Realisasi Penerimaan Pajak per Akhir Oktober 2018 Mencapai Rp 1.016,52 Triliun

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Kementerian Keuangan melaporkan, realisasi penerimaan pajak per akhir Oktober 2018 mencapai Rp 1.016,52 triliun.

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, realisasi penerimaan pajak tumbuh 17,6% yoy. Tahun lalu, penerimaan pajak yang tercatat Ditjen Pajak justru turun 0,8%.

“Ini loncatan yang sangat tinggi,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani, dalam konferensi pers APBN KiTa 2018, di Jakarta, kemarin (15/11).

Lebih rincinya diungkapkan, realisasi penerimaan PPh Non-migas hingga Oktober sebesar Rp 538,91 triliun atau 65,96% dari pagu APBN. PPN dan PPnBM sebesar Rp 405,44 triliun atau mencapai 74,83% dari target.

Sementara, penerimaan PBB yaitu Rp 11,76 triliun atau 67,69% dari target APBN, pajak lainnya Rp 6,1 triliun atau 62,9% dari target, dan PPh Migas sebesar Rp 54,3 triliun melampaui target 142,40% dari pagu APBN.

Ditinjau dari sisi sektoral, penerimaan sektor-sektor utama penyumbang pajak tumbuh dua digit secara tahunan. Antara lain, penerimaan pajak sektor perdagangan tumbuh 28,28%, sektor jasa keuangan dan asuransi 10,78%, sektor konstruksi dan real estat 13,52%, sektor pertambangan 66,79%, dan sektor pertanian 27,37%.

Sektor industri pengolahan pun mencatat pertumbuhan 12,94% yoy. Namun pertumbuhannya melambat jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Shortfall pajak

Meski realisasi penerimaan pajak per akhir Oktober 2018 mencapai Rp 1.016,52 triliun, namun pencapaian tersebut baru mencapai 71,39% dari target penerimaan pajak dalam APBN 2018, yang sebesar Rp 1.424 triliun.

Sementara, Direktorat Jenderal Pajak mematok penerimaan pajak setidaknya bisa mencapai 94,9% dari pagu APBN agar selisih kekurangan target (shortfall) bisa terjaga 5%.

Menanggapi hal tersebut, Sri Mulyani dalam sebuah kesempatan sebelumnya mengatakan, semestinya target tersebut masih bisa dicapai.

“Agak ambisius, tapi semestinya masih bisa dicapai,” katanya.