ANALIS MARKET (03/12/2019) : IHSG Berpeluang Bergerak Bervariasi dengan Potensi Menguat

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Senin, 02/12/2019, IHSG ditutup menguat 118 poin atau 1,97% menjadi 6.130. Sektor pertambangan, barang konsumsi, properti, industri dasar, keuangan, aneka industri, infrastruktur, agrikultur, dan perdagangan bergerak positif dan menjadi kontributor terbesar pada kenaikan IHSG kemarin. Investor asing membukukan penjualan bersih sebesar 148.5 milyar rupiah.

Sedangkan sentimen yang menjadi sorotan pelaku pasar hari ini, akan kita awali dari;

1.TERLALU CINTA

Seperti yang sudah kami duga dan sampaikan sebelumnya, bahwa China tampaknya enggan untuk melakukan pembalasan akan sikap Amerika terkait dengan penandatanganan RUU HAM dan Demokrasi Hongkong. China saat ini lebih menghindari tindakan yang dapat membalas perlakuan Amerika terhadap China beberapa waktu lalu. Memang benar, China memberikan balasan, namun lebih kepada sanksi. Hal ini disampaikan oleh Juru bicara Kementrian Luar Negeri China Hua Chunying bahwa sanski tersebut ditujukan kepada National Endowment for Democracy, Human Rights Watch, dan Freedom House. Tidak hanya itu saja, Hua juga mengatakan bahwa China akan menangguhkan kunjungan pelabuhan Hongkong terhadap kapal kapal Angkatan Laut Amerika. Menariknya Hua sendiri tidak memberikan perincian yang lebih jelas tentang bagaimana China akan memberikan sanksi terhadap kelompok Hak Asasi Manusia tersebut. Sehingga kami melihat bahwa hal ini sebetulnya hanyalah omdo semata, karena sebetulnya kelompok Hak Asasi Manusia tersebut juga tidak beraktifitas di China. Sejauh ini kami menilai meskipun China berkesempatan untuk membalas tindakan Amerika, namun kami melihat China masih menahan tindakan tersebut. Saat ini situasi dan kondisinya tengah berbeda. Disatu sisi apabila China membalas, maka akan kehilangan kesempatan dan daya tawar untuk mendapatkan kesepakatan, namun apabila China tidak membalas, pernyataan China beberapa waktu yang lalu untuk membalas akan dianggap sebagai omong kosong semata. Well, ditengah situasi dan kondisi yang tidak menentu saat ini, cukup menarik apabila kita nantikan pada tanggal 15 December nanti, apakah Amerika menaikkan tarif terhadap China atau tidak. Karena biar bagaimanapun juga, selama kesepakatan belum di tanda tangani, market kita akan begini begini saja. Marilah kita berharap, bahwa sikap mengalah China nyatanya memang untuk mendapatkan kemenangan yang lebih besar nantinya.

2.TRUMP KEMBALI BERAKSI!

Presiden Trump memberlakukan kembali tarif baja dan aluminium dari Argentina dan Brazil, dua Negara yang Trump kritik terkait dengan mendevaluasi mata uangnya sehingga merugikan para petani di Amerika, dan sekali lagi Trump meminta bantuan dari The Fed untuk dapat melonggarkan kebijakan moneternya, yang dimana itu artinya Trump meminta The Fed untuk kembali melakukan pemangkasan tingkat suku bunga. Trump sejatinya melakukan tindakan tersebut merupakan tindakan balasan terhadap dua Negara yang menjadi pensupply alternative kacang kedelai dan produk pertanian lainnya bagi China. Tampaknya sedikit banyak kita sudah ketahui alasan Trump mengenakan tarif tersebut kepada Argentina dan Brazil. Disisi yang lain, dalam 10 bulan pertama tahun ini, produk pertanian termasuk kedelai dan daging babi dari Brazil telah dikirim ke China sebesar $ 25.5 miliar. Nilai tersebut lebih besar 10x dari nilai produk baja dan besi yang dijual ke Amerika. Sehingga kami melihat bahwa China tampaknya secara perlahan mulai menshifting impor kedelai dan daging babi yang sebelumnya di impor Amerika menjadi Brazil. Ditengah tengah kenaikkan bursa saham global, pemberlakuan tarif baja ini membuat sentiment yang cukup negative sehingga memberikan potensi tekanan terhadap bursa global. Hal ini dikhawatirkan para pelaku pasar dan investor bahwa Trump dapat memperlakukan hal yang sama terhadap China ditengah tengah potensi kesepakatan perdagangan tahap pertama. Cukup menarik apabila kita nantikan bagaimana impact yang akan ditimbulkan terhadap pasar saham asia pada hari ini.

3.BANK INDONESIA MEMBERIKAN SIGNAL

Bank Indonesia kembali menyampaikan bahwa akan mempertahankan sikap kebijakan moneternya yang akomodatif untuk mendukung ekonomi Indonesia terhadap perlambatan ekonomi global. Bank Sentral Indonesia akan terus menggunakan bauran kebijakan pada tahun 2020 untuk membantu perekonomian tahun ini. Selain itu ditengah perang dagang antara Amerika dan China, Pemerintah juga terus memberikan keringanan pajak kepada Perusahaan dan investor property untuk ikut menjaga menopang pertumbuhan. Bank Indonesia juga mengharapkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia dapat rebound menuju 5.3% tahun depan dari sebelumnya estimasi pertumbuhan tahun ini yang berada di 5.1%. Selain itu Bank Indonesia juga menyampaikan bahwa dibutuhkan penyederhanaan prosedur investasi untuk menarik investasi asing, terutama investasi secara langsung. Selain itu ekonomi perlu di integrasikan lebih cepat dengan tren digitalisasi yang terus mengalami peningkatan. Tidak hanya itu saja, Bank Indonesia menyampaikan bahwa Indonesia perlu meningkatkan keterampilan tenaga kerja dan merevisi model bisnis untuk menyesuaikan dengan perubahan zaman, terutama di kalangan millennium. Dan yang terpenting adalah Bank Indoensia akan terus memperluas kebijakan makroprudensial pada tahun 2020 nanti, terutama untuk usaha skala kecil dan menengah dan sector proritas. Tentu hal ini akan disambut baik oleh pasar, karena akan memberikan dorongan terhadap ekonomi pada tahun depan nantinya.

4.BAGAIMANA DENGAN PMI?

Dari dalam negeri, Indeks Manufacturing PMI bulan November mengalami kenaikan dari 47.7 menjadi 48.2. Meskipun secara keseluruhan dapat dikatakan masih rendah dan melambat, namun perbaikan dari sisi permintaan dan produktivitas menjelang akhir tahun dapat menjadi trigger guna mencapai pertumbuhan ekonomi sesuai target. Kami melihat adanya penumpukan barang yang akan dikerjakan menjadi berkurang setelah banyaknya tumpukan dari barang jadi, sehingga tingkat penjualan yang rendah menjadi beban bagi produksi. Output tersebut juga telah turun dalam 5 bulan berturut-turut. Bahkan, kami juga melihat adanya pengurangan pekerjaan dalam lima bulan berturut-turut. Namun, kami masih melihat adanya potensi perbaikan pada kondisi manufaktur Indonesia setelah pemerintah gencar melakukan promosi dan penyederhanaan dalam bidang regulasi bisnis, sehingga dapat mendatangkan aliran modal baru yang dinilai akan berdampak pada peningkatan kualitas produk.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak bervariasi dengan potensi menguat dan ditradingkan pada level 6.100-6.236,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Selasa (03/12/2019).