IHSG|aksi korporasi|analisa market|Kiwoom Sekuritas
Oleh: Ivan

Pasardana.id Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, bursa regional diperdagangkan cenderung menurun pagi ini. Sebelumnya, Bursa Eropa dan Amerika diperdagangkan mixed akhir pekan lalu dengan Dow Jones naik 0.3% pada level 24,946.
Kebijakan perdagangan Amerika serta potensi kenaikan bunga dalam rapat FOMC 20-21 Maret membayangi sentimen pasar minggu ini.
Sementara itu, diperdagangan akhir pekan lalu, Candlestick indeks harga saham gabungan (IHSG) membentuk pola hammer yang mengindikasikan potensi rebound hari ini.
Namun demikian, kami memperkirakan IHSG bergerak mixed dengan kecenderungan menurun hari ini seiring masih berlanjutnya aksi jual investor asing, sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam laporan riset yang dirilis Senin (19/3/2018).
Lebih lanjut, riset Kiwoom juga menyebutkan beberapa aksi korporasi yang layak dicermati pelaku pasar diperdagangan hari ini, antara lain;
ERAA - Non-preemptive rights
PT Erajaya Swasembada (ERAA) berencana menerbitkan saham tanpa hak memesan
efek terlebih dahulu (private placement/non-preemptive rights). Perseroan akan
menerbitkan 290 juta saham baru (10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh)
dengan harga penawaran Rp 1,054 per saham sehingga perseroan akan meraih dana
segar Rp 305.66 Miliar. Seluruh dana dari non-preemptive rights akan digunakan
untuk rencana pengembagnan kegiatan usaha perseroan. Aksi korporasi ini
memiliki efek dilusi hingga 9.09%.
EXCL - Ekspansi diluar pulau Jawa
PT XL Axiata (EXCL) berencana menambah 17,000 base transceiver station (BTS)
baru dengan mayoritas 95% adalah BTS 4G. Sekitar 60% dari rencana penambahan
BTS atau menara telekomunikasi tahun ini di luar pulau Jawa dan sisanya 40% di
pulau Jawa. Untuk lokasi di luar pulau Jawa, EXCL akan menambah BTS di lokasi
yang berbeda untuk memperluas jaringan sementara di pulau Jawa, ekspansi BTS
untuk meningkatkan kapasitas transmisi dari BTS yang ada.
Hingga akhir tahun lalu, EXCL memiliki 53.5 juta pelanggan dan sebesar 25 juta pelanggan sudah menggunakan jaringan 4G LTE sementara 28.5 juta pelanggan masih menggunakan jaringan 3G dan 2G. Hingga akhir tahun lalu, EXCL juga tercatat memiliki total 101,094 BTS.
INDY - Kinerja FY 2017
PT Indika Energy (INDY) laba bersih senilai US$ 335.4 Juta tahun lalu Vs rugi
bersih US$ 67.6 Juta tahun 2016. Naiknya kinerja didukung oleh kenaikan
pendapatan sebesar 41.7%Yoy menjadi US$ 1.1 Miliar tahun lalu. Laba kotor INDY
naik 38.6%Yoy menjadi US$ 122.9 Juta tahun lalu.
SMGR - Kinerja FY 2017
PT Semen Indonesia (SMGR) membukukan penurunan laba bersih sebesar 55.4%Yoy
menjadi Rp 2.01 Triliun tahun lalu Vs Rp 4.52 Triliun pada tahun 2016.
Pendapatan SMGR naik 6.4%Yoy menjadi Rp 27.81 Triliun tahun lalu dari Rp 26.13
Triliun pada tahun 2016 namun beban pokok naik 22%Yoy menjadi Rp 19.85 Triliun
tahun lalu menekan laba kotor sehingga turun menjadi Rp 7.95 Triliun. SMGR
membukukan laba kotor senilai Rp 9.85 Triliun tahun 2016.
WTON - Kontrak baru 2M 2018
PT Wijaya Karya Beton (WTON) meraih kontrak baru senilai Rp 1.12 Triliun
hingga 2M 2018. Nilai kontrak baru tersebut naik 76%Yoy dibandingkan periode
yang sama tahun lalu senilai Rp 636 Miliar. Tahun ini, WTON menargetkan
kontrak baru senilai Rp 7.56 Triliun. WTON juga berencana menambah kapasitas
produksi pabrik di Makassar (Sulawesi Selatan).
WTON mempunyai dua pabrik beton seluas 10.8 Ha dan lima jalur produksi. Rencana tambahan produksi seiring meningkatnya proyek infrastruktur di kawasan Indonesia Timur. WTON menargetkan kapasitas produksi pabrik di Makassar menjadi 3.4 juta ton tahun ini dari sebelumnya 3.2 juta ton