See More

03 Oktober 2026, 10:40

03 Oktober 2026, 09:17

03 Oktober 2026, 08:52

02 Oktober 2026, 21:57

02 Oktober 2026, 21:43

02 Oktober 2026, 21:25
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup sedikit lebih tinggi pada hari Kamis (01/10/26).
Indeks S&P 500 naik 0,3% menjadi 7.670,36, sementara Nasdaq Composite dan Dow Jones Industrial Average masing-masing berakhir sedikit di atas posisi datar pada level 26.871,60 dan 50.927,33.
Kenaikan S&P 500 terutama mencerminkan kemampuan pasar dalam menyerap tekanan akibat kenaikan harga minyak dan volatilitas pasar obligasi.
Saham Micron Technology juga berbalik menguat setelah mencatatkan kinerja dan panduan (guidance) yang melampaui ekspektasi.
SENTIMEN PASAR: Sentimen investor tetap berhati-hati menjelang kuartal keempat karena pasar menghadapi kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang kuat dan tekanan harga yang kembali muncul. Inflasi PCE bulan Agustus tercatat di bawah perkiraan, PDB riil kuartal kedua direvisi naik menjadi 2,2% dari 1,5%, dan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta kembali meningkat pada bulan September. Namun, indeks harga manufaktur ISM melonjak menjadi 77,9 dari 71,1 pada bulan Agustus, yang mengindikasikan kenaikan kembali biaya bahan baku. Kondisi ini membuat investor menantikan data nonfarm payrolls untuk mendapatkan konfirmasi lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter.
GEOPOLITIK: Risiko geopolitik meningkat menyusul laporan pengerahan gugus tempur kapal induk ketiga AS dan tambahan kapal Korps Marinir ke Timur Tengah. Tambahan personel sekitar 9.000–10.000 orang diperkirakan akan tiba pada akhir November. Presiden Donald Trump juga menyatakan bahwa AS masih harus mengambil keputusan terkait Iran dan dikabarkan memperkirakan dimulainya kembali serangan terhadap Iran pada bulan November. Sementara itu, sejumlah kapal tanker dilaporkan diserang saat melintasi Selat Hormuz, dan serangan terhadap fasilitas kilang di wilayah tersebut juga terus berlanjut.
REGULASI & KEBIJAKAN: Ekspektasi pasar mengenai kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Oktober menurun setelah indikator inflasi pilihan bank sentral tersebut menunjukkan kenaikan yang lebih rendah dari perkiraan pada bulan Agustus. Fokus kebijakan selanjutnya akan beralih ke data ketenagakerjaan AS untuk menentukan apakah tekanan ekonomi cukup kuat untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Di Jepang, sinyal hawkish dari Bank of Japan dan data ekonomi yang kuat meningkatkan ekspektasi percepatan pengetatan kebijakan; hal ini tercermin dari imbal hasil JGB tenor 10 tahun yang kembali menembus level 3,1% dan mencapai tingkat tertinggi dalam sekitar 30 tahun terakhir.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Pasar obligasi AS tetap fluktuatif. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun turun 6,7 bps menjadi 5,244% setelah sempat menyentuh 5,362%, sementara imbal hasil tenor 30 tahun turun 3 bps menjadi 5,609%; keduanya tetap berada di level tertinggi dalam lebih dari 20 tahun. Imbal hasil Treasury tenor 2 tahun turun menjadi 4,80%, turun 11 bps dari sesi sebelumnya. Di pasar valuta asing, indeks DXY menyentuh level 102, tingkat tertinggi sejak Maret 2025. Yen melemah melampaui level JPY158 per Dolar AS, sementara imbal hasil JGB tenor 2 tahun bertahan di angka 1,94%.
PASAR EROPA & ASIA: Saham-saham Eropa mengalami koreksi secara luas. Indeks FTSE 100 turun lebih dari 1,5% ke level 10.432, DAX 40 melemah sekitar 1% ke 24.939, CAC 40 turun 1,6% ke 7.835, dan FTSE MIB anjlok 2,2% ke 50.238. Indeks STOXX Europe 600 juga turun 1,30% ke level 626,66.
-Bursa saham Asia bergerak variatif. Nikkei 225 melonjak 3,3% ke level 68.957, sementara KOSPI naik 1,95% ke 6.971. Indeks Shanghai Composite menguat 0,31% ke level 3.842,2, sementara Shenzhen Component turun 0,11% ke 12.887,6. Indeks Hang Seng naik 0,4% menjadi 24.613. Sebaliknya, indeks BSE Sensex India turun sekitar 0,8% ke 71.909,7 dan STI Singapura melemah 0,14% ke 5.668.
