BKPM Gelar Market Sounding Proyek Infrastruktur Pembangunan Bandar Udara Singkawang

foto : istimewa

Pasardana.id - Senin (7/10) kemarin di Jakarta, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Kota Singkawang menyelenggarakan kegiatan 'Market Sounding' Proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) terkait pembangunan Bandar Udara Singkawang, Kalimantan Barat.

Proyek Bandar Udara Singkawang bertujuan untuk mendorong kegiatan perekonomian di berbagai sektor dan membuka akses Kota Singkawang ke kota-kota lain di Indonesia dan mancanegara.

Selain itu, diharapkan akan mendatangkan multiplier effect meningkatkan pembangunan daerah, khususnya di Kota Singkawang dan Kalimantan Barat secara umum.

“Pembangunan infrastruktur tidak lagi harus bergantung pada anggaran pemerintah, sehingga dengan adanya skema KPBU diharapkan menjadi terobosan dalam percepatan pembangunan infrastruktur,” ujar Thomas Lembong, Kepala BKPM dilansir dari siaran pers, Selasa (8/10).

Thomas menyampaikan, akselerasi pembangunan infrastruktur di Indonesia adalah sesuatu yang harus dilakukan di tengah kompetisi regional yang terus meningkat, dimana negara-negara tetangga sangat agresif dalam memacu pembangunan infrastruktur.

Contohnya Thailand, yang saat ini tengah gencar membangun Eastern Economic Corridor melalui pembangunan jaringan kereta cepat yang menghubungkan wilayah selatan Thailand.

Pembangunan tersebut melibatkan pihak-pihak swasta dari negara lain, di antaranya; Tiongkok, Jepang dan investor Eropa yang menunjukkan pembangunan infrastruktur semakin melibatkan pelaku usaha internasional serta bersifat multilateral.

“Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, prinsip manajemen dalam suatu pembangunan harus bersifat fokus dan detail, sehingga dalam konteks pembangunan infrastruktur perlu dilakukan prioritasi infrastruktur yang selektif, pengawalan, sampai terealisasi,” jelas Thomas.

Asal tahu saja, proyek Bandar Udara Singkawang memiliki total investasi sebesar Rp4,3 triliun yang terdiri dari CAPEX sebesar Rp. 1,7 triliun dan OPEX sebesar Rp 2,6 triliun. Skema yang digunakan adalah Design, Build, Finance, Operate, Maintenance, dan Transfer (DBFOMT).

Cakupan proyek yang dikerjasamakan, antara lain; pembangunan fasilitas sisi darat, sisi udara, dan fasilitas penunjang; operasional bandar udara (Badan Usaha Bandar Udara/BUBU); serta pemeliharaan aset proyek.

Mekanisme untuk pengembalian investasi melalui user charge yang berasal dari tarif layanan pengguna jasa fasilitas bandar udara selama masa konsesi 32 tahun.

Seiring hal itu, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi menyampaikan bahwa Kementerian Perhubungan terus mendorong implementasi KPBU dalam proyek-proyek sektor perhubungan.

Percepatan pembangunan infrastruktur, lanjutnya, tidak mungkin hanya mengandalkan dana APBN. Penggunaan Anggaran Pemerintah hanya sebagai stimulus dalam membangun infrastruktur.

Secara khusus pada sektor kebandarudaraan, hal ini telah dimulai pada proyek KPBU Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo yang mendapatkan animo tinggi dari pelaku usaha nasional maupun mancanegara.

Saat ini, proyek tersebut telah memasuki tahapan untuk penentuan pemenang lelang.

“Berbeda dengan proyek KPBU Bandar Udara Komodo, Bandar Udara Singkawang merupakan proyek KPBU Bandar Udara green field pertama yang ditawarkan oleh Kementerian Perhubungan. Proyek Bandar Udara Singkawang juga menjadi contoh konkrit pemerintah yang terus mendorong infrastruktur di luar Pulau Jawa atau tidak Jawa-sentris. Oleh karena itu, Kementerian Perhubungan akan terus mendorong kelancaran proses ini,” jelas Budi Karya.

