Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (01/10/2026): Buy on Weakness!

Oleh: Ria

01 Oktober 2026, 10:18
ANALIS MARKET (01/10/2026): Buy on Weakness!

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup bervariasi pada hari Rabu (30/09/26).

Indeks S&P 500 turun 0,25% ke level 7.651,54 dan Dow Jones melemah 0,86% ke level 50.906,05, sementara Nasdaq Composite naik 0,24% ke level 26.861,06.

Kenaikan saham-saham teknologi menopang Nasdaq, dengan Alphabet naik 0,9%, Microsoft 0,8%, Nvidia 0,5%, dan Intel 3,7%.

Selama bulan September, S&P 500 turun 0,4%, Nasdaq 100 naik 3,2%, dan Dow Jones turun 4,3%.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar terbantu oleh kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang masih solid dan tekanan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan. Core PCE bulan Agustus hanya naik 0,2% secara bulanan (MoM), di bawah ekspektasi 0,3%, sementara headline PCE meningkat 0,3% MoM dan 3,4% secara tahunan (YoY). Dari sisi pertumbuhan, PDB riil AS untuk kuartal kedua direvisi naik menjadi 2,2% dari sebelumnya 1,5%, sementara sektor swasta menambah 90.000 lapangan kerja pada bulan September, meningkat dari 36.000 pada bulan Agustus. Kombinasi data ini memperkuat ekspektasi soft landing dan mendukung aset berisiko.

GEOPOLITIK: Ketidakpastian hubungan AS-Iran tetap menjadi fokus utama bagi pasar komoditas. Kurangnya kemajuan dalam perundingan AS-Iran serta kekhawatiran mengenai keberlanjutan ekspor Iran turut menopang harga minyak. Iran dilaporkan telah menerima usulan AS terkait pembukaan kembali Selat Hormuz; sementara itu, arus minyak yang melewati selat tersebut telah pulih ke angka 13,2 juta barel per hari, namun masih berada di bawah tingkat sebelum konflik.

REGULASI & KEBIJAKAN: Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed berubah setelah probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada bulan Oktober turun menjadi sekitar 37% dari sebelumnya hampir 51% pada hari sebelumnya. Pernyataan Presiden The Fed New York, John Williams, yang menyatakan tidak perlunya terburu-buru menaikkan suku bunga semakin memperkuat perubahan ekspektasi ini.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun naik menjadi 5,30%, mendekati level tertinggi sejak tahun 2002, sementara imbal hasil tenor 2 tahun berada di level 4,91%. Di pasar mata uang, indeks DXY turun ke level 101,1 dan Yen menguat melampaui level JPY157 per Dolar AS. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah (JGB) tenor 10 tahun berada di kisaran 3,08%, sedangkan imbal hasil tenor 2 tahun turun menjadi 1,94%.

PASAR EROPA & ASIA: Saham-saham Eropa ditutup melemah. Indeks FTSE 100 turun selama tiga sesi berturut-turut dan mengakhiri bulan September dengan penurunan 2%. Indeks DAX 40 turun 0,8% menjadi 25.211, CAC 40 melemah 0,9% menjadi 7.964, FTSE MIB turun 0,8% menjadi 51.372, sementara STOXX Europe 600 terkoreksi 0,5%.

-Bursa saham Asia bergerak variatif. Indeks Nikkei 225 naik 1,94% menjadi 66.754 dan Topix menguat 1,67%, didorong oleh saham-saham sektor teknologi. Indeks Shanghai Composite naik 0,31%, sedangkan Shenzhen Component turun 0,11%. Indeks Hang Seng menguat 0,4% ke level 24.613, sementara KOSPI turun 0,48% ke level 6.838 dan mencatatkan penurunan kuartalan terbesar sejak kuartal pertama tahun 2020.

