Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|BNI Sekuritas

ANALIS MARKET (18/9/2026): IHSG Berpotensi Masih Bergerak Sideways

Oleh: Ria

18 September 2026, 07:39
ANALIS MARKET (18/9/2026): IHSG Berpotensi Masih Bergerak Sideways

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian BNI Sekuritas menyebutkan, Indeks utama Wall Street kembali bangkit dan ditutup menguat pada perdagangan Kamis (17/9) seiring meredanya harga minyak, turunnya yield obligasi AS dan data tenaga kerja yang solid menopang pasar melawan sentimen kenaikan suku bunga The Fed. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,62%; S&P 500 menguat 1,14%; dan Nasdaq Composite melesat 1,69% menjadi 26.418,30. Sektor teknologi memimpin kenaikan di antara 11 sektor utama S&P 500. Sektor keuangan dan barang kebutuhan pokok konsumen menjadi dua sektor yang mencatat penurunan tipis. Saham perusahaan tambang emas dan perak serta produsen chip mencatat kinerja yang sangat baik, dengan kenaikan masing-masing lebih dari 3%. Saham perbankan yang sensitif terhadap suku bunga kembali stabil setelah mengalami penurunan 2,3% pada hari Rabu. Harga minyak mentah turun, menyentuh level terendah dalam satu minggu setelah kekhawatiran gangguan pasokan mereda berkat laporan mengenai minyak Arab Saudi yang dialirkan melalui Oman. Penurunan harga minyak sempat tertahan karena situasi Timur Tengah yang masih tegang. Harga energi telah melonjak sejak dimulainya konflik AS-Israel melawan Iran, yang turut memicu tekanan inflasi global yang lebih luas. Pada hari Rabu, The Fed sepakat untuk menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak Jul-23. Pernyataan bank sentral tersebut menyebutkan bahwa Fed berkomitmen untuk mewujudkan kembali lebih cepat ke target inflasi 2%, yang membuka jalan bagi pengetatan kebijakan lebih lanjut tahun ini.

Di sisi lain, Saham-saham Asia beragam dengan mayoritas naik pada Kamis (17/9), setelah The Fed menaikkan suku bunga pada hari Rabu (18/9), dan mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut. Kenaikan suku bunga The Fed turut mendorong yield obligasi pemerintah AS tenor pendek dan mengangkat US$ ke level tertinggi. Selain itu, The Fed berpotensi menaikkan suku bunga satu kali lagi pada tahun ini. Di Jepang, indeks Nikkei 225 menguat 0,33%; sedangkan, saham-saham unggulan China turun 0,45%; Hang Seng Hong Kong melemah 0,44%; dan KOSPI Korea Selatan melemah 0,04%. Sentimen lain disebabkan penurunan harga minyak yang dipicu laporan bahwa Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak mentah melalui Oman. Perkembangan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, ASX 200 Australia naik 0,41%; dan NZX 50 Selandia Baru menguat 0,89%. Selain itu, ekonomi Selandia Baru tumbuh 0,2% pada 2Q26 dibandingkan kuartal sebelumnya.

Sementara itu, IHSG kemarin (17/9) ditutup naik 0.4%, disertai dengan net buy asing sebesar Rp153 Miliar. Saham yang paling banyak dibeli asing adalah BMRI, ERAA, DSSA, CUAN, dan ANTM.

“IHSG berpotensi masih bergerak sideways hari ini di range 6420-6540. Diperkirakan Support IHSG: 6350-6420 dan Resist IHSG: 6500-6540,” sebut Fanny Suherman, CFP selaku Head of Retail Research BNI Sekuritas dalam riset Jumat (18/9).

Selanjutnya disebutkan beberapa saham yang bisa menjadi pilihan pelaku pasar diperdagangan hari ini, yaitu: BUMI, BBRI, TPIA, IATA, KPIG, dan MDKA.

Berikut ini trading plan-nya:

BUMI Spec Buy dengan area beli di 200-202, cutloss di bawah 198. Target dekat di 206-210.

BBRI Spec Buy dengan area beli di 3310-3330, cutloss di bawah 3300. Target dekat di 3360-3400.

TPIA Spec Buy dengan area beli di 1815-1830, cutloss di bawah 1800. Target dekat di 1865-1885.

IATA Spec Buy dengan area beli di 116, cutloss di bawah 112. Target dekat di 120-125.

KPIG Spec Buy dengan area beli di 68-70, cutloss di bawah 68. Target dekat di 72-76.

MDKA Spec Buy dengan area beli di 2830-2870, cutloss di bawah 2800. Target dekat di 2900-2940.

Disclaimer on

Berita Terkini

See More