Sementara itu, Walikota Singkawang, Tjhai Cui Mie meyakinkan para investor bahwa Singkawang sebagai kota terbesar kedua di Kalimantan Barat dan paling toleran berdasarkan Indeks Kota ToleranTahun 2018 yang diterbitkan oleh SETARA Institute.

Disamping itu, memiliki banyak potensi investasi, antara lain; pariwisata, perdagangan, industri, dan sektor lainnya, sehingga dibutuhkan infrastruktur bandar udara yang memadai untuk mendukung potensi investasi tersebut.

Menurutnya, sektor pariwisata juga menunjukan tren positif dilihat dari jumlah wisatawan yang terus meningkat. Pada tahun 2018, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Singkawang mencapai 721.967.

Selain itu, Kota Singkawang memiliki peran penting sebagai pusat distribusi perdagangan dan jasa di wilayah Kalimantan Barat, yang meliputi Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Sambas dan Kabupaten Mempawah.

“Pembangunan Bandar Udara Singkawang akan mendukung perkembangan Kota Singkawang serta meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas ke pusat-pusat kegiatan ekonomi. Proyek infrastruktur lain juga akan banyak dibangun, seperti pengembangan Pelabuhan Kijing di Kabupaten Mempawah, Pembangkit Listrik Bengkayang I, Pembangkit Listrik Bengkayang II dan Pembangkit Listrik Mempawah, serta melalui pembukaan perbatasan Indonesia-Malaysia di Aruk-Sambas yang telah membuka lebih banyak akses langsung ke wilayah Singkawang, Bengkayang dan Sambas,” ujar Tjhai.

Acara 'Market Sounding' ini dihadiri oleh sekitar 220 peserta yang berasal dari perusahaan swasta dan BUMN di bidang bandar udara, kontraktor, perbankan dan lembaga keuangan, konsultan serta asosiasi bisnis terkait, baik dari dalam dan luar negeri.

Hadir juga dalam acara tersebut, pihak dari Kedutaan Besar Inggris Raya, Denmark, Spanyol, Republik Ceko.

Beberapa perusahaan yang hadir, dari dalam negeri, seperti; PT. Adhikarya, PT. Waskita Karya, PT. Wijaya Karya, PT.Hutama Karya, PT. Angkasa Pura I dan PT. Angkasa Pura II.

Sedangkan perusahaan luar negeri yang hadir, antara lain; Incheon International Airport Corporation, Mitsui & Co. Ltd, Parsons, Marubeni Corporation, Ssang yong Engineering & Construction, China Construction Eight Engineering Division, China Civil Engineering Construction Corporation, China Shenhua Energy Company Limited, Kajima Corporation, Taisei Corporation, Obayashi Corporation, Itochu Corporation, dan Shimizu Corporation.

Serta pihak perbankan dan lembaga keuangan, seperti; Asian Development Bank, Islamic Development Bank, Korea Overseas Infrastructure & Urban Development Corporation (KIND), Sinosure, Bank BRI, Bank BTPN, Bank HSBC Indonesia, Indonesia Infrastructure Finance, dan PT. Danareksa Capital.

Hadir sebagai pembicara dalam acara ini, antara lain; Menteri Perhubungan, Kepala BKPM, Walikota Singkawang, Direktur Kerjasama Pemerintah-Swasta Rancang Bangun Kementerian PPN/Bappenas, Direktur Bandar Udara Kementerian Perhubungan, Pelaksana Tugas Direktur Utama PT. Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT. PII) dan Ernst and Young selaku konsultan investasi, perwakilan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas dan PT. Penjaminan Infrastruktur Indonesia yang mewakili Kantor Bersama KPBU dan menyampaikan informasi terkait dengan skema KPBU dan penjaminan Pemerintah.