Produk Turunan Obligasi Akan Diminati Investor

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pada bulan Desember nanti, Bursa Efek Indonesia akan meluncurkan produk derivatif berbasis surat utang. Obligasi ini sangat di harapkan karena memiliki dasar obligasi benchmark 5 tahun dan 10 tahun.

"Bila hal ini juga di dorong oleh sosialisasi dari Bursa Efek Indonesia, tentu obligasi derivatif ini akan dilirik oleh para pelaku pasar dan investor serta mampu meningkatkan kapitalisasi pasar modal," jelas Kepala Pendapatan Tetap PT Indomitra Securities, Maximilianus Nicodemus, kepada Pasardana.id, Kamis (11/8/2016).

Ditambahkan, diluncurkannya Instrumen investasi berbasis obligasi ini tidak lepas dari tingginya nilai emisi obligasi dibandingkan emisi saham dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Sejak awal tahun, total emisi obligasi dan sukuk korporasi yang sudah tercatat sepanjang tahun 2016 adalah 44 Emisi dari 35 Emiten senilai Rp57,81 triliun. Nilai ini hampir menyamai emisi tahun lalu Rp62,65 triliun.

Jumlah emisi akan bertambah banyak memasuki periode semester dua ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengemukakan bahwa jumlah nilai emisi penerbitan surat utang atau obligasi mendominasi "pipeline" penggalangan dana melalui pasar modal pada awal semester dua ini.

"Di semester dua ini penggalangan dana melalui pasar modal itu ada sekitar Rp15 triliun. Dari jumlah itu kebanyakan obligasi," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida di Jakarta, Selasa lalu.

Menurut dia, nilai emisi itu berpotensi bertambah menjelang batas akhir deklarasi periode pertama pada September dan periode kedua pada Desember. Hal itu dikarenakan pemberlakuan tarif tebusan relatif rendah sehingga akan mendorong dana repatriasi masuk ke dalam negeri.

"Lihat nanti di September dan Desember, nilai emisi akan meningkat jauh dari 'pipeline' yang ada saat ini. Nanti akan banyak 'demand' produk baru," katanya.

Nurhaida juga mengemukakan bahwa per 5 Agustus 2016 nilai emisi penggalangan dana melalui pasar modal mencapai sekitar Rp99 triliun. Ke depan, jumlah itu berpotensi meningkat karena adanya sentimen positif dari dalam negeri terutama dengan adanya program amnesti pajak.

Di sisi lain, lanjut dia, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga akan gencar meluncurkan program-programnya, terutama dalam mengembangkan infrastruktur.

"Kondisi itu tentu memerlukan pembiayaan. Kalau BUMN menerbitkan obligasi, itu juga bagian dari penggalangan di pasar modal," ujarnya.