Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (18/9/2026): IHSG Masih Cenderung Bearish

Oleh: Ria

18 September 2026, 09:36
ANALIS MARKET (18/9/2026): IHSG Masih Cenderung Bearish

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup menguat pada perdagangan hari Kamis (17/09/26), mencatatkan kinerja harian terbaiknya dalam lebih dari sebulan, didukung oleh penurunan harga minyak dan reli saham teknologi di tengah menguatnya posisi US Treasury.

Indeks S&P 500 naik 1,14% ke level 7.637,76, Nasdaq Composite menguat 1,69% ke 26.418,30, sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,61% ke 51.778,04.

Kenaikan terutama terlihat pada sektor teknologi seiring investor mulai kembali meningkatkan eksposur mereka terhadap saham teknologi setelah volatilitas yang dipicu oleh keputusan The Fed.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar membaik karena investor mulai mengesampingkan kekhawatiran pasca-keputusan The Fed dan kembali fokus pada penurunan imbal hasil obligasi jangka panjang. Reli saham teknologi juga memberikan dukungan, yang mengindikasikan bahwa sektor ini kembali menjadi salah satu penggerak utama pasar. Investor juga menilai bahwa kenaikan suku bunga yang sebelumnya telah diantisipasi telah mengurangi ketidakpastian jangka pendek mengenai arah kebijakan moneter.

GEOPOLITIK: Risiko geopolitik di Timur Tengah mulai mereda di tengah berkurangnya kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dan meningkatnya harapan terhadap upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik. Arab Saudi menargetkan pemulihan sekitar separuh kapasitas Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline) dalam beberapa hari, dengan perkiraan operasional penuh akan kembali berjalan dalam enam minggu. Arab Saudi juga mengalihkan sebagian ekspor minyaknya melalui Selat Hormuz untuk mengurangi risiko gangguan. Tiongkok dilaporkan mendesak Iran untuk membantu mengendalikan kelompok Houthi menyusul permintaan dari Riyadh.

REGULASI & KEBIJAKAN: Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%–4,00% dari sebelumnya 3,50%–3,75% melalui keputusan bulat FOMC. Proyeksi terbaru menunjukkan setidaknya 12 anggota FOMC masih melihat adanya ruang untuk satu kali kenaikan suku bunga lagi tahun ini. Pejabat The Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan belum menunjukkan perbaikan yang berarti, sehingga stabilitas harga tetap menjadi fokus utama kebijakan moneter.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di atas level 100, mendekati level tertinggi dalam tujuh minggu. Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun turun 7,1 bps menjadi 4,933%, yield tenor 30 tahun turun 6,3 bps menjadi 5,285%, sementara yield tenor 2 tahun turun 5,7 bps menjadi 4,671%. Di Jepang, yield JGB tenor 10 tahun bertahan di bawah 3%, sedangkan yield tenor 2 tahun naik 2 bps menjadi 1,87%. Yen Jepang diperdagangkan di kisaran JPY156,1/USD setelah melemah selama tiga sesi berturut-turut.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa ditutup menguat. Indeks FTSE 100 Inggris naik 1,2% ke atas level 10.815, DAX Jerman menguat 0,7% menjadi 25.717, CAC 40 Prancis naik 0,6% menjadi 8.188, FTSE MIB Italia menguat 0,8% menjadi 52.386, sementara STOXX Europe 600 naik 0,86% menjadi 642,60. -Pasar Asia bergerak variatif. Nikkei 225 Jepang naik 0,33% menjadi 64.136 dan Topix menguat 0,8% menjadi 4.094. Sebaliknya, Shanghai Composite turun 0,41% menjadi 3.875,6 dan Shenzhen Component melemah 0,33% menjadi 13.409,9. Indeks BSE Sensex India bergerak relatif datar di level 74.314,6, FKLCI Malaysia turun 0,27% ke 1.675, STI Singapura naik 0,45% ke 5.661, Hang Seng Hong Kong turun 0,4% ke 24.604, sementara KOSPI Korea Selatan turun tipis 0,04% ke 6.715.

