ANALIS MARKET (17/9/2026): IHSG Cenderung Bearish
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Rabu (16/09/26).
Indeks S&P 500 turun 0,45% ke level 7.551,81, Nasdaq Composite terkoreksi tipis sebesar 0,01% ke 25.978,42, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 1,21% ke 51.461,90.
Pergerakan indeks berbalik melemah setelah sempat menguat di awal sesi perdagangan, dengan Dow Jones mencatatkan penurunan terdalam di antara indeks-indeks utama.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung negatif seiring investor mulai memperhitungkan kemungkinan berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter AS. Pasar juga memantau tekanan pada sektor teknologi setelah muncul kekhawatiran terkait keamanan dan pengembangan kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, saham Intel menguat sekitar 4% setelah muncul laporan bahwa SK Hynix sedang berdiskusi dengan Intel mengenai produksi cip di AS, meskipun belum ada rencana yang dipastikan.
GEOPOLITIK: Risiko geopolitik masih berpusat di Timur Tengah, khususnya terkait potensi gangguan terhadap pasokan minyak dan jalur distribusinya. Pipa minyak East-West milik Arab Saudi sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan pesawat nirawak (drone) oleh kelompok Houthi yang didukung Iran, sementara konflik tersebut juga meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran Bab el-Mandeb. Namun, kekhawatiran pasokan mulai mereda setelah Arab Saudi dilaporkan menawarkan tambahan volume minyak kepada kilang-kilang di Asia dan berupaya memulihkan kapasitas pipanya secara bertahap.
REGULASI & KEBIJAKAN: Federal Reserve menaikkan suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00% dari sebelumnya 3,50%-3,75%. Dalam proyeksi ekonomi terbarunya, tingkat suku bunga median pada akhir tahun 2026 berada di angka 4,1%, sementara setidaknya 12 anggota FOMC memperkirakan akan ada satu kali lagi kenaikan suku bunga pada tahun ini. Pejabat The Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa inflasi tetap menjadi perhatian utama dan kembali menekankan pendekatan yang bergantung pada data (data-dependent) dibandingkan panduan ke depan (forward guidance).
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Penguatan Dolar AS berlanjut setelah keputusan The Fed, dengan indeks DXY kembali menembus level 100 untuk pertama kalinya dalam hampir tujuh minggu. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun naik 2,3 bps menjadi 5,012%—level tertinggi sejak April 2007—sementara imbal hasil tenor 2 tahun naik 7 bps menjadi 4,74%. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah (JGB) tenor 10 tahun menembus angka 3%—level tertinggi sejak September 1996—sementara Yen melemah melampaui level JPY155 per Dolar AS.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa ditutup menguat. Indeks FTSE 100 Inggris naik 0,3% seiring meredanya harga minyak, meskipun inflasi Inggris kembali meningkat. Indeks DAX Jerman naik sekitar 0,5% menjadi 25.559, memutus tren penurunan selama dua sesi sebelumnya. Indeks CAC 40 Prancis menguat 0,6% menjadi 8.141, sementara indeks FTSE MIB Italia naik 1% menjadi 51.969 di tengah penurunan imbal hasil obligasi dan meredanya tekanan harga minyak. Indeks STOXX Europe 600 naik 0,46% menjadi 637,10.
-Pasar Asia bergerak variatif. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,69% menjadi 63.923 dan Topix menguat 0,61% menjadi 4.062, didukung oleh penurunan harga minyak. Indeks Shanghai Composite naik 0,71% menjadi 3.891,6, sementara Shenzhen Component menguat 1,26% menjadi 13.454,7 di tengah tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan perdagangan AS-Tiongkok. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,2% menjadi 24.713, dipimpin oleh saham-saham teknologi. Indeks Sensex India naik sekitar 0,5% menjadi 74.336,45. Indeks KOSPI Korea Selatan naik 1,37% menjadi 6.718, menghentikan penurunan selama empat hari berturut-turut sebelumnya, didorong oleh saham-saham sektor semikonduktor.
