Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (04/9/2026): Momentum Bullish Masih Kuat

Oleh: Ria

04 September 2026, 09:15
ANALIS MARKET (04/9/2026): Momentum Bullish Masih Kuat

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup menguat signifikan pada perdagangan hari Kamis (03/9), didorong oleh reli saham sektor teknologi dan perangkat lunak setelah sempat mengalami volatilitas dalam beberapa sesi sebelumnya.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 1,18% menjadi 53.686, S&P 500 menguat 1,06% menjadi 7.748, sementara Nasdaq Composite melonjak 1,40% menjadi 26.584.

Reli saham teknologi dipimpin oleh Snowflake yang melonjak lebih dari 16% setelah menaikkan proyeksi pendapatan produknya, sementara Nvidia juga menguat usai mengonfirmasi rencana akuisisi platform AI sumber terbuka (open-source) Hugging Face senilai hampir US$13 miliar.

Sebaliknya, saham Broadcom turun 2,7% setelah memberikan panduan pendapatan kuartal berjalan yang berada di bawah ekspektasi pasar.

SENTIMEN PASAR: Sentimen investor membaik setelah pasar kembali yakin bahwa kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan bulan September belum menjadi suatu kepastian. Pernyataan dari Christopher Waller menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga ke kisaran 50%, sehingga meredakan tekanan pada pasar saham. Fokus investor kini beralih ke laporan nonfarm payrolls AS untuk bulan Agustus, yang akan menjadi indikator penting dalam menilai ketahanan pasar tenaga kerja. Kombinasi data ketenagakerjaan dan inflasi mendatang akan menjadi katalis utama dalam menentukan arah ekspektasi kebijakan moneter dan pergerakan pasar global dalam jangka pendek.

GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap tinggi setelah Iran dilaporkan melancarkan serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal terhadap sejumlah fasilitas militer AS di Kuwait dan wilayah Teluk. Eskalasi baru ini memicu kekhawatiran mengenai keamanan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia. Eskalasi tersebut menjaga risiko gangguan pasokan energi global tetap tinggi dan berpotensi mempertahankan volatilitas di pasar minyak, sekaligus meningkatkan permintaan terhadap aset safe-haven.

REGULASI & KEBIJAKAN: Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan bahwa ia cenderung mendukung kebijakan untuk mempertahankan suku bunga pada tingkat saat ini, apabila data inflasi yang akan dirilis dalam beberapa hari mendatang terus menunjukkan tren disinflasi. Waller menilai inflasi masih berada di atas target 2% The Fed, meskipun tekanan harga mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Kendati demikian, jika data inflasi kembali meningkat secara signifikan, ia tetap membuka kemungkinan untuk mendukung kenaikan suku bunga. Dengan demikian, keputusan The Fed dalam pertemuan bulan September akan sangat bergantung pada perkembangan data inflasi terkini.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun turun ke kisaran 4,76% setelah sempat naik mendekati 4,81% di awal pekan, sementara imbal hasil tenor 2 tahun turun ke kisaran 4,33%–4,35%. Penurunan imbal hasil ini membantu meredakan tekanan terhadap valuasi saham, khususnya di sektor teknologi. Di pasar valuta asing, Yen Jepang menguat tajam, melampaui level JPY157 per Dolar AS di tengah spekulasi mengenai intervensi oleh otoritas Jepang serta ekspektasi bahwa Bank of Japan akan terus memperketat kebijakan moneternya. Sementara itu, imbal hasil JGB (obligasi pemerintah Jepang) tenor 10 tahun turun ke kisaran 2,96% setelah lelang obligasi pemerintah Jepang tenor 30 tahun yang sukses membantu menenangkan pasar obligasi.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa ditutup menguat pada hari Kamis. Indeks FTSE 100 Inggris naik sekitar 0,7% ke level 10.832, didukung oleh stabilisasi pasar obligasi dan penguatan saham-saham yang terkait dengan komoditas. Indeks DAX 40 Jerman menguat 0,6% ke level 26.003, menghentikan tren pelemahan selama tiga sesi berturut-turut, sementara indeks CAC 40 Prancis naik tipis 0,1% ke level 8.286. Indeks FTSE MIB Italia menguat 0,8% ke level 52.245, sedangkan indeks STOXX Europe 600 naik 0,49% ke level 649,10.

-Pasar saham Asia bergerak bervariasi. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,17% ke level 64.214 akibat penguatan Yen, meskipun indeks Topix naik 0,5% ke level 4.102. Indeks Shanghai Composite bergerak relatif datar di kisaran 3.942, sementara indeks Shenzhen Component naik 0,1% ke level 13.625,1 setelah data PMI memperkuat tanda-tanda membaiknya momentum ekonomi Tiongkok. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,4% ke level 25.213 akibat aksi ambil untung, sementara indeks KOSPI Korea Selatan naik 0,26% ke level 6.579. Indeks Sensex India melemah 0,6% ke level 76.153, melanjutkan penurunannya selama empat sesi berturut-turut. Pasar Malaysia menguat 0,37% ke level 1.715, sedangkan pasar Singapura naik sekitar 0,6% dan mencatatkan rekor tertinggi baru.

