ANALIS MARKET (15/5/2019) : Pasar Obligasi Masih Berpotensi Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi masih mencatatkan penurunan kembali meskipun tidak sebanyak sebelumnya, namun penurunan ini diperkirakan masih akan terus berlanjut. Ditengah-tengah ketidakpastian global dan lokal yang cukup tinggi, para pelaku pasar dan investor masih akan terus wait and see untuk melihat perkembangan yang akan terus terjadi.

Meskipun, saat ini imbal hasil sudah cukup menarik untuk obligasi 10y dan 20y, namun kehati hatian harus tetap diperhatikan, terutama moment untuk masuk kedalam pasar obligasi.

Lebih lanjut, analis Pilarmas menilai, diperdagangan Rabu (15/5/2019) pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas.

Berita hangat kembali datang dari Trump, mungkin sudah hampir sepekan ini kita terus menerus mendengar berita tentang Trump yang sosoknya mirip Thanos, karena cuitannya yang penuh kuasa.

Trump mengatakan, bahwa dia akan bertemu dengan Xi Jinping pada KTT G20 bulan depan. Pertemuan ini bisa memberikan efek lebih baik atau buruk tergantung kepada mereka.

Kantor perwakilan dagang Amerika telah merilis daftar sekitar $300 miliar termasuk didalamnya pakaian anak-anak, mainan, ponsel, dan notebook yang akan dikenakan tarif 25%.

Namun ditengah-tengah tekanan terhadap China, Trump menunjukkan seolah olah bahwa Dia akan memenangkan kesepakatan ini, karena dalam pernyataannya terakhir Trump menyampaikan bahwa China membutuhkan kesepakatan ini.

Hal inilah yang membuat Trump optimis bahwa China akan mau mengadakan kesepakatan dengan Amerika. Trump juga mengatakan bahwa persahabatan Trump dengan Xi tidak terbatas.

Namun sekalipun mereka bersahabat, setidaknya itu menurut Trump, dibawah tekanan yang cukup besar, para pelaku pasar pesimis bahwa pertemuan di KTT G20 nanti akan menghasilkan sebuah kesepakatan, apalagi Trump juga sudah memperingatkan China untuk tidak bertindak terlalu jauh dalam menanggapi tindakan Amerika pasca menaikkan bea impor dari China minggu lalu.

Sesuatu yang lucu menurut kami, ketika Amerika boleh melakukan sesuatu terhadap China, namun China tidak boleh membalasnya.

Namun kenaikkan bea impor terhadap barang Amerika, merupakan bukti bahwa China tidak takut akan tekanan yang diberikan Amerika.

Tidak berhenti sampai disitu, Trump pada akhirnya menyerukan suaranya kepada The Fed untuk mencocokkan dan melihat strategi apa yang akan dilakukan China untuk mengimbangi kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh tarif dari perang dagang tersebut.

Trump mengusulkan kepada The Fed untuk dapat membantunya melawan China dalam perang dagang tersebut.

Steven Mnuchin akan mengunjungi China dalam kurun waktu “secepatnya” untuk melanjutkan pembicaraan perdagangan.

Beberapa ekonom di Amerika juga menyampaikan bahwa perang tarif yang terlalu ketat akan merugikan ekonomi Amerika secara keseluruhan, tidak hanya Amerika tapi secara global.

Selain itu, perpanjangan tarif 25% untuk semua produk impor dari China, sebetulnya dapat mengurangi 0.5 point dalam persentase kepada pertumbuhan ekonomi Amerika.

Tentu hal ini sebetulnya Amerika juga dirugikan, namun tampaknya Trump tidak berfikir demikian. Probabilitas resesi Amerika dalam 2 tahun kedepan akan sangat tinggi.

Fokus berikutnya hari ini adalah data dari dalam negeri yaitu Export dan Import, serta Trade Balance yang akan keluar hari ini, yang akan dilanjutkan dengan pertemuan Bank Sentral Indonesia.

Tentu hal ini akan menjadi penting untuk disimak, khususnya terkait dengan perang dagang antara Amerika dan China.

“Kami masih merekomendasikan wait and see hari ini,” jelas analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (15/5/2019).