Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (13/8/2026): Momentum Bullish Jangka Pendek Kembali Menguat

Oleh: Ria

13 Agustus 2026, 08:37
ANALIS MARKET (13/8/2026): Momentum Bullish Jangka Pendek Kembali Menguat

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup menguat pada perdagangan hari Rabu (26/12/08), didukung oleh data inflasi AS bulan Juli yang sesuai ekspektasi, sehingga meredakan kekhawatiran mengenai kenaikan suku bunga The Fed.

Indeks S&P 500 naik 0,3% menjadi 7.748,50 dan Nasdaq Composite menguat 0,5% menjadi 26.588,49, sementara Dow Jones Industrial Average turun tipis ke level 53.770,27.

Kenaikan ini terutama didorong oleh saham-saham sektor teknologi dan AI setelah CoreWeave serta Super Micro mencatatkan kinerja dan prospek pendapatan yang kuat.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung positif setelah data CPI AS bulan Juli sesuai ekspektasi; CPI umum (headline CPI) naik 0,1% secara bulanan (MoM) dan melambat menjadi 3,4% secara tahunan (YoY), sementara CPI inti naik 0,2% MoM dan turun menjadi 2,5% YoY. Data ini mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga, yang tercermin dari meningkatnya probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada bulan September menjadi 62% dari sebelumnya 54%. Kendati demikian, pasar tetap mewaspadai potensi kenaikan inflasi pada bulan Agustus akibat lonjakan harga minyak.

GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian setelah Amerika Serikat dan Iran kembali berselisih mengenai kendali atas Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS memegang kendali penuh atas selat tersebut, sementara Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sampai AS menghentikan permusuhan dan memenuhi sejumlah tuntutan. Serangan terhadap kapal-kapal komersial di wilayah Bab el-Mandeb juga memicu kekhawatiran akan gangguan pada rantai pasokan energi.

REGULASI & KEBIJAKAN: Data inflasi bulan Juli memberikan ruang lebih luas bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil alih-alih menaikkannya pada bulan September. Probabilitas FOMC untuk mempertahankan suku bunga naik menjadi 62% setelah rilis data CPI, dari sebelumnya 54%. Namun, perhatian pasar tetap tertuju pada data PPI dan selanjutnya PCE, yang merupakan indikator inflasi yang lebih diprioritaskan oleh The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun turun menjadi 4,65%, melanjutkan penurunannya setelah data inflasi AS tercatat tidak lebih tinggi dari perkiraan, sementara imbal hasil tenor 2 tahun turun 2 bps menjadi 4,21%. Di Jepang, imbal hasil JGB tenor 10 tahun naik ke sekitar 2,84% dan imbal hasil tenor 2 tahun naik 3 bps menjadi 1,64% di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak. Di pasar valuta asing, indeks DXY melemah ke sekitar 99,9, Euro bergerak di kisaran US$1,15, sementara Yen melemah melampaui level JPY159 per Dolar AS.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar Eropa sebagian besar melemah; indeks FTSE 100 turun 0,10%, DAX 40 turun 0,2%, CAC 40 turun 0,5%, dan STOXX Europe 600 turun 0,16%. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi ambil untung (profit-taking) saat investor memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

-Pasar Asia bergerak variatif. Nikkei 225 melonjak 2,31% ke level 68.518 dan KOSPI naik 3,68% ke level 6.579, didukung oleh penguatan saham-saham sektor teknologi. Shanghai Composite naik 0,32% dan Shenzhen Component menguat 1,09%. Sebaliknya, Hang Seng turun 0,8% ke level 25.440 di tengah memudarnya harapan akan kesepakatan AS-Iran, sementara indeks Sensex India turun sekitar 0,2%. Indeks FKLCI Malaysia naik 0,59%, sedangkan STI Singapura terkoreksi 0,6%.

KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas bervariasi. Harga minyak WTI turun 0,51% ke bawah US$83/barel dan Brent melemah 0,4% menjadi US$88,6/barel setelah mencatatkan kenaikan selama lima hari, seiring investor menilai kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz. Harga emas naik 0,91% ke atas US$4.410/oz, mendekati level tertinggi dalam 10 minggu, didukung oleh ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih dovish serta ketidakpastian geopolitik. Harga tembaga bergerak menuju US$6,58/lb—meskipun sempat turun 0,39%—sementara batu bara termal naik 0,15% menuju US$130/ton. Minyak kelapa sawit Malaysia turun 1,07% ke kisaran MYR4.697/ton akibat aksi ambil untung. Harga timah naik 0,29% menjadi US$55.912/ton, sedangkan nikel menguat 0,42% ke kisaran US$16.890/ton.

