Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (14/9/2026): Wait and See

Oleh: Ria

14 September 2026, 09:01
ANALIS MARKET (14/9/2026): Wait and See

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup menguat pada perdagangan hari Jumat (26/11/09), menghentikan penurunan selama empat sesi berturut-turut setelah kenaikan harga minyak dan imbal hasil (yield) obligasi Treasury mulai mereda.

Indeks S&P 500 naik 0,86%, Nasdaq 100 naik 0,96%, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 0,98%.

Saham sektor teknologi dan perbankan juga menguat; Alphabet naik 1,5%, Amazon 1,9%, dan JPMorgan 0,8%. AMD dan Intel masing-masing menguat 2,5% dan 2,6%, sementara Dell melonjak 11,9% hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.

Secara mingguan, S&P 500 turun 0,6%, Nasdaq melemah 0,7%, dan Dow Jones terkoreksi 426 poin.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar masih dibayangi oleh kekhawatiran inflasi setelah Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan turun menjadi 47,8 pada bulan September dari 51,7 pada bulan Agustus, jauh di bawah angka perkiraan 51,0. Penurunan ini terutama dipicu oleh kenaikan harga bensin dan ketegangan perdagangan, yang meningkatkan kekhawatiran mengenai biaya hidup. Ekspektasi inflasi konsumen untuk 12 bulan ke depan naik menjadi 4,6% dari 4,0%, sementara ekspektasi inflasi lima tahun naik tipis menjadi 3,4% dari 3,3%. Kondisi ini membuat investor bersikap hati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed pekan depan.

GEOPOLITIK: Risiko geopolitik tetap menjadi fokus utama pasar setelah konflik antara AS dan Iran memicu ketidakpastian mengenai keamanan jalur perdagangan energi di kawasan Teluk Persia. Namun, sentimen membaik sedikit setelah media pemerintah Iran melaporkan rencana pertemuan antara Teheran dan negara-negara Teluk di Oman untuk membahas masalah Selat Hormuz. Perkembangan ini membantu meredakan tekanan pada harga minyak setelah kenaikan tajam sepanjang minggu.

REGULASI & KEBIJAKAN: Fokus kebijakan global tertuju pada Federal Reserve, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga pekan depan setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga masih tinggi. Inflasi utama (headline inflation) AS mencapai 3,4% pada bulan Agustus, sementara kenaikan ekspektasi inflasi konsumen mengindikasikan bahwa tekanan harga berpotensi bertahan lebih lama. Di Jepang, kenaikan imbal hasil JGB juga mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap arah normalisasi kebijakan moneter Bank of Japan.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar (DXY) kembali menembus level 99, mencatatkan kenaikan untuk sesi ketiga berturut-turut, sementara Yen Jepang melemah melampaui level JPY154 per Dolar AS setelah sebelumnya sempat mendekati level tertinggi dalam tujuh bulan. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 4,92%, sedangkan imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun naik 4 bps menjadi 4,63% per 11 September 2026. Di Jepang, imbal hasil JGB tenor 10 tahun naik ke kisaran 2,99%, mendekati level tertinggi dalam 30 tahun, sementara imbal hasil JGB tenor 2 tahun naik 1 bp menjadi 1,84%.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa ditutup lebih tinggi setelah data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan mendukung sentimen investor. Indeks FTSE 100 naik 0,4%, DAX 40 menguat 0,8% ke level 25.557, CAC 40 naik 0,8% ke level 8.180, sementara FTSE MIB Italia melonjak 1,4% ke level 52.512. Indeks STOXX Europe 600 (EU600) berada di posisi 639,10, meskipun masih mencatatkan penurunan sebesar 3,09% selama empat minggu terakhir. •Pasar Asia sebagian besar melemah akibat tekanan dari kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi global. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,93% ke level 64.011 dan Topix melemah 0,65% ke level 4.028. Shanghai Composite turun 1,18% ke level 3.888,1, sementara Shenzhen Component terkoreksi 1,08% ke level 13.471,3. Hang Seng turun 0,6%, atau 149 poin, ke level 24.806, dan KOSPI melemah 1,76% ke level 6.910. Indeks Sensex India turun 0,2% ke level 74.872 dan FKLCI Malaysia turun 1,10% ke 1.687, sementara STI Singapura naik tipis 0,11% ke 5.696.

KOMODITAS: Harga komoditas cenderung melemah seiring investor memantau perkembangan geopolitik dan prospek pasokan. Harga minyak Brent turun 2,81% menjadi sekitar US$104/barel, sedangkan WTI terkoreksi 2,37% menjadi sekitar US$100/barel. Harga emas naik 0,76% menjadi sekitar US$4.350/oz, meskipun masih mencatatkan penurunan hampir 1% sepanjang pekan ini. Harga tembaga relatif stabil di level US$6,4695/lb setelah sempat anjlok hampir 5% pada sesi sebelumnya. Harga batu bara turun 0,84% menjadi US$146,75/ton, sementara harga CPO melemah 1,45% ke bawah level MYR4.814/ton. Harga timah turun 1,58% menjadi US$54.344/ton dan nikel terkoreksi 1,16% menjadi US$16.432/ton di tengah prospek peningkatan pasokan dari Indonesia.

