Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (09/10/2026): Buy on Weakness!

Oleh: Ria

09 Oktober 2026, 09:11
ANALIS MARKET (09/10/2026): Buy on Weakness!

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuirtas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah untuk sesi kedua berturut-turut pada hari Kamis (26/10/2008).

Indeks S&P 500 turun 0,47% menjadi 7.765,36 dan Nasdaq Composite turun 1,25% menjadi 27.193,34, sementara Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,10% menjadi 51.231,64.

Saham teknologi menjadi sumber utama tekanan setelah laporan media mengindikasikan bahwa pendapatan tahunan OpenAI lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

Kinerja ketiga indeks tersebut menunjukkan kelemahan yang terkonsentrasi pada saham teknologi, sementara saham blue-chip berkapitalisasi besar relatif lebih tangguh.

SENTIMEN PASAR: Sentimen investor cenderung defensif di tengah meningkatnya kehati-hatian terhadap valuasi saham teknologi dan keberlanjutan tren bullish pasar. King Lip dari BakerAvenue Wealth Management menilai bahwa pasar bullish belum berakhir, namun sedang menghadapi ujian akibat kombinasi kenaikan biaya pinjaman dan ketidakpastian global. Menurutnya, pertumbuhan laba perusahaan dan peningkatan produktivitas yang didorong oleh AI masih dapat menopang pasar, meskipun volatilitas diperkirakan akan meningkat. Investor akan memantau keberlanjutan pertumbuhan laba, perkembangan di sektor AI, serta kemampuan pasar dalam menyerap tekanan tanpa memicu koreksi yang lebih luas.

GEOPOLITIK: Ketegangan AS-Iran kembali meningkat setelah Iran mengintensifkan serangan terhadap kapal tanker di dalam dan sekitar Selat Hormuz. Sembilan kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran selama sepekan terakhir, sementara arus minyak melalui jalur tersebut turun menjadi sekitar 9,5 juta barel per hari, atau 30% di bawah tingkat normal sebelum perang. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu bulan November, meskipun laporan sebelumnya mengindikasikan pemerintahannya sedang mempertimbangkan serangan lanjutan dalam beberapa minggu mendatang. Di AS, Badai Isaias juga mengancam fasilitas produksi minyak lepas pantai di Teluk Meksiko, yang mendorong perusahaan energi untuk menghentikan produksi harian sekitar 500.000 barel.

REGULASI & KEBIJAKAN: Risalah pertemuan Federal Reserve bulan September menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat memperkirakan satu kenaikan tambahan suku bunga federal funds pada tahun 2026, meskipun waktunya masih belum pasti. Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target, namun ia menekankan pentingnya fleksibilitas dalam menentukan laju penyesuaian. Pasar memperhitungkan probabilitas sekitar 78% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada bulan Oktober, sementara peluang kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) pada bulan Desember berada di kisaran 69%. Di Jepang, para investor juga memantau prospek pengetatan kebijakan Bank of Japan (BOJ) setelah imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun dari level tertinggi dalam 30 tahun.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun diperdagangkan di kisaran 5,3% setelah sempat mencapai 5,35%, level tertinggi dalam 24 tahun. Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 2 tahun turun 1 bps menjadi 4,76% pada tanggal 8 Oktober. Indeks Dolar AS (DXY) relatif stabil di angka 102,2, sedangkan Yen Jepang bertahan di kisaran JPY158 per Dolar AS. Surplus transaksi berjalan Jepang meningkat menjadi JPY4,062 triliun pada bulan Agustus, melampaui perkiraan sebesar JPY3,194 triliun. Di pasar obligasi Jepang, imbal hasil tenor 2 tahun turun menjadi 1,94% dan imbal hasil tenor 10 tahun diperdagangkan di bawah 3,1%. Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Eropa terus menekan mata uang Euro.

PASAR EROPA & ASIA: Saham-saham Eropa sebagian besar melemah. Indeks DAX Jerman turun 1,2% menjadi 24.807, level terendah dalam hampir dua bulan. Indeks CAC 40 Prancis terkoreksi 0,5% ke level 7.730—posisi terendah dalam tujuh bulan—sementara indeks FTSE MIB Italia turun 1,4% ke level 49.298, level terendah dalam lebih dari empat bulan. Indeks FTSE 100 Inggris ditutup sedikit lebih rendah di angka 10.442, sedangkan indeks STOXX Europe 600 turun 0,75% ke posisi 625,52. Saham-saham Asia sebagian besar bergerak melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,42% ke level 69.042 dan Topix turun 1,51% ke level 4.091. Indeks Shanghai Composite terkoreksi 0,79% ke level 3.811,9, sementara Shenzhen Component turun 2,07% ke level 12.620,9. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,4% ke level 23.786, sedangkan KOSPI Korea Selatan anjlok 2,62% ke level 6.626, melanjutkan penurunan selama tiga sesi berturut-turut. Indeks KLCI Malaysia melemah 0,7% ke level 1.601, sementara saham-saham Singapura turun 3,5% ke level 5.413. Saham-saham India juga melanjutkan penurunannya, mencapai level terendah dalam 32 bulan.

