ANALIS MARKET (01/9/2026): IHSG Masih Berpeluang Bullish
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
**Pasardana.id **– Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Senin (31/8/26); Dow Jones Industrial Average turun 0,70% ke level 53.185,90, S&P 500 melemah 0,33% ke kisaran 7.686,14, dan Nasdaq Composite turun 0,12% ke level 26.370,89.
Pelemahan ini terutama mencerminkan kekhawatiran pasar yang meningkat terkait tekanan inflasi dan prospek kebijakan moneter yang lebih ketat menjelang bulan September.
Meskipun hari perdagangan terakhir bulan Agustus ditutup negatif, ketiga indeks utama tersebut tetap mencatatkan kenaikan bulanan, didukung oleh kinerja laba yang solid dan stabilisasi kembali sentimen terhadap saham-saham sektor AI.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar menjelang bulan September cenderung berhati-hati, dengan fokus utama tertuju pada data ekonomi AS, khususnya JOLTS, ADP Employment, dan Nonfarm Payrolls bulan Agustus. Data ini akan menjadi katalis penting dalam menentukan arah ekspektasi kebijakan The Fed pada pertemuan bulan September. Investor juga perlu memperhatikan karakteristik musiman pasar, mengingat secara historis September merupakan salah satu bulan terlemah bagi saham-saham AS. Kombinasi antara ketidakpastian kebijakan moneter yang tinggi, risiko inflasi, dan potensi volatilitas musiman dapat mendorong pasar untuk bergerak lebih defensif dalam jangka pendek.
GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer. AS menyerang fasilitas peluncur roket Iran di Pulau Larak—wilayah strategis di dekat Selat Hormuz—sementara Iran membalas dengan serangan terhadap target militer AS di Yordania. Eskalasi ini kembali meningkatkan risiko gangguan pada jalur perdagangan energi global yang melewati Selat Hormuz dan menjadi faktor utama yang memicu peningkatan ketidakpastian pasar global.
REGULASI & KEBIJAKAN: Kebijakan moneter Federal Reserve menjadi fokus utama setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyampaikan sikap yang relatif hawkish dalam pidatonya di Jackson Hole. Warsh menegaskan bahwa inflasi belum menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan menuju target 2%, sehingga mendorong pasar untuk meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan September. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga telah meningkat menjadi lebih dari 60%, jauh lebih tinggi dibandingkan angka sekitar 41% pada minggu sebelumnya. Keputusan The Fed berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan data inflasi dan ketenagakerjaan AS.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Pasar obligasi AS tetap berada di bawah tekanan menyusul meningkatnya ekspektasi akan kebijakan moneter yang lebih ketat. Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun naik ke kisaran 4,75%, sementara imbal hasil tenor 2 tahun bertahan di sekitar 4,35%. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan penyesuaian investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed serta meningkatnya premi risiko inflasi. Di pasar valuta asing, Indeks Dolar AS bergerak di kisaran 99,5 setelah sebelumnya mencatat kenaikan selama beberapa sesi, sementara Yen Jepang berada di sekitar JPY160 per Dolar AS dan Euro bergerak di kisaran US$1,16.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa bergerak bervariasi; tekanan terlihat pada indeks DAX 40 Jerman yang turun 1,2% menjadi 26.282, dan CAC 40 Prancis yang melemah 0,8% menjadi 8.334. Indeks FTSE MIB Italia ditutup relatif datar di angka 52.613, sedangkan FTSE 100 Inggris sebelumnya mencatat kenaikan 0,3%. Pergerakan pasar mencerminkan sikap hati-hati investor di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
-Pasar Asia bergerak beragam. Nikkei 225 Jepang turun 0,14% menjadi 66.312, sementara Topix naik 0,23%. Shanghai Composite menguat 0,86% menjadi 3.986,3 dan Shenzhen Component naik 0,44% menjadi 14.015. Hang Seng Hong Kong melemah tipis 0,1% menjadi 25.567, sedangkan KOSPI Korea Selatan naik 0,46% menjadi 6.820, didukung oleh pemulihan saham-saham berkapitalisasi besar (large-cap).
KOMODITAS: Harga komoditas didominasi oleh kenaikan di sektor energi. Minyak Brent bergerak di atas US$90 per barel, sementara WTI naik di atas US$86 per barel di tengah meningkatnya risiko terhadap pasokan minyak global. Sementara itu, harga emas bergerak di kisaran US$4.442 per ons, melemah 0,24%, sedangkan harga tembaga berada di sekitar US$6,55 per pon. CPO Malaysia menguat 1,62% menjadi MYR4.894 per ton, sementara harga timah bergerak di atas US$54.800 per ton. Nikel tetap berada di bawah tekanan, diperdagangkan di kisaran US$16.770 per ton di tengah surplus persediaan nikel olahan dan lemahnya permintaan dari Tiongkok.
