industri baterai kendaraan listrik|EcoPro|International Green Industrial Park (IGIP)|PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI)|INCO|PT Vale Indonesia Tbk|GEM Co., Ltd|Proyek Strategis Nasional (PSN)

BNSI Mulai Bangun Fasilitas HPAL, Perkuat Rantai Pasok Global Industri Baterai

Oleh: Dadag

23 Juli 2026, 11:08
BNSI Mulai Bangun Fasilitas HPAL, Perkuat Rantai Pasok Global Industri Baterai

Foto: Istimewa

Pasardana.id – PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) resmi memulai fase utama pembangunan proyek pengolahan nikelnya melalui pemasangan Autoclave High Pressure Acid Leach (HPAL) generasi terbaru.

Proyek tersebut diharapkan memperkuat hilirisasi nikel nasional sekaligus mendukung pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia.

BNSI merupakan perusahaan patungan antara EcoPro (Korea Selatan), GEM Co., Ltd. (Tiongkok), dan PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) yang berlokasi di International Green Industrial Park (IGIP), Morowali, Sulawesi Tengah.

Dengan nilai investasi sekitar US$1,845 miliar, proyek tersebut memiliki kapasitas produksi 90.000 ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang juga telah memperoleh status Kawasan Berikat, BNSI diharapkan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri baterai kendaraan listrik.

Autoclave HPAL berkapasitas 1.268 meter kubik yang mulai dipasang merupakan yang terbesar yang pernah diterapkan pada fasilitas HPAL di dunia.

Teknologi generasi terbaru tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas pengolahan, efisiensi energi, dan stabilitas proses produksi sehingga mendukung operasi yang lebih produktif sekaligus lebih rendah emisi.

Penyelesaian konstruksi ditargetkan pada akhir 2026, sementara operasi komersial dijadwalkan dimulai pada kuartal pertama 2027.

Chairman GEM Co., Ltd., Professor Xu Kaihua mengatakan, bahwa pembangunan BNSI merupakan bukti kolaborasi strategis antara Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok dalam membangun ekosistem industri nikel rendah karbon yang terintegrasi.

“BNSI merupakan wujud kolaborasi strategis Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok dalam membangun kawasan industri nikel nol karbon pertama di dunia. Dengan menggabungkan sumber daya Indonesia, teknologi GEM, dan keunggulan industri baterai EcoPro, kami ingin mendukung percepatan transisi energi global,” ujar Professor Xu Kaihua, seperti dilansir dari siaran pers, Rabu (22/7/2026).

Menurutnya, setelah beroperasi, BNSI diproyeksikan menghasilkan nilai ekspor sekitar US$1,5 miliar per tahun, menciptakan sekitar 5.000 lapangan kerja baru, serta memasok bahan baku nikel yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 3 juta kendaraan listrik setiap tahun.

Bersama para mitra, GEM juga berkomitmen mengembangkan IGIP sebagai kawasan industri hijau kelas dunia yang mengintegrasikan industri energi baru, manufaktur cerdas, ekonomi sirkular, serta pusat inovasi teknologi metalurgi ramah lingkungan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala BPI Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan bahwa pembangunan BNSI menunjukkan transformasi hilirisasi Indonesia yang tidak lagi berfokus pada pengolahan bahan mentah, melainkan membangun rantai nilai industri baterai kendaraan listrik secara terintegrasi.

"Klaster industri hijau yang kita bangun dimulai dari HPAL sebagai gerbang pertama, kemudian berlanjut hingga nickel sulfate, precursor, cathode active material, dan baterai kendaraan listrik. Inilah transformasi Indonesia dalam menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing industri nasional," kata Rosan.

Ia menambahkan, pembangunan BNSI sejak awal dirancang mengedepankan prinsip keberlanjutan.

Fasilitas HPAL dikembangkan menuju Net Zero Emissions melalui pemanfaatan sistem waste heat recovery dan energi surya.

Selain itu, perusahaan telah merealisasikan investasi sosial sekitar US$8,5 juta bagi masyarakat Sambalagi serta membangun HPAL Research Center senilai US$37 juta untuk mendukung pengembangan teknologi, inovasi, dan talenta Indonesia di bidang metalurgi.

Dengan kolaborasi Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok, BNSI diharapkan menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat ekosistem industri baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Kehadiran proyek itu tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, tetapi juga mendorong transfer teknologi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta mendukung pengembangan industri hijau yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Berita Terkini

See More