KOMODITAS: Harga komoditas cenderung menguat, khususnya pada sektor energi dan sejumlah logam. Harga minyak Brent naik 1,56% menjadi US$97,65 per barel, sementara harga minyak mentah bergerak mendekati US$90,1 per barel di tengah kekhawatiran pasokan akibat ketidakpastian hubungan AS-Iran serta sanksi terhadap Iran. Harga kontrak berjangka batu bara naik 0,90% menjadi di atas US$146,5 per ton seiring dengan pengetatan pasokan global, sementara ekspor batu bara Indonesia turun 23% secara tahunan (year-on-year) pada bulan Agustus. Harga emas berada di kisaran US$4.154 per ons dan tembaga di sekitar US$6,5 per pon; harga timah naik 0,77% menjadi US$54.198 per ton, sedangkan harga nikel turun 0,41% ke kisaran US$15.920 per ton.

AGENDA HARI INI:

-Jepang (JP): Indeks Tankan Manufaktur Besar Kuartal III.

-Australia (AU): Neraca Perdagangan Agustus.

-Amerika Serikat (AS): PMI Manufaktur ISM September.

-Indonesia (ID): PMI Manufaktur September, Neraca Perdagangan Agustus, Inflasi September, serta Ekspor-Impor Agustus dan Kedatangan Wisatawan.

INDONESIA: Pemerintah sedang memfinalisasi sejumlah kebijakan yang akan dilanjutkan dan diperluas pada tahun 2027, termasuk penyesuaian ambang batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), yang saat ini berada di angka Rp54 juta per tahun dan belum berubah sejak 2016. Penyesuaian PTKP tersebut sedang dihitung bersama Kementerian Keuangan dengan mempertimbangkan perkembangan inflasi. Pemerintah juga berencana memperluas insentif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 bagi pekerja dengan penghasilan di bawah Rp10 juta ke seluruh sektor—yang diperkirakan mencakup sekitar 7,5 juta pekerja—serta melanjutkan fasilitas Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk sektor perumahan.

-Selain itu, pemerintah bersiap memperluas program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi dengan suku bunga 6% bagi masyarakat berpenghasilan tetap sekitar Rp17 juta, untuk pembelian rumah hingga harga Rp500 juta. Kebijakan lain yang sedang disiapkan mencakup penyesuaian Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) bagi pekerja bukan penerima upah, penyesuaian manfaat Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) berdasarkan kelompok penghasilan, serta perubahan aturan fasilitas PPN untuk penggunaan logam mulia dengan kemurnian 99,9%. Seluruh kebijakan ini masih dalam tahap finalisasi bersama kementerian terkait dan akan dituangkan dalam peraturan untuk dilaksanakan pada tahun 2027.

-IHSG ditutup turun 0,83% ke level 6.071,14 pada perdagangan hari Rabu (30/09), di mana investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp1,56 triliun di pasar reguler, sehingga akumulasi jual bersih sejak awal tahun (year-to-date) mencapai Rp107,18 triliun. Aliran dana asing terutama masuk ke UNTR, ANTM, JARR, EMAS, dan GOTO, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada TLKM, BMRI, BBCA, ASII, dan BBRI. Di pasar mata uang, Rupiah menguat untuk sesi kedua dan diperdagangkan di kisaran Rp17.850 per Dolar AS, didukung oleh penegasan Bank Indonesia untuk mempertahankan intervensi yang konsisten dan berkelanjutan dengan mengurangi intervensi pasar spot menjadi 30% dan meningkatkan fokus pada NDF. Dari sisi fiskal, kepastian kebijakan juga membaik setelah DPR mengesahkan RUU APBN 2027.

-Secara teknikal, IHSG masih bergerak dalam saluran penurunan (down channel), dengan indikator RSI (14) turun ke level 29,8, memasuki zona jenuh jual (oversold). Jika IHSG kembali melemah, penurunan tersebut dapat kembali menguji level 6.033,38 (FR 61,80%) dan 5.987, serta berpotensi berlanjut ke level 5.898 jika level tersebut tertembus. Sebaliknya, jika IHSG berhasil menguat, indeks dapat kembali menguji level 6.150, lalu kembali ke level 6.186, kemudian ke kisaran 6.227–6.241.

“Kami melihat adanya peluang untuk melakukan pembelian saat harga melemah (buy on weakness) namun tetap bersikap hati-hati jika tekanan jual berlanjut,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (01/10).

Berita Terkini

See More