Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (31/8/2026): Momentum Bullish Masih Ada

Oleh: Ria

31 Agustus 2026, 09:02
ANALIS MARKET (31/8/2026): Momentum Bullish Masih Ada

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id– Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Jumat (28/8/26), dengan tekanan terutama datang dari saham-saham teknologi dan sektor defensif.

Dow Jones Industrial Average turun tipis sebesar 0,02%, sementara S&P 500 melemah 0,25% dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,52%.

NVIDIA menjadi salah satu penekan utama setelah anjlok 4,58%, sementara PayPal merosot 12,71%. Sebaliknya, Amazon melonjak 3,97%, diikuti oleh kenaikan pada saham Nike dan McDonald's.

Secara keseluruhan, saham-saham yang turun mendominasi baik di NYSE maupun Nasdaq, mencerminkan tekanan yang cukup luas di seluruh pasar saham AS.

SENTIMEN PASAR: Pernyataan dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, yang menilai bahwa inflasi belum menunjukkan perlambatan yang berarti, meningkatkan kekhawatiran bahwa proses meredakan tekanan harga masih akan memakan waktu lebih lama. Kondisi ini mendorong investor untuk menyesuaikan kembali portofolio mereka, khususnya pada saham-saham berorientasi pertumbuhan yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan ekspektasi suku bunga.

GEOPOLITIK: Risiko geopolitik di Timur Tengah relatif mereda dalam perdagangan baru-baru ini, terutama terkait kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak. Pelaku pasar semakin memandang situasi dengan Iran sebagai konflik yang lebih berfokus pada tekanan ekonomi dan sanksi, alih-alih ancaman langsung terhadap pasokan fisik. Membaiknya arus pelayaran melalui Selat Hormuz serta rencana pengembangan koridor Iran-Oman juga turut menurunkan premi risiko pada pasokan energi global.

REGULASI & KEBIJAKAN: Fokus kebijakan moneter tetap tertuju pada sikap Federal Reserve dalam menangani inflasi yang masih berada di atas target 2%. Kevin Warsh mengindikasikan bahwa para pembuat kebijakan masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengembalikan tekanan harga ke arah target bank sentral. Pernyataan tersebut memperkuat persepsi bahwa kebijakan moneter AS berpotensi tetap ketat lebih lama jika perkembangan inflasi tidak menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Pasar obligasi AS mengalami tekanan jual, di mana imbal hasil (yield) US Treasury tenor 2 tahun naik 11 basis poin (bps) menjadi 4,35%, sementara yield Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 4,73%. Kenaikan yield ini mencerminkan penyesuaian ekspektasi investor terkait prospek kebijakan suku bunga dan inflasi. Di pasar valuta asing, pasangan EUR/USD turun 0,58% ke level 1,16, sementara USD/JPY naik 0,43% ke 160,07 dan indeks berjangka Dolar AS (US Dollar Index Futures) menguat 0,54% ke 99,63. Penguatan Dolar AS juga menekan Euro ke level terendahnya sejak 19 Agustus. Sementara itu, di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 2 tahun naik 1 basis poin (bps) menjadi 1,70%, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun melampaui 2,9%, seiring pasar memperhitungkan kemungkinan sekitar 87% bahwa Bank of Japan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 1,25% pada bulan September.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa secara umum menguat. Indeks FTSE 100 Inggris naik 0,3%, DAX 40 Jerman naik 0,8% dan mencapai rekor tertinggi baru di level 26.570, CAC 40 Prancis naik 1% ke 8.401, sementara FTSE MIB Italia menguat 0,7% ke 52.654. Penguatan pasar Eropa terutama didorong oleh optimisme investor mengenai prospek ekonomi dan pergerakan positif pada saham-saham sektoral.

-Pasar Asia bergerak variatif. Nikkei 225 Jepang naik 0,41% dan Topix menguat 0,72%, sementara Hang Seng Hong Kong naik tipis 0,1%. Di India, BSE Sensex menguat sekitar 0,4%, didukung oleh penurunan harga minyak mentah. Sebaliknya, Shanghai Composite turun 0,11%, Shenzhen Component melemah 0,68%, KOSPI Korea Selatan anjlok 1,79%, dan FKLCI Malaysia turun 0,91%. Sementara itu, STI Singapura menguat 0,28%. Perbedaan kinerja ini mencerminkan sentimen regional yang beragam; tekanan terutama terjadi pada saham teknologi Korea Selatan dan pasar Tiongkok, yang kembali menghadapi sikap lebih berhati-hati dari para investor.

KOMODITAS: Harga komoditas bergerak variatif. Harga emas berjangka turun tajam sebesar 3,18% menjadi US$4.454,08/oz, sejalan dengan penguatan dolar AS. Harga WTI turun tipis 0,12% menjadi US$83,43/barel, sementara Brent melemah 0,31% menjadi US$88,25/barel. Di sisi lain, harga batu bara naik 0,18% menjadi sekitar US$139,75/ton—mencapai level tertinggi dalam dua bulan—yang didukung oleh kuatnya permintaan energi global dan kekhawatiran terkait pasokan. CPO Malaysia menguat 1,62% menjadi sekitar MYR4.850/ton, sementara harga timah naik 0,96% hingga di atas US$55.854/ton. Sebaliknya, harga tembaga turun 0,70% menjadi sekitar US$6,5433/lb, dan nikel melemah 0,62% menjadi sekitar US$16.770/ton akibat surplus inventaris nikel olahan serta lemahnya permintaan dari Tiongkok.

