Kondisi Ekonomi Global Jadi Tantangan Pencapaian Target Pertumbuhan Ekonomi Nasional

foto : istimewa

Pasardana.id - Fenomena global kontemporer menjadi salah satu tantangan pelik bagi pemenuhan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam rapat dengar pendapat mengenai asumsi makro 2017, kepada Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (1/9/2016) malam, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, fenomena global mempengaruhi penerimaan negara, terutama dari segi Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22.

"Setiap komponen dari asumsi makro mempengaruhi setiap komponen penerimaan negara," kata dia.

Dijelaskan, pertumbuhan global sekarang ini, meskipun telah positif pada kisaran 2,9 persen sampai 3,1 persen, tidak ditandai dengan perdagangan internasional yang pulih.

"Pertumbuhan sama sekali tidak diikuti oleh pertumbuhan perdagangan internasional, ekspor-impor masih mengalami pertumbuhan negatif. Inilah yang kemudian menimbulkan banyak pertanyaan apakah telah terjadi perubahan industrialisasi di dunia sehingga mempengaruhi ekspor-impor antarnegara," ucap dia.

Satu dekade yang lalu, tuturnya, perekonomian dunia menikmati manfaat dari fenomena rantai nilai global (global value chain) yang mampu memberikan stimulus ekspor dan impor antarnegara.

Fenomena tersebut menunjukkan kondisi dimana satu perusahaan, misalnya telepon seluler, yang komponen-komponennya berasal dari berbagai negara sehingga mampu menimbulkan lalu lintas impor dan ekspor yang hanya dipicu oleh satu komoditas.

Sekarang, lanjut Sri, efek dari fenomena rantai nilai global diperkirakan sudah mencapai kejenuhan, dan kemungkinan manfaat yang sama dapat kembali dipicu apabila muncul revolusi industri baru, seperti misalnya teknologi robotik atau kecerdasan buatan (artificial intelligence).

"Selama teknologi masih lama, dunia akan stagnan dengan ekspor-impor yang tidak berkembang," tandas Sri.