AGENDA HARI INI:

-Britania Raya (GBP): Tingkat Pertumbuhan PDB Q2 QoQ (Pendahuluan), Tingkat Pertumbuhan PDB Q2 YoY (Pendahuluan), dan PDB Juni MoM.

-Amerika Serikat (AS): PPI Juli MoM.

INDONESIA: Utang pemerintah Indonesia mencapai Rp10.293,69 triliun, atau 41,26% dari PDB, hingga Juni 2026, naik Rp1.819,79 triliun, atau 21,5%, sejak akhir September 2024. Ekonom menilai, pertumbuhan utang sebesar 67,5% sejak 2020 telah melampaui pertumbuhan PDB nominal sebesar 64,9%, sementara rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan fiskal naik menjadi 19% dari 14,6% pada tahun 2022. Meskipun masih di bawah batas 60% dari PDB, tren ini perlu dipantau untuk menjaga keberlanjutan fiskal.

-Selain itu, defisit anggaran negara tahun 2026 melebar menjadi Rp689,15 triliun. atau 2,68% dari PDB, dengan kebutuhan pembiayaan utang mencapai Rp832,21 triliun. Sementara itu, Standard Chartered menaikkan proyeksi pertumbuhan Indonesia tahun 2026 menjadi 5,3%, didukung oleh konsumsi dan investasi, sementara memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,0% karena risiko geopolitik, perdagangan, dan harga energi.

-Sementara itu, MSCI tidak mengubah komposisi negara-negara Pasar Berkembang dalam Indeks Pasar Berkembang Perbatasan MSCI setelah menyelesaikan Tinjauan Negara Tahunan 2026. Tinjauan ini menunjukkan tidak ada perubahan pada daftar negara-negara Pasar Berkembang yang saat ini termasuk dalam indeks, sehingga tidak ada perubahan komposisi yang berasal dari tinjauan tahunan ini. MSCI melakukan perubahan pada komposisi indeks saham Indonesia. Dalam Indeks Standar Global MSCI, tidak ada saham yang ditambahkan, sementara CPIN dan GOTO dihapus dari indeks. Sementara itu, di Indeks MSCI Small Cap, CPIN naik, sedangkan ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI turun.

-JCI ditutup naik 1,69% di level 6.373,85 pada perdagangan Rabu (08/12), bergerak dalam kisaran 6.272,30 – 6.373,85. Investor asing mencatat pembelian bersih sebesar Rp482,79 miliar di Pasar Reguler dan Rp725,40 miliar di seluruh pasar. Arus masuk dana asing terbesar masuk ke PTRO, BREN, CUAN, BRPT, dan BBCA, sedangkan penjualan bersih terbesar tercatat di BMRI, TLKM, MEDC, UNTR, dan MDKA. Di pasar valuta asing, Rupiah melemah menjadi sekitar Rp17.870/US$, tertekan oleh penguatan dolar AS menjelang rilis data inflasi AS dan indikator domestik yang masih lemah, khususnya penjualan ritel dan kepercayaan konsumen.

-Secara teknis, JCI membentuk pola marubozu bullish dan ditutup lebih tinggi di 6.373,85, sekali lagi menguji area resistensi 6.377 setelah berhasil bertahan di atas EMA10 (6.308), EMA20 (6.247), dan EMA50 (6.269). Kondisi ini menunjukkan momentum bullish jangka pendek kembali menguat dengan struktur higher low yang masih utuh. RSI (14) di 59,19 menunjukkan masih ada ruang untuk kenaikan dan belum memasuki wilayah overbought. Selama JCI dapat bertahan di atas 6.308 – 6.269, peluang breakout di atas 6.377 tetap terbuka, dengan target penguatan menuju 6.462 hingga 6.550, sementara resistensi utama berikutnya berada di sekitar 6.635 / 6.723. Sebaliknya, jika gagal menembus 6.377 lagi dan jatuh di bawah 6.308, JCI berpotensi menguji 6.269, kemudian 6.247 sebagai area support utama.

“Kami menyarankan pembelian saat terjadi breakout di atas 6.377 atau akumulasi saat terjadi pelemahan selama JCI bertahan di atas 6.269, dengan trailing stop jika ditutup di bawah 6.247,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (13/8).

Berita Terkini

See More