See More

28 Juli 2026, 21:25

28 Juli 2026, 17:52

28 Juli 2026, 17:02

28 Juli 2026, 16:40

28 Juli 2026, 16:31

28 Juli 2026, 16:08
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Senin (27/07/2026) setelah sempat menguat di awal sesi.
Pelemahan saham semikonduktor membatasi kenaikan pasar menyusul laporan bahwa China telah berhasil memulai produksi massal mesin litografi ultraviolet dalam (DUV) buatan dalam negeri, yang dianggap sebagai langkah penting menuju kemandirian rantai pasokan chip.
S&P 500 ditutup relatif datar di 7.413,18, Nasdaq Composite melemah 0,2% menjadi 24.932,08, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 0,5% menjadi 52.210,08.
Ketiga indeks tersebut pulih dari pelemahan minggu sebelumnya, terutama Nasdaq yang terkoreksi lebih dari 2%.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung berhati-hati meskipun sempat meningkat karena penurunan tajam harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi menjelang keputusan suku bunga Fed dan dimulainya musim laporan keuangan untuk emiten teknologi berkapitalisasi besar. Optimisme awal memudar setelah laporan bahwa China telah mulai memproduksi massal mesin litografi DUV, yang menimbulkan kekhawatiran tentang persaingan di industri semikonduktor global. Sementara itu, investor juga memantau pengeluaran modal besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan teknologi besar seperti Alphabet dan Tesla, yang dapat menekan margin keuntungan. Fokus pasar sekarang tertuju pada keputusan suku bunga Fed dan konferensi pers Ketua Fed Kevin Warsh pada hari Rabu, di mana bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil, sementara pelaku pasar menunggu sinyal tentang arah kebijakan moneter di masa mendatang. Selain itu, musim laporan keuangan kuartal kedua dari tujuh perusahaan besar (Magnificent Seven) diperkirakan akan menjadi katalis utama pergerakan pasar dalam beberapa hari mendatang.
GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik mulai mereda setelah Amerika Serikat dan Iran menghentikan serangan timbal balik pada akhir pekan dan melanjutkan pembicaraan diplomatik. Peredaan konflik tersebut menyebabkan penurunan tajam harga minyak dan meningkatkan selera investor terhadap aset berisiko. Meskipun demikian, pasar masih memantau perkembangan di Selat Hormuz, karena risiko gangguan pasokan energi belum dianggap sepenuhnya hilang.
REGULASI & KEBIJAKAN: Pasar menunggu hasil pertemuan Federal Reserve yang dijadwalkan pada hari Rabu. Konsensus memperkirakan Fed akan mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil, sejalan dengan inflasi AS yang mulai mereda dan penurunan harga minyak yang mengurangi tekanan inflasi. Investor akan mengamati pernyataan Ketua Fed Kevin Warsh untuk mendapatkan petunjuk tentang prospek kebijakan moneter untuk sisa tahun ini.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) bergerak stabil di sekitar 101,4 setelah memangkas pelemahan di awal sesi dan bertahan di dekat level tertinggi satu bulan. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun turun menjadi 4,65%, sementara imbal hasil 2 tahun turun menjadi 4,33%, mencerminkan meredanya kekhawatiran inflasi seiring penurunan harga minyak. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun turun menjadi sekitar 2,76%, sementara imbal hasil 2 tahun turun menjadi 1,50%. Yen Jepang menguat menjadi sekitar 163,5 per dolar AS, sementara euro kembali naik di atas US$1,14, didukung oleh membaiknya sentimen risiko global.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa sebagian besar menguat di tengah membaiknya sentimen karena meredanya ketegangan di Timur Tengah dan penurunan harga minyak. Indeks DAX Jerman naik lebih dari 1% menjadi di atas 25.400, level tertinggi dalam hampir tiga minggu. Indeks FTSE MIB Italia menguat 0,5% menjadi 52.055, CAC 40 Prancis naik 0,4% menjadi 8.406, FTSE 100 Inggris bertambah 0,4% menjadi di atas 10.780, sementara STOXX Europe 600 naik tipis 0,02% menjadi 644,62.
-Sebagian besar pasar Asia ditutup lebih tinggi. Shanghai Composite naik 1,15% menjadi 3.858,2 dan Shenzhen Component melonjak 2,72% menjadi 14.148,7, didorong oleh optimisme di sektor teknologi. Hang Seng Hong Kong menguat 1,0% menjadi 25.207, dipimpin oleh saham teknologi dan keuangan. Nikkei 225 Jepang naik 0,5% menjadi 64.931, sementara TOPIX menguat 1,37% menjadi 4.066. Indeks KOSPI Korea Selatan naik 0,97% menjadi 6.756 karena optimisme atas kerja sama AI.
KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas cenderung beragam. Harga minyak terkoreksi tajam setelah optimisme atas pembicaraan perdamaian AS-Iran meningkat, dengan WTI turun 9,31% menjadi sekitar US$82/barel dan Brent melemah 10,6% menjadi sekitar US$88/barel. Batubara termal sedikit turun 0,23% menjadi sekitar US$130,5/ton. Di sisi logam mulia, emas menguat 0,50% menjadi mendekati US$4.100/oz karena penurunan harga minyak meredakan tekanan inflasi. Tembaga naik 0,72% menjadi di atas US$6,3/lb di tengah membaiknya sentimen pasar. Minyak sawit Malaysia (CPO) melemah 1,04% menjadi di bawah MYR4.700/ton karena aksi ambil untung dan penguatan ringgit. Sementara itu, harga timah naik 0,85% menjadi US$53.781/ton, sedangkan nikel turun 0,23% menjadi sekitar US$17.270/ton, meskipun masih bertahan di level tertinggi dalam sebulan di tengah ketidakpastian kebijakan produksi Indonesia.
AGENDA HARI INI:
-Prancis (FR): Indeks Kepercayaan Konsumen Juli, Klaim Tunjangan Pengangguran Juni
-Amerika Serikat (AS): Perubahan Ketenagakerjaan ADP Juli, Neraca Perdagangan Barang Lanjutan Juni, Persediaan Ritel ex-Otomotif Juni MoM, Persediaan Grosir Juni MoM, Harga Rumah S&P/Case-Shiller Mei YoY, dan Kepercayaan Konsumen CB Juli.
-Tiongkok (CN): Pertemuan Politbiro.
INDONESIA: Proses penggantian Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi sorotan setelah Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri karena alasan pribadi. Komisi XI DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) menegaskan bahwa proses pemilihan gubernur baru akan mengikuti mekanisme berdasarkan Undang-Undang BI melalui uji kelayakan yang dilakukan secara objektif dan profesional. Sementara itu, Wakil Gubernur Senior BI Destry Damayanti telah ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Gubernur BI untuk memastikan keberlanjutan kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan selama masa transisi. Para pelaku pasar dan ekonom menganggap proses seleksi yang transparan dan berbasis meritokrasi yang menjaga independensi bank sentral sebagai faktor penting dalam menjaga kredibilitas BI, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, dan menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.
-Selain itu, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menghentikan secara permanen operasional 883 dapur pelaksana Program Makan Gratis (MBG) yang ditemukan melanggar standar keamanan pangan, meliputi aspek kebersihan, sanitasi, kualitas makanan, dan fasilitas pengolahan limbah (IPAL). Pemerintah menegaskan bahwa penutupan tersebut dilakukan untuk menjamin keselamatan penerima manfaat, sementara distribusi makanan tetap dipastikan berlanjut melalui pengalihan layanan ke dapur lain sehingga pelaksanaan program MBG tidak terganggu. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat tata kelola program, meningkatkan kualitas layanan, dan memastikan standar keamanan pangan diterapkan secara konsisten di seluruh wilayah Indonesia.
-JCI ditutup turun 0,17% pada level 6.185,78. Sepanjang perdagangan Senin (27/07), JCI bergerak dalam kisaran 6.144,27 – 6.219,42. Investor asing melakukan penjualan bersih di Pasar Reguler sebesar Rp491,89 miliar, sementara di seluruh pasar investor asing mencatat penjualan bersih sebesar Rp820,67 miliar. Arus masuk dana asing terutama melalui BBCA, AADI, RAJA, KOTA, dan MEDC, sementara tekanan penjualan asing terbesar tercatat di TPIA, EMAS, BULL, BBRI, dan ASII. Kurs Rupiah melemah menjadi sekitar Rp18.005 per dolar AS karena sentimen atas pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, sementara pasar memantau proses transisi kepemimpinan BI.
-Secara teknis, JCI membentuk candlestick doji dan ditutup di bawah EMA50 (6.257), sambil menguji area EMA10 (6.184). Meskipun demikian, indeks masih bertahan di atas EMA20 (6.119) sehingga tren naik jangka menengah tetap utuh, meskipun risiko koreksi jangka pendek mulai meningkat. RSI (14) turun ke 53,7, menunjukkan momentum bullish mulai melemah meskipun masih berada di wilayah netral. Jika tekanan jual berlanjut, JCI berpotensi menguji area support 6.159 – 6.144, kemudian level Fibonacci 38,20% di 6.130 dan EMA20 di 6.119. Jika kedua level tersebut ditembus, koreksi berpotensi berlanjut menuju level Fibonacci 61,80% di 5.931. Sebaliknya, jika berhasil rebound, JCI perlu menembus kembali area 6.219 – 6.260, kemudian 6.315 sebagai resistensi berikutnya. Penembusan di atas level tersebut akan membuka peluang untuk penguatan lebih lanjut menuju 6.394.
“Kami menyarankan investor untuk menunggu dan melihat sambil memantau pergerakan JCI di sekitar EMA20. Investor yang telah memperoleh keuntungan dapat menerapkan trailing stop atau pengambilan keuntungan bertahap jika tekanan jual berlanjut, sementara averaging up dapat dipertimbangkan jika JCI berhasil menembus kembali 6.315 yang didukung oleh peningkatan volume perdagangan,” beber analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Selasa (28/7).