ANALIS MARKET (01/7/2026): IHSG Berpotensi Menguji Area Resistensi 5.784 – 5.811
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih tinggi pada perdagangan Selasa (30/06/26), sekaligus menutup kuartal kedua dan paruh pertama tahun 2026 dengan kinerja positif.
Dow Jones Industrial Average naik 0,3% ke rekor tertinggi 52.319,20, S&P 500 menguat 0,8% menjadi 7.499,36, sementara Nasdaq Composite melonjak 1,5% menjadi 26.213,72.
Penguatan ini didorong oleh pemulihan saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI), bersamaan dengan optimisme investor mengenai ketahanan ekonomi Amerika Serikat menjelang serangkaian rilis data tenaga kerja penting minggu ini.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung positif didukung oleh data pasar tenaga kerja yang tetap solid. Laporan JOLTS menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan pada bulan Mei meningkat menjadi 7,594 juta, lebih tinggi dari ekspektasi 7,296 juta, menandakan bahwa permintaan tenaga kerja tetap kuat. Data ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS tetap tangguh, meskipun di sisi lain, data ini juga mengurangi peluang Federal Reserve untuk segera melonggarkan kebijakan moneternya. Investor kini menunggu rilis data ADP Employment, Challenger Job Cuts, dan Non-Farm Payrolls (NFP) sebagai petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga Fed.
GEOPOLITIK: Perhatian investor tetap tertuju pada perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun kedua negara telah menandatangani pakta perdamaian sementara yang membantu meredakan ketegangan di Timur Tengah dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, sejumlah isu strategis masih belum terselesaikan. Diskusi teknis lebih lanjut dijadwalkan akan berlangsung di Doha, Qatar, sehingga kemajuan negosiasi tetap menjadi faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar global dan harga energi.
REGULASI & KEBIJAKAN: Fokus kebijakan tetap tertuju pada arah kebijakan Federal Reserve. Indikator inflasi pilihan The Fed (Core PCE) sebelumnya meningkat ke level tertinggi sejak Oktober 2023 karena lonjakan harga energi selama konflik Iran. Meskipun harga minyak telah turun kembali, tekanan inflasi diperkirakan masih membutuhkan waktu untuk sepenuhnya mereda. Dengan kondisi pasar tenaga kerja yang tetap kuat, ruang bagi Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga semakin terbatas dan pasar sekarang mulai mempertimbangkan potensi kebijakan moneter yang lebih ketat dalam beberapa bulan mendatang.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) sedikit menguat sebesar 0,1% menjadi 101,20 setelah data tenaga kerja memperkuat ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang lebih ketat. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun naik menjadi 4,40%, sementara imbal hasil 2 tahun meningkat menjadi 4,20%. Sementara itu, Yen Jepang melemah hingga menembus 162 per dolar AS, level terendahnya sejak 1986, sehingga meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap potensi intervensi oleh otoritas Jepang. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10 tahun juga naik menjadi sekitar 2,67%, mencerminkan ekspektasi bahwa Bank Sentral Jepang akan terus menormalisasi kebijakan moneternya.
PASAR EROPA & ASIA: Mayoritas pasar saham Eropa ditutup lebih tinggi pada perdagangan Selasa (30/06/26). STOXX Europe 600 (EU600) naik 0,88% menjadi 641,72, DAX Jerman menguat 1,5% menjadi 24.979, CAC 40 Prancis naik 0,4% menjadi 8.404, FTSE MIB Italia bertambah 1,0% menjadi 51.682, sementara FTSE 100 Inggris ditutup sedikit lebih tinggi dan mencatat kuartal positif keenam berturut-turut.
-Di Asia, mayoritas indeks saham juga ditutup lebih tinggi. Nikkei 225 Jepang naik 0,86% menjadi 70.062 dan TOPIX menguat 0,32% menjadi 3.995 Sejalan dengan pemulihan saham teknologi dan AI, Shanghai Composite naik 0,5% menjadi 4.094, sementara Shenzhen Component melonjak 2,48% menjadi 16.206 setelah data PMI China melampaui ekspektasi. KOSPI Korea Selatan naik 0,97% menjadi 8.476 dipimpin oleh kenaikan saham semikonduktor. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong turun 0,6% menjadi 22.881 karena aksi ambil untung meskipun pemerintah China terus memberikan dukungan kebijakan.
KOMODITAS: Harga minyak melanjutkan tren pelemahannya seiring dengan meredanya kekhawatiran atas gangguan pasokan global menyusul pakta perdamaian sementara yang dicapai antara Amerika Serikat dan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Minyak mentah Brent turun 0,7% menjadi USD73,42/barel, sementara WTI melemah 1,0% menjadi USD70,05/barel.
