BNI Sekuritas|SBN Rupiah|analis fixed income|analisa market|surat utang negara (SUN)|Yield Obligasi Negara Indonesia

ANALIS MARKET (13/8/2026): SUN Mixed, Demand SBN Berpeluang Menguat di Tengah Inflasi AS dan Rupiah yang Tertekan

Oleh: Ria

13 Agustus 2026, 08:51
ANALIS MARKET (13/8/2026): SUN Mixed, Demand SBN Berpeluang Menguat di Tengah Inflasi AS dan Rupiah yang Tertekan

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Fixed Income BNI Sekuritas menyebutkan, harga instrumen Surat Utang Negara (SUN) ditutup mixed pada sesi perdagangan kemarin (12/8).

Data PHEI menunjukkan, yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0109) turun sebesar 4 basis point (bp) ke level 7,13%, sementara yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0108) naik sebesar 1 bp ke level 7,19%.

Berdasarkan data Bloomberg, yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) bertahan di level 7,24%.

Level yield curve 10-tahun (GIDN10YR) masih berada di dalam weekly estimated range kami untuk minggu ini di kisaran 7,13%-7,42%.

Volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp16.9 triliun kemarin, lebih rendah dari volume transaksi di hari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp18.9 triliun.

PBS030 dan FR0109 menjadi dua seri teraktif di pasar sekunder, dengan volume transaksi masing - masing sebesar Rp4,1 triliun dan Rp2,8 triliun.

Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp6,8 triliun.

Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melemah sebesar 0,09%, bergerak dari level Rp17.861/US$ di hari Selasa menjadi Rp17.877/US$ kemarin.

Sementara itu, Inflasi headline AS meningkat sebesar 0,1% m/m pada Juli 2026, setelah turun sebesar 0,4% pada Juni.

Indeks shelter meningkat sebesar 0,1% dan menyumbang sekitar dua pertiga dari kenaikan inflasi headline secara bulanan, sementara harga makanan juga meningkat sebesar 0,1%.

Sebaliknya, indeks energi turun sebesar 1,5%, termasuk penurunan harga bensin sebesar 2,9%.

Inflasi inti, yang tidak memperhitungkan komponen makanan dan energi, meningkat sebesar 0,2% m/m setelah tidak mengalami perubahan pada Juni.

Kenaikan inflasi inti secara bulanan antara lain tercatat pada komponen medical care, tarif penerbangan, komunikasi, pendidikan, dan rekreasi, sementara harga asuransi kendaraan bermotor mengalami penurunan.

Secara tahunan, inflasi headline tercatat sebesar 3,4% y/y pada Juli, sedikit lebih rendah dibandingkan 3,5% pada Juni.

Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 2,5% y/y, dibandingkan 2,6% pada bulan sebelumnya.

Realisasi inflasi headline dan inti tersebut sesuai dengan proyeksi ekonom yang disurvei Reuters, yang memperkirakan inflasi headline sebesar 0,1% m/m dan 3,4% y/y, serta inflasi inti sebesar 0,2% m/m dan 2,5% y/y.

Per Kamis (13/8) pagi ini, indikator global menunjukkan sentimen mixed dengan kecenderungan positif.

Harga minyak Brent diperdagangkan di level US$88,4/barel atau lebih rendah 0,61% dibandingkan penutupan sebelumnya.

DXY Index menguat sebesar 0,14% menjadi 100,0 namun yield US Treasury (UST) turun dibandingkan hari sebelumnya.

Yield curve UST 5-tahun dan 10-tahun masing-masing turun sebesar 1bp dan 2bp menjadi 4,38% dan 4,68%.

Sementara itu, Credit Default Swap (CDS) 5-tahun Indonesia turun sebesar 1bp menjadi 88bp.

“Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, BNI Sekuritas mengantisipasi potensi demand bagi SBN Rupiah namun yield yang diminta masih akan sensitif terhadap perkembangan global dan kondisi likuiditas domestik. Berdasarkan valuasi yield curve, kami memperkirakan bahwa obligasi berikut akan menarik bagi para investor: FR0064, FR0101, FR0104, FR0087, FR0109,” sebut Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas, Amir Dalimunthe dalam riset Kamis (13/8).

Berita Terkini

See More