AGENDA HARI INI:

-Tiongkok (CN): NBS Manufacturing PMI bulan Agustus.

-Jepang (JP): Keyakinan Konsumen bulan Agustus.

-India (IN): Tingkat Pertumbuhan PDB (YoY) kuartal kedua.

-Jerman (DE): Tingkat Inflasi (YoY) bulan Agustus.

INDONESIA: Pemerintah memberikan pelonggaran kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dari Sumber Daya Alam (SDA) bagi 64 eksportir di sektor pertambangan melalui Pasal 18A Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026, yang berlaku untuk Pemberitahuan Pabean Ekspor (PPE) mulai 1 September 2026. Eksportir yang memenuhi kriteria kini hanya diwajibkan menempatkan minimal 30% dari DHE SDA selama setidaknya tiga bulan, dibandingkan dengan ketentuan umum yang mengharuskan penempatan 100% selama minimal 12 bulan. Meskipun demikian, seluruh atau 100% devisa hasil ekspor tetap harus direpatriasi ke dalam sistem keuangan Indonesia. CORE Indonesia memperkirakan kebijakan ini mencakup potensi DHE sekitar US$30 miliar–US$40 miliar per tahun, terutama dari perusahaan dalam rantai industri nikel, baja berbasis nikel, Freeport, alumina, dan mineral olahan lainnya. Pelonggaran ini memberikan fleksibilitas likuiditas yang lebih besar bagi eksportir, namun pada saat yang sama mengurangi jumlah devisa yang wajib disimpan dalam sistem keuangan domestik untuk jangka panjang.

-Selain itu, Jakarta mencatat realisasi investasi tertinggi secara nasional sebesar Rp173,6 triliun pada semester pertama tahun 2026, setara dengan 17,2% dari total investasi nasional, sekaligus menegaskan perannya sebagai salah satu penggerak utama ekonomi Indonesia dengan kontribusi sebesar 16,3% terhadap PDB nasional pada kuartal kedua tahun 2026. Investasi terbesar berasal dari sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi, diikuti oleh sektor jasa—termasuk web hosting dan pusat data—serta sektor perdagangan. Pemerintah memandang Jakarta memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan investasi masa depan melalui pengembangan ekonomi digital, kecerdasan buatan (AI), pusat data, energi bersih, manufaktur maju, dan jasa keuangan, dengan proyeksi ekonomi digital Indonesia mencapai US$360 miliar pada tahun 2030. Kementerian Investasi/BKPM juga akan memperkuat penyederhanaan perizinan, kepastian regulasi, dan mekanisme penyelesaian hambatan (debottlenecking) guna mempercepat realisasi proyek investasi serta mempersiapkan Jakarta sebagai salah satu fondasi pengembangan pusat keuangan internasional Indonesia.

-IHSG ditutup turun 0,06% ke level 6.518,12. Sepanjang perdagangan hari Jumat (28/8), IHSG bergerak di kisaran 6.495,74 – 6.566,91. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) di Pasar Reguler sebesar Rp442,38 miliar. Aliran dana masuk asing terutama tertuju pada BBCA, BMRI, TPIA, BRPT, dan DMAS, sementara tekanan jual asing terbesar tercatat pada DSSA, BUMI, EMAS, ISAT, dan INET. Di sisi lain, nilai tukar Rupiah berbalik menguat ke kisaran Rp17.700/US$ seiring meredanya kekhawatiran akan risiko domestik pasca-demonstrasi.

-Secara teknikal, IHSG masih mengalami koreksi wajar dan tetap berada di atas EMA10 (6.357), EMA20, serta EMA50, dan masih bergerak di atas garis tren naik (uptrend). Indikator RSI (14) berada di level 60,35—masih di atas area netral 50—yang mengindikasikan momentum bullish belum sepenuhnya hilang; namun, pergerakan yang mulai mendatar menunjukkan bahwa investor perlu mewaspadai potensi konsolidasi. Selama IHSG mampu bertahan di atas EMA10 pada area 6.357, peluang penguatan tetap terbuka untuk menguji kembali level resistance di 6.551, sebelum melanjutkan kenaikan menuju 6.635 dan 6.733 (menutup area gap). Sebaliknya, jika tekanan jual kembali meningkat dan IHSG menembus level support di 6.454, indeks berpotensi terkoreksi menuju kisaran 6.385–6.377 yang merupakan level support kuat.

“Kami menyarankan strategi untuk mempertahankan posisi (hold) atau melakukan pembelian secara selektif saat harga turun (buy on weakness) selama IHSG mampu bertahan di atas area support tersebut; namun, investor perlu meningkatkan kewaspadaan jika indeks menembus level support, karena hal ini dapat membuka peluang terjadinya koreksi yang lebih dalam,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Senin (31/8).

Berita Terkini

See More