KOMODITAS: Pergerakan komoditas didominasi oleh kenaikan harga logam mulia dan harga energi yang masih tinggi. Harga emas melonjak sekitar 2,06% menjadi US$4.478/oz, didukung oleh pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury). Harga minyak tetap berada di level tinggi, dengan minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$95–96/barel dan WTI di kisaran US$91–92/barel. Harga tembaga naik 1,31% menjadi sekitar US$6,58/lb, sementara harga timah turun 0,73% menjadi US$54.232/ton. Harga nikel kembali naik ke kisaran US$16.930/ton di tengah kekhawatiran mengenai potensi pemangkasan produksi di pusat pengolahan nikel Indonesia. Harga batu bara terus menguat di atas US$145/ton, mencapai level tertinggi dalam sekitar sebelas minggu. CPO Malaysia menguat ke arah MYR4.990/ton.

AGENDA HARI INI:

-Amerika Serikat (AS): Data Non-Farm Payrolls dan Tingkat Pengangguran bulan Agustus.

-Kanada (CA): Tingkat Pengangguran dan Ivey PMI bulan Agustus.

INDONESIA: Pemerintah membuka kemungkinan untuk mengevaluasi dan menyesuaikan ambang batas omzet tahunan sebesar Rp500 juta yang saat ini menjadi batas pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) bagi pelaku UMKM. Purbaya Yudhi Sadewa menilai ambang batas tersebut relatif masih rendah, sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi ekonomi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat UMKM dan menjaga ketahanan kelas menengah dengan memberikan insentif yang memungkinkan usaha kecil tumbuh lebih cepat. Dengan ruang tumbuh yang lebih luas sebelum memasuki kewajiban pajak penuh, kebijakan ini diharapkan dapat mendorong ekspansi bisnis, memacu aktivitas ekonomi, dan memperkuat kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional.

-Selain itu, pemerintah menyoroti tekanan terhadap kelas menengah akibat pertumbuhan ekonomi yang belum cukup tinggi untuk mendorong industrialisasi dan menciptakan lapangan kerja formal secara optimal. Purbaya menargetkan pertumbuhan ekonomi untuk secara bertahap didorong ke atas 6% hingga sekitar 6,5%, sejalan dengan target pertumbuhan jangka panjang sebesar 8%. Pemerintah juga akan kembali memperkuat industrialisasi, khususnya sektor manufaktur, guna mendorong penciptaan lapangan kerja formal dan pendapatan masyarakat. Berbagai kebijakan ini diharapkan mulai memberikan dampak dalam satu hingga dua tahun ke depan, sehingga kelas menengah dapat tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan kembali.

-IHSG ditutup pada level 6.667,89 (+1,09%). Sepanjang perdagangan hari Kamis (03/09), IHSG bergerak dalam rentang 6.614,71 – 6.681,84. Investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp1,11 triliun di Pasar Reguler. Aliran dana asing terutama masuk melalui saham BMRI, BBCA, CPIN, ANTM, dan ADRO, sementara tekanan jual asing terbesar tercatat pada saham BULL, BUMI, PTRO, KOTA, dan BRMS. Di pasar valuta asing, Rupiah diperdagangkan lebih kuat di bawah level Rp17.700 per Dolar AS pada hari Kamis, melanjutkan penguatan selama dua sesi berturut-turut di tengah pelemahan Indeks Dolar AS. Tekanan terhadap dolar juga dipicu oleh penguatan tajam yen Jepang di tengah spekulasi mengenai potensi intervensi oleh otoritas Jepang setelah munculnya tanda-tanda pemeriksaan nilai tukar (rate check).

-Secara teknikal, IHSG melanjutkan tren penguatannya. Indikator RSI (14) terus naik ke level 67, yang mengindikasikan bahwa momentum bullish masih kuat. Selama IHSG mampu bertahan di atas EMA10 pada area 6.538, peluang penguatan tetap terbuka untuk menguji area gap di level 6.723, dengan area gap berikutnya berada di kisaran level 6.787–6.858. Sebaliknya, jika terjadi aksi ambil untung (profit-taking), IHSG dapat terkoreksi menuju level support di 6.614 / 6.595 / 6.538.

“Kami menyarankan strategi untuk mempertahankan posisi (hold) atau melakukan average up secara selektif selama IHSG mampu bertahan di atas area support, namun investor perlu meningkatkan kewaspadaan jika indeks menembus level support tersebut,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (04/9).

Berita Terkini

See More