-Harga emas spot turun 0,1% menjadi USD4.011,82/troy ounce, sementara emas berjangka melemah 0,3% menjadi USD4.026,30/troy ounce, tertekan oleh penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi yang akan bertahan lebih lama. Di sisi lain, batu bara termal turun di bawah USD130/ton, tembaga bertahan di atas USD6,1/pound tetapi masih menuju penurunan bulanan lebih dari 4%, sementara timah di Inggris turun menjadi sekitar USD50.550/ton, level terendah dalam lebih dari tujuh minggu karena meredanya optimisme atas investasi infrastruktur AI.
AGENDA HARI INI: Jepang (JP): Indeks Produsen Besar Tankan Kuartal 2, Kepercayaan Konsumen Juni. China (CN): PMI Manufaktur Caixin/RatingDog Juni. Zona Euro (EA): Tingkat Inflasi Kilat Juni YoY. Indonesia (ID): PMI Manufaktur Global S&P Juni, Neraca Perdagangan Mei, Tingkat Inflasi Juni YoY, Tingkat Inflasi Inti Juni YoY, Ekspor Mei YoY, Impor Mei YoY, Tingkat Inflasi Juni MoM, dan Kedatangan Turis Asing Mei YoY.
INDONESIA: Pemerintah secara resmi menerapkan biodiesel B50 wajib mulai 1 Juli 2026, sebagai kelanjutan dari program B40, dengan pasokan bahan baku yang dipastikan aman. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat keamanan energi, mengurangi impor bahan bakar, dan meningkatkan permintaan CPO domestik. Pemerintah juga melaporkan bahwa ekspor CPO meningkat dari 26 juta ton menjadi 32 juta ton, sekaligus membuka peluang ekspor baru ke Belarus untuk CPO dan kakao, bersamaan dengan kerja sama mekanisasi pertanian.
-Selain itu, PT. Pertamina Patra Niaga menurunkan harga sejumlah bahan bakar non-subsidi mulai 1 Juli 2026, menyusul penurunan harga minyak dunia. Harga Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan avtur mengalami penurunan, sementara Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Green 95 tetap tidak berubah. Langkah ini berpotensi menekan biaya logistik, transportasi, dan tekanan inflasi energi.
-Di sisi lain, Kementerian Tenaga Kerja mencatat bahwa sekitar 43.000 pekerja terkena dampak PHK sepanjang Semester Pertama 2026, yang didominasi oleh sektor manufaktur.Pemerintah memperkuat upaya mitigasi melalui dialog dengan pelaku bisnis dan serikat pekerja, sementara dunia bisnis menilai bahwa tingginya jumlah PHK dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi, tingginya biaya operasional, dan ketidakpastian regulasi, yang berpotensi menekan konsumsi domestik dan aktivitas investasi.
-JCI menutup semester pertama 2026 dengan penurunan 3,05% menjadi 5.643,19. Dengan demikian, JCI mengalami penurunan selama enam bulan berturut-turut dengan pelemahan mencapai 34,74% secara tahunan (YTD). Sepanjang perdagangan, JCI bergerak dalam kisaran 5.638,57 – 5.811,67. Investor asing kembali mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp1,21 triliun, sehingga total penjualan bersih kumulatif tahun berjalan (YTD) mencapai Rp88,02 triliun. Tekanan jual asing terutama terjadi di BBCA, BBRI, BMRI, ASII, dan AADI, sementara arus masuk dana asing tercatat di TPIA, AMMN, ANTM, ESSA, dan MTEL. Secara teknis, JCI masih bergerak dalam saluran tren menurun dan diperdagangkan di bawah semua rata-rata pergerakan utamanya (EMA10, EMA20, dan EMA50), yang menunjukkan bahwa tren jangka pendek hingga menengah masih dalam fase bearish dengan tekanan jual yang tetap dominan. Selain itu, JCI telah menembus di bawah level support Fibonacci Retracement (FR) 61,80%, membuka peluang pelemahan lebih lanjut menuju area support 5.523, kemudian support utama di 5.317, dan support psikologis di 5.200 jika tekanan jual berlanjut.
“Di sisi lain, jika terjadi rebound teknis, JCI berpotensi menguji area resistensi 5.784 – 5.811, kemudian 5.876. Penembusan yang disertai peningkatan volume di atas area tersebut akan menjadi indikasi awal pembalikan tren sekaligus membuka peluang transisi dari tren menurun menuju fase konsolidasi atau pemulihan yang lebih kuat,” sebut analis Samuel Sekuritas dalam riset Rabu (01/7).




