ANALIS MARKET (08/11/2019) : Pasar Obligasi Masih Berpotensi Alami Penguatan

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan untuk obligasi jangka pendek, 5y dan 10y. Namun pergerakan ke arah penguatan masih terjadi di area obligasi jangka menengah hingga panjang.

Sejauh ini, pasar masih merasakan aura optimis dari perjanjian dagang antara Amerika dan China yang mulai menunjukkan tanda tanda pengertian antara satu sama lain.

Hal ini yang membuat para pelaku pasar dan investor masih merasa yakin, bahwa perekonomian Indonesia masih cukup tangguh dan menarik hingga tahun depan.

Kalau kita melihat kepemilikan asing, pasar obligasi terus mencatatkan capital inflow, hal ini jugalah yang mendorong harga pasar obligasi masih stabil.

Adapun sentiment yang menjadi sorotan pelaku pasar di akhir pekan ini, kita awali dari;

1.AMERIKA DAN CHINA KEMBALI MESRA!

Amerika dan China telah sepakat untuk menurunkan tarif barang barang antara yang satu dengan yang lain secara bertahap ditengah usaha dan jerih payah diantara kedua Negara untuk mencapai kesepakatan. Dalam kurun waktu 2 minggu terakhir, para negosiator telah melakukan diskusi yang serius dan konstruktif yang dimana mereka pada akhirnya setuju untuk menghapus tarif tambahan secara bertahap karena kemajuan yang dicapai dalam diskusi dan perjanjian tersebut. Kami melihat bahwa harga yang diberikan China, pada akhirnya telah dibayar oleh Amerika. Kami cukup senang mendengar berita tersebut, karena kami melihat bahwa Trump pada akhirnya mau untuk membayar harganya untuk sebuah kesepakatan. Sesuatu yang tampak mustahil sebelumnya. Dan akhirnya Larry Kudlow, penasehat ekonomi White House telah mengkonfirmasi bahwa ada kemajuan dalam negosiasi. Jika ada kesepakatan perdagangan tahap satu, maka akan ada perjanjian tarif dan konsesi. Kellyanne Conway menambahkan bahwa saat ini Donald Trump tengah cemas, pasalnya negosiasi sedang berlangsung, namun waktu dan tempat untuk penandatanganan tersebut masih belum ditentukan. China mengatakan bahwa jika China dan Amerika mencapai kesepakatan fase pertama, kedua belah pihak harus memutar kembali tarif tambahan yang ada dalam proporsi yang sama secara simultan dan didasarkan kepada konten perjanjian, yang dimana hal tersebut merupakan syarat penting untuk mencapai kesepakatan. Kami melihat kesepakatan hal ini merupakan sesuatu yang baik bagi perekonomian dunia, mengapa demikian? Setelah 18 bulan lamanya bersitegang, dan menciptakan perlambatan ekonomi dunia, akhirnya mereka bersatu kembali yang dimana akan dapat mendorong pemulihan ekonomi khususnya tahun depan. Permintaan utama China sedari awal negosiasi adalah penurunan tarif, yang dimana telah diberlakukan sebelumnya oleh Trump yang membuat sebagian besar ekspor China ke Amerika mengalami kenaikkan tarif. Atas dasar berita sukacita ini, indeks saham global kembali menguat. Namun ingat, saat ini kita mulai terbang melayang atas dasar berita ini, tapi disatu sisi kita juga harus ingat bahwa sejauh ini belum ada hitam diatas putih, sehingga apapun bisa saja terjadi. Sejauh ini sentiment yang diberikan masih positif dan mendukung pergerakan pasar, tapi belum ada tenggat waktu dan tempat yang jelas terkait dengan penandatanganan kesepakatan tersebut. Jangan sampai kita kecewa untuk kedua kalinya, bukan kedua kalinya maksud kami tapi kecewa untuk kesekian kalinya. Tentu kita semua berharap bahwa kesepakatan ini dapat ditandatangani bulan ini, agar bisa mendorong rasa optimis untuk menatap tahun depan.

2.BANK OF ENGLAND UNCHANGED!

Ditengah tengah kisruh Brexit yang tidak kunjung usai, Bank of England pada akhirnya belum memotong tingkat suku bunganya, tapi yang menarik adalah Michael Saunders dan Jonathan Haskel mendukung pemotongan tingkat suku bunga sebanyak 25 bps yang dimana hal ini menyebabkan pound menjadi jatuh. Hal tersebut membuat suasana menjadi suram, karena pembuat kebijakan telah menginsyaratkan penurunan dalam aktivitas ekonomi yang dimana dapat mendorong pelonggaran kebijakan. Pejabat juga memotong tingkat pertumbuhan dan inflasi untuk beberapa tahun ke depan. Pada akhirnya efek Brexit memberikan dampak terhadap pertumbuhan Inggris secara keseluruhan, dan akan terus mengalami penurunan apabila Brexit tidak diselesaikan lebih cepat. Semakin cepat, semakin baik, karena tentu kami berharap bahwa tahun depan bukanlah tahun resesi tapi merupakan tahun pemulihan agar perekonomian dunia menjadi lebih baik lagi.

3.CADANGAN DEVISA NAIK!

Bank Indonesia menyatakan cadangan devisa pada Oktober 2019 mengalami kenaikan 2% menjadi US$126,7 miliar dari bulan sebelumnya US$124,3 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7.4 bulan impor atau 7.1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Tentu hal ini merupakan sesuatu yang sangat baik karena diatas standar kecukupan internasional yaitu sekitar 3 bulan. Peningkatan cadangan devisa pada Oktober 2019 dipengaruhi penerbitan global bond pemerintah, penerimaan devisa migas, dan penerimaan valas lainnya. Ke depannya Bank Indonesia melihat cadangan devisa tetap memadai yang didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang dimana akan diproyeksikan akan kembali membaik. Ke depan pemerintah perlu memperhatikan dan mempertimbangkan upaya guna menaikkan daya beli. Hal tersebut perlu diseimbangkan dengan kenaikan upah minimum serta kenaikan asset investasi guna menjaga stabilitas pasar keuangan.

“Kami merekomendasikan jual untuk jangka waktu pendek dengan durasi 5y dan 10y. Pergerakan pasar obligasi yang melebihi dari 55 bps untuk obligasi jangka menengah dan panjang yaitu >10y, akan menjadi arah selanjutnya bagi pasar obligasi, namun hati hati karena obligasi jangka pendek sudah mengalami penurunan sehingga berpotensi untuk dijual di harga tinggi,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (08/11/2019).