KOMODITAS: Harga komoditas energi mulai terkoreksi setelah sebelumnya melonjak akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Harga minyak Brent turun 3,02% menjadi sekitar US$105,46 per barel, sementara WTI turun 3,71% menjadi sekitar US$102 per barel, menyusul laporan bahwa Arab Saudi berencana memulihkan sekitar separuh kapasitas Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline) dalam beberapa hari dan kembali ke kapasitas penuh dalam enam minggu. Harga batu bara bertahan di kisaran US$144,75 per ton, didukung oleh kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah. Harga emas bergerak relatif stabil di kisaran US$4.269,7 per ons saat pasar mencerna keputusan The Fed. Harga tembaga bertahan di bawah US$6,367 per pon, sementara timah naik 0,17% menjadi sekitar US$51.966 per ton dan nikel menguat 1,32% menjadi sekitar US$16.150 per ton. Harga CPO naik 0,70% menjadi MYR4.884 per ton.
AGENDA HARI INI:
-Inggris Raya (GB): Keputusan Suku Bunga BoE.
-Amerika Serikat (AS): Izin Mendirikan Bangunan (Building Permits) dan Pembangunan Perumahan Baru (Housing Starts).
INDONESIA: Fitch mempertahankan peringkat Indonesia Investment Authority (INA) pada level BBB dengan Prospek Negatif—sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia—serta AAA (idn) dengan Prospek Stabil pada skala nasional. Fitch menilai dukungan pemerintah terhadap INA sebagai "Hampir Pasti" (Virtually Certain) dengan Skor Dukungan 45/60, yang mencerminkan keterkaitan operasional dan finansial yang kuat antara INA dan pemerintah. Prospek Negatif ini mengikuti prospek sovereign Indonesia, sementara peringkat nasional tetap stabil.
-Selain itu, Indonesia dan Tiongkok memperkuat kerja sama investasi melalui inisiatif Two Countries Twin Parks (TCTP), yang berfokus pada pengembangan kawasan industri, integrasi rantai pasok, alih teknologi, dan peningkatan nilai tambah. Sebuah MoU baru mencatat komitmen sekitar RMB19,4 miliar (atau Rp51 triliun), sehingga total komitmen TCTP mencapai sekitar Rp88,1 triliun. Pemerintah akan mendorong percepatan implementasi dan realisasi investasi, khususnya pada proyek-proyek kawasan industri strategis di Indonesia.
-IHSG ditutup turun 0,38% di level 6.436,85 pada perdagangan hari Rabu (16/09/26). Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp592,05 miliar di pasar reguler, menjadikan akumulasi jual bersih sejak awal tahun (YTD) sebesar Rp99,70 triliun. Arus masuk dana asing terutama tertuju pada BRMS, ANTM, SINI, INCO, dan MDKA, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada BMRI, BUMI, BBCA, ADRO, dan ITMG. Di pasar valuta asing, Rupiah melemah melampaui level Rp17.700 per Dolar AS, melanjutkan penurunannya selama lima sesi berturut-turut, di tengah penguatan Indeks Dolar AS ke level tertinggi dalam sebulan.
-Secara teknikal, IHSG kembali terkoreksi dan ditutup di level 6.436,85—di bawah EMA10 (6.537) dan EMA20 (6.516)—serta menembus ke bawah level Fibonacci retracement 38,20% di angka 6.451. Namun, IHSG masih bertahan sedikit di atas EMA50 (6.430), sehingga tekanan koreksi belum sepenuhnya mengubah tren jangka menengah. Posisi ini mengindikasikan momentum jangka pendek cenderung bearish, dengan area 6.430–6.377 menjadi support penting yang perlu dipertahankan. Indikator RSI (14) turun ke level 46,23, kembali ke bawah level 50, yang menandakan momentum bullish mulai melemah. Jika IHSG gagal bertahan di atas level 6.430–6.377, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju level 6.290 (FR 61,80%). Sebaliknya, jika terjadi rebound, IHSG perlu kembali menembus kisaran 6.451–6.516, diikuti oleh level 6.537–6.552 sebagai resistance terdekat, sebelum menguji area 6.723.
“Kami menyarankan investor untuk bersikap wait and see sembari memantau kemampuan IHSG bertahan di atas area support utama 6.430–6.377. Investor yang telah mencetak keuntungan dapat menerapkan strategi trailing stop atau melakukan aksi ambil untung (profit-taking) secara bertahap, sementara akumulasi pembelian sebaiknya dilakukan secara selektif setelah muncul konfirmasi rebound dan IHSG kembali menembus area resistance terdekat,” beber analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (17/9).