KOMODITAS: Harga minyak mentah Brent naik 3,62% menjadi di atas US$103/barel, sementara WTI menguat 3,64% ke kisaran US$91,49/barel. Emas naik 0,52% menjadi US$4.133/ons, sedangkan tembaga bergerak menuju US$656,85/lb dengan perubahan harga tercatat sebesar -1,16%. Minyak kelapa sawit Malaysia melonjak 3,20% menjadi di atas MYR4.448/ton, didorong oleh pelemahan ringgit dan penguatan harga minyak mentah. Harga timah turun 5,22% menjadi US$51.447/ton pada 8 Oktober. Sebaliknya, nikel turun 1,16% ke kisaran US$15.553/ton akibat pasokan yang melimpah, termasuk peningkatan pengiriman bijih nikel Filipina ke Indonesia. Kontrak berjangka batu bara tercatat di atas US$149/ton, dengan perubahan -0,53%, setelah pengadilan Australia menolak banding terkait rencana perluasan tambang di New South Wales.

AGENDA HARI INI:

-Indonesia (ID): Penjualan Ritel bulan Agustus.

-Kanada (CA): Tingkat Pengangguran bulan September.

-Amerika Serikat (AS): Sentimen Konsumen Michigan (data awal) bulan Oktober.

INDONESIA: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencatat realisasi restitusi pajak mencapai Rp198,71 triliun hingga September 2026, turun 38,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp323,92 triliun. Restitusi didominasi oleh PPN dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar Rp137,79 triliun serta Pajak Penghasilan (PPh) sebesar Rp59,08 triliun. Penurunan ini dipandang berpotensi mengindikasikan adanya penahanan restitusi pajak yang dapat berdampak pada dunia usaha dan perekonomian. Selain itu, terdapat sisa kewajiban pengembalian dana (refund) sebesar Rp70,25 triliun per akhir tahun 2025 yang belum dicairkan, sehingga penundaan pembayaran hingga tahun 2027 dapat menambah beban pada APBN tahun 2027. Sementara itu, realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.010,6 triliun pada semester I-2026, menyerap 1,448 juta tenaga kerja dari proyek investasi dalam negeri (PMDN) dan luar negeri (PMA). Data BKPM menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja dari investasi langsung telah tumbuh rata-rata sebesar 22,4% selama lima tahun terakhir. Tren ini mencerminkan kontribusi investasi terhadap penciptaan lapangan kerja dan aktivitas ekonomi domestik, di mana keberlanjutan realisasi investasi menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.

-IHSG ditutup turun 1,88% ke level 6.031,28 pada hari Kamis (08/10), disertai aksi jual oleh investor asing di pasar reguler sebesar Rp848,28 miliar, sehingga akumulasi jual bersih (net sell) sejak awal tahun (YTD) mencapai Rp111,13 triliun. Aliran dana asing tercatat masuk ke saham ULTJ, ASII, DSSA, MEDC, dan EMAS, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada saham BBRI, BMRI, AMMN, ANTM, dan TLKM. Dari sisi makro, nilai tukar Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.900 per Dolar AS, tertekan oleh sikap hawkish The Fed dan ketegangan di Timur Tengah yang meningkatkan risiko kenaikan harga minyak serta biaya impor. Keyakinan konsumen domestik juga sedikit melemah akibat tingginya harga pangan dan harga BBM nonsubsidi.

-Secara teknikal, koreksi IHSG berlanjut, dengan indikator RSI (14) turun ke level 35,5. IHSG berpotensi menguji level support di 5.979, dengan support berikutnya di kisaran 5.898–5.887 jika level tersebut tertembus. Sebaliknya, jika menguat, IHSG berpeluang menguji level resistance di kisaran 6.095–6.120.

“Kami merekomendasikan strategi buy-on-weakness sembari terus menantikan munculnya kembali sinyal beli yang terkonfirmasi,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (09/10).

Berita Terkini

See More