KOMODITAS: Pergerakan komoditas didominasi oleh penguatan di sektor energi. Minyak mentah Brent naik 4,55% menjadi US$102,49 per barel, sementara harga minyak mentah lainnya naik 2,91% dan menembus level US$93 per barel setelah laporan mengenai pengerahan tambahan pasukan AS ke Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan. Harga batu bara naik 1,90% menjadi sekitar US$149 per ton, didukung oleh pasokan global yang semakin ketat dan permintaan yang lebih kuat. Harga emas naik 0,58% menjadi sekitar US$4.181 per ons setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, meskipun kenaikan imbal hasil obligasi Treasury dan penguatan dolar membatasi kenaikan tersebut. Harga tembaga turun 0,59% menjadi sekitar US$6,50 per pon, sementara minyak kelapa sawit Malaysia melemah 1,34% menjadi MYR4.554 per ton. Harga timah turun 0,50% menjadi sekitar US$53.927 per ton, sedangkan nikel terkoreksi 1,95% ke bawah level US$15.610 per ton akibat ketersediaan pasokan yang melimpah.
AGENDA HARI INI:
-Zona Euro (EA): Angka awal (flash) tingkat inflasi tahunan (YoY) bulan September.
-Amerika Serikat (AS): Data Nonfarm Payrolls dan tingkat pengangguran bulan September.
INDONESIA: Sejumlah indikator ekonomi Indonesia menunjukkan perbaikan pada akhir September 2026. PMI manufaktur kembali ke zona ekspansi di angka 52, naik dari 49 pada bulan sebelumnya, sementara inflasi bulan September tercatat sebesar 3,28% dan tetap berada dalam kisaran target pemerintah sebesar 2,5% ±1%. Di sektor eksternal, neraca perdagangan kembali mencatatkan surplus sebesar US$3,5 miliar. Pemerintah menilai perkembangan ini mengindikasikan dimulainya momentum pemulihan ekonomi menjelang akhir Kuartal III 2026.
-Selain itu, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mempercepat penerapan pemungutan PPh Pasal 22 melalui marketplace mulai 1 Oktober 2026, dari jadwal semula 1 November 2026. Shopee, Lazada, Tokopedia, dan Blibli telah ditunjuk sebagai pemungut pajak dengan tarif 0,5% dari omzet penjual domestik, di luar PPN dan PPnBM. Pedagang perorangan dengan omzet hingga Rp500 juta per tahun dikecualikan dari aturan ini selama mereka menyerahkan surat pernyataan kepada pihak marketplace. Sejumlah transaksi juga dikecualikan, termasuk penjualan pulsa telepon dan kartu SIM, perdagangan emas perhiasan atau batu mulia tertentu, serta pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan. Kementerian Keuangan juga sedang merampungkan data realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir September 2026 dan menargetkan untuk merilisnya kepada publik pekan depan atau sebelum 11 Oktober 2026.
-IHSG ditutup turun 1,02% ke level 6.009,50 pada perdagangan hari Kamis (1/10). Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp240,43 miliar di pasar reguler, sehingga akumulasi jual bersih sejak awal tahun (year-to-date) mencapai Rp107,42 triliun. Arus masuk dana asing terbesar tercatat pada saham DSSA, ENRG, TLKM, ASII, dan TINS, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada BMRI, GOTO, BBRI, MDKA, dan BBCA. Selain itu, nilai tukar Rupiah melemah ke kisaran Rp17.960 per Dolar AS, tertekan oleh penguatan indeks DXY dan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury. Tekanan domestik juga dipicu oleh kenaikan inflasi bulan September menjadi 3,28% (YoY) serta tingginya harga minyak yang meningkatkan biaya impor dan tekanan fiskal.
-Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren penurunan (downtrend), dengan indikator RSI (14) turun ke level 27,4 dan memasuki zona jenuh jual (oversold). Jika kembali melemah, IHSG berpotensi menguji level support di kisaran 5.985–5.973; penembusan di bawah level tersebut dapat membuka ruang penurunan lebih lanjut menuju 5.898. Sebaliknya, pemulihan (rebound) dapat mendorong IHSG untuk menguji level 6.029, diikuti oleh 6.095 dan 6.111–6.121.
“Kami menyarankan investor untuk tetap berhati-hati selama tekanan jual masih berlanjut,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (02/10).