AGENDA HARI INI: Indonesia (ID): PMI Manufaktur S&P Global bulan Agustus, Neraca Perdagangan bulan Juli (Ekspor-Impor), Inflasi bulan Agustus (YoY dan MoM), Tingkat Inflasi Inti bulan Agustus (YoY), dan Kunjungan Wisatawan bulan Juli (YoY). Tiongkok (CN): PMI Manufaktur RatingDog bulan Agustus. Jepang (JP): Keyakinan Konsumen bulan Agustus. Kawasan Euro (EA): Tingkat Inflasi bulan Agustus (YoY). Amerika Serikat (AS): PMI Manufaktur ISM bulan Agustus dan Lowongan Kerja JOLTs bulan Juli.
INDONESIA: Pemerintah menetapkan belanja pemerintah pusat dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2027 sebesar Rp3.362,2 triliun, meningkat Rp116,7 triliun atau 3,6% dari perkiraan realisasi tahun 2026. Namun, peningkatan ini dinilai belum mencerminkan ekspansi fiskal yang kuat, mengingat ruang ekspansi riil setelah memperhitungkan inflasi relatif terbatas. Tantangan utama pemerintah adalah memastikan kualitas dan komposisi belanja dapat mendorong produktivitas, investasi, penciptaan lapangan kerja, dan daya beli masyarakat. Pemerintah menargetkan penciptaan 2,57–3,49 juta lapangan kerja, penurunan tingkat kemiskinan menjadi 6%–6,5%, dan tingkat pengangguran menjadi 4,30%–4,87% pada tahun 2027.
-Selain itu, Pertamina Patra Niaga menaikkan harga sejumlah bahan bakar non-subsidi mulai 1 September 2026; harga Pertamax Turbo naik Rp1.300 menjadi Rp19.600 per liter, Dexlite naik Rp4.000 menjadi Rp23.700 per liter, dan Pertamina Dex naik Rp4.050 menjadi Rp25.200 per liter. Sementara itu, harga Pertalite, Pertamax, Pertamax Green 95, dan Biosolar tetap tidak berubah. Penyesuaian harga ini dilakukan dengan mempertimbangkan harga minyak mentah global, nilai tukar Rupiah, pajak, serta kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat. Dampak terhadap inflasi diperkirakan relatif terbatas karena kenaikan hanya berlaku untuk produk bahan bakar non-subsidi tertentu, meskipun hal ini berpotensi meningkatkan biaya operasional bagi sektor transportasi, logistik, dan industri yang menggunakan bahan bakar diesel non-subsidi.
-IHSG ditutup menguat 0,11% di level 6.525,48 pada perdagangan hari Senin (31/8), sekaligus mencatatkan kenaikan sebesar 4,64% sepanjang bulan Agustus. Selama perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 6.476,18 – 6.528,10. Meskipun indeks mencatatkan kenaikan, investor asing masih membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp710,56 miliar di Pasar Reguler. Aliran masuk dana asing terutama tertuju pada saham BBRI, KOTA, BBNI, ADRO, dan BBCA, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada saham CPIN, EMAS, BUKA, UNVR, dan ASII. Di sisi lain, nilai tukar Rupiah bergerak di kisaran Rp17.750 per Dolar AS, dengan sentimen pasar juga tertuju pada penunjukan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2026–2031.
-Secara teknikal, IHSG berhasil mencatatkan rebound tipis dan tetap berada di atas EMA10 (6.467), EMA20, serta EMA50, sekaligus terus bergerak di atas garis tren naik (uptrend). Indikator RSI (14) kembali naik ke level 60,7—masih di atas area netral 50—yang mengindikasikan bahwa momentum bullish masih memiliki ruang untuk berlanjut. Selama IHSG mampu bertahan di atas EMA10 pada area 6.467, peluang penguatan tetap terbuka untuk menguji kembali level resistansi 6.566, sebelum melanjutkan kenaikan menuju 6.635 dan 6.733 (menutup area gap). Sebaliknya, jika tekanan jual kembali meningkat dan IHSG menembus level support 6.467, indeks berpotensi terkoreksi menuju kisaran 6.398–6.377 yang merupakan area support kuat.
“Kami menyarankan strategi untuk menahan posisi (hold) atau melakukan pembelian secara selektif saat harga turun (buy on weakness) selama IHSG mampu bertahan di atas area support; namun, investor perlu meningkatkan kewaspadaan jika indeks menembus level support tersebut, karena hal itu dapat membuka peluang terjadinya koreksi yang lebih dalam,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Selasa (01/9).




