ANALIS MARKET (06/12/2019) : IHSG Berpeluang Bergerak Menguat dan Ditradingkan Pada Level 6.121 - 6.173

Foto : Ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Kamis 5/12/2019, IHSG ditutup menguat 39 poin atau 0,64% menjadi 6.152. Sektor aneka industri, agrikultur, pertambnagan, industri dasar, infrastruktur, properti, dan keuangan bergerak positif dan menjadi kontributor terbesar pada kenaikan HSG kemarin. Investor asing membukukan pembelian bersih sebesar 36.7 milyar rupiah.

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.CHINA DAN AMERIKA, SALING MAIN MATA

Pejabat China terus menerus menjalin hubungan dengan Amerika dalam kesepakatan perdagangan. China terus mendesak Amerika untuk menegaskan bahwa tarif yang dikenakkan Amerika untuk China harus dikurangi secara proporsional satu demi satu sebagai bagian dari perjanjian kesepakatan tahap pertama. Juru Bicara Kementrian Perdagangan Gao Feng menyampaikan secara explisit, namun tidak secara detail tentang bagaimana pertemuan ini akan dilanjutkan. Ditengah tengah usaha untuk mencapai kesepakatan, Amerika berjanji untuk memberikan tarif tambahan kepada China apabila China tidak memberikan kesepakatan pada tanggal 15 December nanti. Lagi lagi, berita seperti ini menaikkan pergerakan saham di Asia dan Eropa, karena ada progress yang dihasilkan antara Amerika dan China. Namun demikian kami melihat bahwa Amerika tetap masih memiliki daya tawar paling tinggi ditengah tengah kesepakatan perdagangan yang terjadi antara Amerika dan China, salah satunya adalah;

2.DEFISIT TRADE BALANCE YANG KIAN MENGECIL ANTARA AMERIKA DAN CHINA

Pada akhirnya apa yang diperjuangkan oleh Trump selama ini mulai memperlihatkan hasil. Perdagangan antara Amerika dan China terus menerus mengalami penurunan. Impor barang China menuju Amerika mengalami penurunan sebesar 4.8% dari bulan sebelumnya, dan ekspor mengalami penurunan 17%, ini merupakan yang terendah dalam kurun waktu 1 tahun. Secara keseluruhan sampai dengan saat ini deficit perdagangan antara Amerika dan China kian mengecil menjadi $47.2 miliar pada bulan October kemarin. Kebijakan perdagangan terus menerus menekan keseluruhan factor perdagangan dengan China pada tahun ini. Kami melihat hal ini akan menjadi salah satu tolok ukur bagi Amerika bahwa apa yang dilakukannya telah terbukti benar, dan ketika apa yang dilakukan oleh Trump benar adanya, maka Trump akan melakukan hal yang sama dengan Negara lainnya. Hal ini lah yang diperlihatkan kepada kita terhadap beberapa Negara yang diajak berantem oleh Trump bahwa semuanya ini hanyalah semata mata untuk membuat Amerika Great Again.

3.EKONOMI INDIA MULAI GOYAH, BENARKAH?

Pertumbuhan ekonomi India saat ini merupakan yang terendah sejak 2014 silam, yang dimana ekonomi India tumbuh hanya 4.5% untuk periode Juli – September, dan ini merupakan perlambatan untuk kuartal ke 6 berturut turut karena konsumsi local yang terus memburuk, bank bank yang bermasalah serta prospek ekonomi global yang kian melemah ke depannya. Namun, itu untuk pertumbuhan ekonominya, untuk pasar ekuitasnya, Index Sensex S&P BSE terus melonjak naik sebanyak 13% dari level terendah sejak 19 September lalu. Kami melihat bahwa memang benar bahwa pertumbuhan ekonomi terus mengalami perlambatan, namun kami melihat bahwa India bisa menjadi primadona tahun depan. Sejauh ini Perdana Menteri Narendra Modi terus menerus mengambil langkah untuk menghidupkan kembali pertumbuhan dari level terendah dalam kurun waktu 6 tahun. Pada bulan September lalu, Modi memangkas tarif pajak perusahaan, melonggarkan aturan investasi asing dibidang ritel, manufacture, dan pertambangan batu bara, dan mulai menggabungkan 10 bank Milik Negara untuk menciptakan 4 pemberi pinjaman besar. Tidak berhenti sampai disitu saja, Bank Sentral India tahun ini telah memangkas tingkat suku bunganya sebanyak 5x, meskipun masih harus menahan diri untuk tidak mengalami penurunan lebih lanjut. Ditengah pelemahan, kami melihat bahwa India siap untuk melakukan apapun untuk mengurangi perlambatan dan mulai melakukan perbaikan. Sehingga meskipun ada perlambatan ekonomi, kami percaya India mampu melewatinya dengan baik.

4.PERTEMUAN OPEC, HASILNYA?

Pada akhirnya OPEC melaporkan bahwa mereka tengah mempertimbangkan untuk mengurangi produksinya sebanyak 500.000 barel per hari. Meskipun sejauh ini masih belum jelas apakah kesepakatan akan terjadi atau tidak. Dengan pemangkasan tersebut, otomatis total produksi akan berkurang menjadi 1.7 juta barel per hari. Sejauh ini OPEC + telah diminta untuk bertindak setelah harga minyak global anjlok pada pertengahan 2014 karena kelebihan pasokan. Amerika sekarang ini merupakan produsen minyak terbesar di dunia yang telah mencapai 12.3 juta barel per hari pada tahun 2019. Angka ini naik dari sebelumnya 11 juta barel per hari pada tahun 2018 lalu. Sejauh ini Amerika terus menghasilkan minyak yang lebih banyak daripada arab Saudi dan Rusia saat ini, meskipun ada tanda tanda bahwa produksi minyak di Amerika juga mulai melambatkan produksinya. Cukup menarik untuk kita nantikan terkait apakah jadi di pangkas atau tidak.

5.BANK INDONESIA OPTIMIS LHO!

Bank Indonesia mengindikasikan adanya optimisme dari menguatnya daya beli konsumen pada bulan November. Berdasarkan survei konsumen pada November 2019, IKK November meningkat menjadi 124.2 dari sebelumnya 118.4. Peningkatan tersebut berasal pada seluruh kelompok pengeluaran. Bank Indonesia juga menjelaskan, optimisme konsumen yang menguat dipicu oleh membaiknya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan. Adapun persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini membaik didorong oleh persepsi yang lebih baik terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan saat ini, dan pembelian barang tahan lama. Di samping itu, konsumen memiliki ekspektasi yang lebih baik terhadap kondisi ekonomi ke depan, baik pada kondisi kegiatan usaha, ketersediaan lapangan kerja, maupun penghasilan yang akan diterima. hasil survei mengindikasikan tekanan kenaikan harga dalam 3 bulan mendatang atau sampai Februari 2020 diperkirakan melambat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga dalam 3 bulan mendatang yang menurun dibandingkan dengan tekanan harga pada bulan sebelumnya. Sementara itu, tekanan kenaikan harga diperkirakan akan sedikit meningkat pada 6 bulan mendatang atau sampai Mei 2020. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga 6 bulan mendatang yang lebih tinggi dari indeks pada bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh peningkatan permintaan barang dan jasa pada periode bulan Ramadan dan Idulfitri.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang untuk bergerak menguat dan akan ditradingkan pada level 6.121-6.173,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (06/12/2019).