersebut akan diadakan hari ini.

Secara tingkat suku bunga, kami melihat bahwa Bank Sentral India belum akan memangkas tingkat suku bunganya kembali. Namun tentunya pandangan dan kebijakan kedepannya terkait langkah langkah Bank Sentral India akan menjadi perhatian pelaku pasar, khususnya ditengah pelemahan perekonomian India akibat wabah virus corona.

Kami melihat masih ada ruang untuk kebijakan moneter, namun untuk India sendiri, kami melihat kebijakan fiscal masih kurang mampu mendorong perekonomian. Oleh sebab itu, kami berharap bahwa Bank Sentral India dan pemerintah mampu bekerja sama untuk menciptakan bauran kebijakan yang akomodatif untuk menopang, mendorong, dan mempercepat proses pemulihan perekonomian.

Lebih lanjut analis Pilarmas menilai, diperdagangan Jumat (09/10) pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka bervariatif dengan rentang pergerakan 30 – 55 bps.

"Kami merekomendasikan wait and see, berubah menjadi beli apabila pergerakan pasar diatas 55 bps,” terang analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (09/10/2020).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.MINUM OBAT DULU BRO!

Ketidakjelasan Trump dalam memberikan keputusan sebagai pemimpin menjelang pemilihan Presiden semakin terlihat. Kebimbangan dalam membuat keputusan terlihat dipengaruhi oleh jumlah suara yang akan memilih dirinya. White House kemarin mengatakan bahwa pemerintah saat ini ingin membahas RUU dalam skala yang lebih besar. Steven Mnuchin mengatakan dalam sambungan telepon bahwa Presiden Trump menginginkan kesepakatan tentang paket yang komprehensif. Juru bicara White House yang sebelumnya mengatakan bahwa mereka menginginkan paket stimulus yang lebih sedikit sekarang mereka mengklarifikasi ulang pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa pemerintah menginginkan paket stimulus yang lebih besar. Tarik ulur pembicaraan stimulus kami melihat semakin mengalami ketidakpastian karena ada konflik kepentingan politik menjelang pemilu disana, apalagi sebelumnya Trump mengatakan apabila dirinya tidak akan memberikan stimulus apabila dirinya tidak memenangkan pemilu. Mnuchin dan Pelosi melakukan conference call dengan Ketua House Small Business Komite, Nydia Velasquez dan Ketua Komite Jasa Keuangan, Maxine Waters tentang usaha kecil dan akses untuk permodalan. Terkait dengan keinginan Trump menginginkan RUU yang berdiri sendiri, hal tersebut di klarifikasi langsung oleh Nancy Pelosi dengan mengatakan bahwa tidak ada tindakan dalam hal pembuatan RUU yang berdiri sendiri, khususnya terkait dengan bantuan terhadap industry maskapai penerbangan atau sector ekonomi lainnya tanpa memasukkannya ke dalam paket stimulus yang lebih luas. Nancy mengatakan bahwa dirinya optimis bahwa stimulus mungkin bisa terjadi dalam waktu dekat, lebih cepat lebih baik. Pemimpin Mayoritas Senat, Mitch McConnell juga mengatakan bahwa kedua belah pihak harus terus menegosiasikan kesepakatan, namun ada perbedaan besar tentang berapa banyak yang harus dibelanjakan. Tuntutan jumlah uang yang begitu besar dianggap keterlaluan oleh McConnell, oleh sebab itu dirinya setuju dan mendukung Trump untuk membatalkan negosiasi tersebut. Terkait dengan hal tersebut kami melihat masih ada jalan yang cukup panjang bagi keduanya untuk mendapatkan kata sepakat, antara Nancy dengan Presiden Trump. Ditengah kebutuhan dana stimulus yang bersifat urgent, masyarakat harus menjadi yang utama untuk dapat bertahan melewati masa masa situasi dan kondisi sulit saat ini. Bagi mereka, mau Republik ataupun Demokrat bukan hal yang penting saat ini, yang terpenting adalah bagaimana mereka mampu bertahan hingga situasi dan kondisi ini berlalu.