KOMODITAS: Harga komoditas cenderung bervariasi, dengan harga energi mulai mengalami koreksi. Harga minyak Brent turun 0,9% menjadi US$103,88/barel dan minyak mentah melemah 0,51% menjadi sekitar US$101/barel, melanjutkan penurunan selama tiga sesi berturut-turut. Harga batu bara relatif stabil di kisaran US$145/ton dan masih berada di dekat level tertinggi dalam tiga bulan. Di sektor logam, harga emas naik 1,82% menjadi sekitar US$4.341/oz, tembaga menguat 2,41% menjadi US$6,58/lb, dan nikel naik 0,71% menjadi sekitar US$16.265/ton. Sementara itu, harga CPO Malaysia turun 1,39% menjadi MYR4.816/ton dan harga timah berada di kisaran US$52.424/ton.

AGENDA HARI INI:

-Jepang (JP): Keputusan Suku Bunga BoJ.

-Inggris (GB): Penjualan Ritel Agustus (MoM).

INDONESIA: DPR RI membuka ruang untuk mengevaluasi batas defisit anggaran negara sebesar 3% dari PDB dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Keuangan Negara. Ketua Komisi XI, Mukhamad Misbakhun, berpendapat bahwa batas tersebut tidak perlu bersifat mutlak jika perekonomian membutuhkan ekspansi fiskal untuk mendorong pertumbuhan dan mempercepat keluarnya Indonesia dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap). Ia juga menilai pembahasan fiskal sebaiknya tidak hanya berfokus pada defisit, tetapi juga pada rendahnya pendapatan negara dibandingkan dengan kebutuhan belanja.

-Selain itu, pemerintah telah mulai membahas RUU Minyak dan Gas Bumi bersama DPR setelah Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Surat Presiden No. R-45/Pres/09/2026, yang menugaskan lima kementerian untuk mewakili pemerintah. Revisi regulasi ini bertujuan untuk memperbaiki tata kelola hulu-hilir, meningkatkan kepastian hukum, dan mendongkrak lifting minyak nasional, termasuk melalui rencana pembentukan Badan Usaha Khusus (BUK) Migas.

-IHSG ditutup menguat 0,40% di level 6.462,43 pada perdagangan hari Kamis (17/9). Investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp152,69 miliar di pasar reguler, meskipun secara year-to-date (YTD) mereka masih mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp99,55 triliun; aliran dana masuk terbesar terjadi pada saham BMRI, SINI, ERAA, DSSA, dan CUAN, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada AMMN, TLKM, PACK, INCO, dan BBCA. Sementara itu, nilai tukar Rupiah melemah mendekati Rp17.750/USD, melanjutkan pelemahan selama enam sesi berturut-turut, di tengah penguatan Dolar AS ke level tertinggi dalam tujuh minggu menyusul kenaikan suku bunga The Fed dan sinyal pengetatan kebijakan lebih lanjut, sembari pasar domestik menantikan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pekan depan.

-Secara teknikal, rebound IHSG masih berada di bawah EMA10 (6.523) dan EMA20 (6.511), namun tetap bertahan di atas EMA50 (6.431) dan sedikit di atas level Fibonacci Retracement (FR) 38,20% di angka 6.452. Posisi ini mengindikasikan bahwa momentum jangka pendek cenderung bearish, meskipun tren jangka menengah relatif terjaga selama IHSG mampu bertahan di atas EMA50. Indikator RSI (14) berada di level 48,29—kembali di bawah level 50—yang menandakan momentum bullish mulai melemah. Jika IHSG gagal bertahan di atas level support 6.431–6.377, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju level 6.290 (FR 61,80%). Sebaliknya, jika terjadi rebound, IHSG perlu kembali menembus kisaran 6.511–6.523, diikuti oleh level 6.552–6.591 sebagai resistance terdekat, sebelum menguji area 6.723.

“Kami menyarankan investor untuk bersikap wait and see sembari memantau kemampuan IHSG bertahan di atas area support utama 6.431–6.377. Investor yang telah mencetak keuntungan dapat menerapkan strategi trailing stop atau melakukan realisasi keuntungan secara bertahap, sementara akumulasi pembelian sebaiknya dilakukan secara selektif setelah muncul konfirmasi rebound dan IHSG berhasil kembali menembus area resistance terdekat,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (18/9).

Berita Terkini

See More