AGENDA HARI INI:

-India (IN) & Kanada (CA): Tingkat Inflasi Agustus (YoY).

-Zona Euro (EA): Pidato Presiden ECB Christine Lagarde.

-Tiongkok (CN): Data Pinjaman Baru dalam Yuan bulan Agustus.

INDONESIA: Pemerintah masih menghadapi tantangan besar dalam mencapai target penerimaan pajak tahun 2026. Hingga Agustus 2026, penerimaan pajak diperkirakan mencapai Rp1.409,1 triliun, atau hanya 59,8% dari target APBN 2026, meskipun tumbuh 24,1% secara tahunan (year-on-year). Dengan demikian, sekitar 40,2% dari target tersebut masih harus dikejar dalam empat bulan terakhir. Pengamat CITA menilai target tersebut terlalu tinggi, mengingat pemerintah membutuhkan tambahan sekitar Rp440 triliun dibandingkan realisasi tahun 2025. Selain itu, potensi kekurangan penerimaan pajak diperkirakan mencapai Rp80–140 triliun jika penundaan pembayaran restitusi pajak terus berlanjut. Kondisi ini berpotensi menekan arus kas dunia usaha serta menghambat aktivitas ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

-Di sisi lain, ekspektasi pelaku usaha terhadap kondisi makroekonomi kuartal III-2026 semakin memburuk, tercermin dari Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) yang turun menjadi 28 dari 37 pada kuartal sebelumnya, sehingga masuk ke zona pesimistis. Pelaku usaha memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang lebih moderat setelah berakhirnya faktor musiman seperti Ramadan, Idulfitri, dan libur sekolah. Tekanan juga muncul dari potensi pelemahan rupiah dan kenaikan inflasi akibat tingginya harga energi global, penyesuaian harga BBM nonsubsidi, depresiasi rupiah, serta risiko El Nino terhadap harga pangan. Kondisi ini memicu potensi kenaikan suku bunga acuan BI (BI-Rate) secara preemtif demi menjaga stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi, sementara aktivitas manufaktur memasuki zona kontraksi dengan angka PMI turun menjadi 49 pada Agustus 2026.

-IHSG ditutup turun 0,73% di level 6.541,38. Sepanjang perdagangan hari Jumat (09/11), IHSG bergerak di kisaran 6.462,96 – 6.552,79. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp732,81 miliar di Pasar Reguler. Aliran masuk dana asing terutama terjadi pada saham BBRI, BMRI, AADI, INCO, dan PTBA, sedangkan tekanan jual asing terbesar tercatat pada saham BBCA, CUAN, CPIN, TPIA, dan ADRO. Di pasar valuta asing, Rupiah melemah melampaui level Rp17.600 per Dolar AS pada hari Jumat, mencatatkan pelemahan selama dua sesi berturut-turut di tengah Dolar AS Index yang tetap kuat. Dari sisi domestik, kekhawatiran mengenai kondisi fiskal Indonesia terus membebani pasar. Harga minyak global yang tetap berada di atas US$100 per barel berpotensi meningkatkan tekanan pada posisi anggaran pemerintah, mengingat status Indonesia sebagai importir neto minyak.

-Secara teknikal, IHSG kembali membentuk bearish candle dan ditutup pada level 6.541,38, di bawah EMA10 (6.591,59) namun masih bertahan di atas EMA20 (6.530,56) dan EMA50 (6.424,60). Pelemahan ini juga disertai dengan penembusan ke bawah garis tren naik (uptrend) jangka pendek, yang mengindikasikan momentum bullish mulai melemah dan risiko koreksi meningkat. Indikator RSI (14) turun ke level 53,89—masih di atas area netral 50—namun menunjukkan momentum penguatan yang kian berkurang. Jika IHSG gagal bertahan di atas EMA20 pada level 6.530, koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.425 (EMA50), dengan level support berikutnya di 6.377. Sebaliknya, jika IHSG berhasil rebound dan kembali menembus EMA10 di level 6.592, indeks memiliki ruang untuk menguji level 6.723 sebelum bergerak menuju 6.859 sebagai level resistance berikutnya.

“Kami menyarankan investor untuk bersikap wait and see sembari memantau kemampuan IHSG untuk bertahan di area 6.530–6.425. Investor yang telah mencetak keuntungan disarankan untuk menerapkan trailing stop atau melakukan aksi ambil untung (profit-taking) secara bertahap jika IHSG kembali menembus level support tersebut, sementara akumulasi pembelian sebaiknya menunggu konfirmasi rebound dan kembalinya indeks ke atas EMA10 di level 6.592,” beber analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Senin (14/9).

Berita Terkini

See More