2.AUSTRALIA BERAKSI

Setelah Bank Sentral Australia kemarin menyampaikan dukungan untuk mendorong pemulihan perekonomian agar dapat lebih cepat, kali ini pemerintah Australia akan mendorong pemulihan dari sisi kekuatannya. Kecepatan dan kekuatan akan menjadi 2 bumbu utama agar ekonomi dapat pulih seutuhnya. Kecepatan menjadi factor penting tatkala wabah virus corona menekan perekonomian sehingga lebih cepat keluar dari fase sulit saat ini, kekuatan pemulihan menjadi kunci agar proses pemulihan dapat berjalan dari awal hingga

akhir, supaya jangan sampai menjadi kentang seperti negara Paman Sam. Pemerintah pada akhirnya mengumumkan anggaran terbarunya untuk 2020 – 2021, termasuk didalamnya ada pemotongan pajak pribadi senilai miliaran dollar untuk masyarakat yang memiliki penghasilan menengah, sebuah program untuk menciptakan dan meningkatkan lapangan pekerjaan, serta insentif pajak sementara bagi sector bisnis untuk dapat memulai investasi kembali. Defisit anggaran Australia diperkirakan akan berkisar A$ 21.7 miliar atau $151.8 miliar atau sekitar 11.8% dari GDP. Pada tahun fiscal berjalan diperkirakan akan mengalami penurunan sekitar 1.6% dari GDP jangka menengah. Menteri Keuangan, Mathias Cormann mengatakan akan focus dalam mendorong pemulihan ekonomi. Memang kalau kita lihat, defisitnya memang cukup besar, namun secara kekuatan, kami melihat bahwa Australia masih akan mampu bertahan. Karena kalau kita perhatikan, meskipun Australia sudah melakukan pengeluaran fiscal lebih dari biasanya, namun posisi hutang Australia masih jauh lebih rendah kalau kita bandingkan dengan negara maju lainnya. Cormann menambahkan bahwa dirinya dan pemerintah menginginkan lebih banyak pekerjaan yang akan lahir, dan lahirnya pekerjaan tersebut diciptakan oleh bisnis yang mengalami pertumbuhan dan menguntungkan, oleh sebab itu Cormann ingin melakukan lebih banyak investasi dalam bisnis tersebut untuk menjaga pertumbuhan dan kesuksesan di masa yang akan datang. Australia akan menyediakan A$ 4 miliar selama 3 tahun untuk mempercepat pertumbuhan lapangan pekerjaan. Pemerintah juga akan membayar perusahaan hingga A$ 200 per minggu jika mereka turut mempekerjakan masyarakat yang masuk kategori umur muda dari Australia yang dimana mereka sebelumnya berpotensi terkena dampak dari resesi. Pemerintah Australia akan melakukan dukungan penuh untuk menopang perekonomian, yang dimana sebelumnya telah memberikan dukungan sebesar $299 miliar. Pemerintah Australia saat ini sedang dalam masa transisi, untuk dapat memastikan perekonomian Australia dapat pulih dan bertahan dalam melewati masa sulit saat ini ditambah lagi dengan menargetkan beberapa program dukungan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga, memajukan aktivitas investasi dalam bisnis dan infrastructure, dan menurunkan tingkat pengangguran. Dalam anggaran 2020 – 2021, Australia akan memberikan dukungan sebesar $507 miliar, termasuk didalamnya $257 miliar dalam bentuk dukungan perekonomian secara langsung. Respon pemerintah akan selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada, sehingga dapat menahan setiap guncangan yang memberikan dampak negative terhadap perekonomian. Rencana pemulihan Australia akan dimulai dari menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan ketahanan perekonomian dan menciptakan perekonomian yang lebih kompetitif dan memberikan pendapatan yang lebih baik. Revisi strategi ekonomi dan fiscal menjadi salah satu langkah awal untuk memperkuat posisi anggaran saat ini, yang dilanjutkan dengan menstabilkan dan mengurangi utang untuk menjaga prospek perekonomian jangka menengah. Saat ini kami melihat komitmen dari pemerintah Australia merupakan sesuatu yang sangat baik, karena dapat memberikan dukungan penuh terhadap pemulihan perekonomian, sehingga tidak hanya mengandalkan kebijakan moneter dari Bank Sentral. Bauran kebijakan tersebut akan menjadi kekuatan baru bagi Australia untuk dapat bertahan ditengah situasi dan kondisi saat ini serta melakukan pemulihan yang lebih cepat dari negara lainnya. Apalagi Bank Sentral Australia kami lihat masih memiliki ruang yang cukup apabila ingin menurunkan tingkat suku bunganya kembali.