ANALIS MARKET (30/6/2026): Ada Peluang Rebound
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih tinggi pada perdagangan Senin (29/06/26) setelah sektor teknologi dan layanan komunikasi pulih dari tekanan tajam minggu lalu.
Dow Jones Industrial Average naik 0,59% menjadi 52.182,74, S&P 500 menguat 1,18% menjadi 7.440,43, dan Nasdaq Composite melonjak 2,07% menjadi 25.820,14.
Pemulihan ini terutama didorong oleh saham teknologi dan komunikasi yang sebelumnya terkoreksi lebih dari 5%, meskipun apresiasi pasar belum meluas karena banyak sektor masih bergerak turun.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung positif dengan fokus investor kembali ke sektor teknologi setelah koreksi tajam minggu lalu. Namun, pelaku pasar tetap berhati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat pada hari Kamis, yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Di sisi lain, data Deutsche Bank menunjukkan bahwa ETF dan reksa dana berbasis teknologi mengalami arus keluar sebesar US$9,3 miliar pekan lalu, yang mencerminkan bahwa beberapa investor masih melakukan diversifikasi ke sektor lain.
GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik kembali menjadi fokus setelah Amerika Serikat dan Iran melancarkan serangan satu sama lain pada akhir pekan. Iran dilaporkan menyerang sejumlah kapal yang melewati Selat Hormuz, sementara AS membalas dengan menyerang fasilitas militer Iran. Meskipun demikian, kekhawatiran pasar sedikit mereda setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah mengusulkan pertemuan diplomatik di Doha, Qatar, meskipun pemerintah Iran membantah adanya agenda negosiasi tersebut. Kondisi ini menyebabkan kenaikan kembali premi risiko geopolitik tetapi belum memicu kepanikan di pasar keuangan global.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) melemah menjadi 101,2 dari level tertinggi 14 bulan sebelumnya seiring dengan menurunnya ekspektasi inflasi karena penurunan harga energi. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun turun di bawah 4,38%, level terendah sejak awal Mei, sementara imbal hasil obligasi Treasury AS 2 tahun sedikit naik menjadi 4,12%. Sementara itu, USD/JPY bertahan di sekitar 161,7, mendekati level tertinggi sejak 1986 meskipun data penjualan ritel Jepang menunjukkan pertumbuhan yang kuat.
PASAR EROPA & ASIA: Sebagian besar pasar saham Eropa bergerak beragam dalam perdagangan Senin (29/06/26). Indeks STOXX Europe 600 naik sedikit sebesar 0,04% menjadi 636,10, sementara DAX Jerman turun 0,2%, CAC 40 Prancis melemah 0,2%, FTSE MIB Italia turun 0,2%, dan FTSE 100 Inggris ditutup relatif stagnan karena investor terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah.
-Di Asia, sebagian besar bursa ditutup lebih tinggi. Shanghai Composite naik 1,16%, Shenzhen Component menguat 0,19%, Hang Seng Hong Kong melonjak 1,60%, Nikkei 225 Jepang naik 0,15%, TOPIX bertambah 0,47%, dan Indeks Straits Times Singapura menguat 0,33%. Sementara itu, KOSPI Korea Selatan menjadi satu-satunya indeks utama yang ditutup lebih rendah, turun 0,20% karena munculnya kembali kekhawatiran atas konflik AS-Iran.
KOMODITAS: Harga minyak kembali menguat setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mendorong premi risiko geopolitik sekali lagi. Minyak mentah Brent naik sekitar 1,6% menjadi US$73,77 per barel.
-Di sisi lain, harga emas spot turun 1,8% menjadi US$4.016,92 per troy ounce, sementara harga emas berjangka melemah 1,6%. Pelemahan emas terjadi di tengah menguatnya selera investor terhadap aset berisiko setelah saham teknologi pulih.
AGENDA HARI INI:
-Australia (AU): Risalah Rapat Bank Sentral Australia (Risalah Rapat RBA).
-China (CN): Indeks PMI Manufaktur NBS Juni.
-Prancis (FR): Inflasi Awal Juni (YoY).
-Italia (IT): Inflasi Awal Juni (YoY).
INDONESIA: Pemerintah terus memperkuat fundamental ekonomi melalui kombinasi kebijakan fiskal, moneter, dan likuiditas perbankan. Kementerian Keuangan memutuskan untuk mengembalikan dana Saldo Anggaran (SAL) sebesar Rp110 triliun yang sebelumnya ditarik dari Asosiasi Bank Negara (Himbara), sehingga total penempatan dana pemerintah di bank tetap Rp281 triliun dan diperpanjang hingga akhir Desember 2026. Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan tambahan Rp100 triliun sebagai fasilitas siaga untuk menjaga likuiditas perbankan di tengah tingginya permintaan kredit, yang hingga Mei 2026 masih tumbuh 11,5% (YoY). Di sisi lain, pemerintah optimistis bahwa perekonomian Indonesia mampu tumbuh hingga 8% secara bertahap melalui penguatan investasi, ekspor, reformasi fiskal, dan peningkatan produktivitas nasional. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), yang menyediakan pembiayaan bagi UMKM berorientasi ekspor dengan suku bunga maksimal 6%, yang bahkan dapat diturunkan menjadi 4% untuk mendorong ekspansi ekspor nasional. -Dari sisi moneter, kebijakan Bank Indonesia untuk menaikkan Suku Bunga BI sebesar 100bps sepanjang tahun 2026 telah mulai menunjukkan hasil positif. Hingga 26 Juni 2026, arus masuk dana asing ke dalam instrumen Surat Berharga Pemerintah (SBN) dan Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah mencapai sekitar US$9 miliar, yang mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia. Kombinasi arus masuk modal asing, penguatan likuiditas perbankan, dan dukungan pemerintah untuk investasi dan ekspor berpotensi menjadi sentimen positif bagi stabilitas rupiah, pasar obligasi, dan sektor perbankan. Namun, suku bunga yang masih tinggi terus berpotensi menghambat laju pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi domestik, yang berarti keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi makro akan tetap menjadi fokus utama kebijakan pada paruh kedua tahun 2026.
-JCI ditutup lebih rendah sebesar 1,28% ke level 5.820,79, setelah sempat bergerak di kisaran 5.800,29 – 5.942,77 sepanjang perdagangan. Investor asing kembali mencatat penjualan bersih sebesar Rp854,10 miliar, sehingga penjualan bersih kumulatif tahun berjalan (YTD) mencapai Rp86,81 triliun. Tekanan penjualan asing terutama terjadi di BBCA, BMRI, TLKM, BBRI, dan AADI, sementara arus masuk dana asing tercatat di DSSA, PGAS, ANTM, BREN, dan BUMI. Secara teknis, JCI masih bergerak dalam saluran tren menurun dan diperdagangkan di bawah semua rata-rata pergerakan utamanya (EMA10, EMA20, dan EMA50), menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi pergerakan pasar. JCI juga telah menembus level terendahnya dalam dua minggu terakhir, membuka peluang untuk melanjutkan penurunan menuju support di 5.722, yang dekat dengan Fibonacci Retracement (FR) 61,80%. Di sisi lain, indikator Relative Strength Index (RSI-14) berada di level 37,9, menunjukkan bahwa momentum bearish masih relatif kuat tetapi belum memasuki area oversold.
“Selama JCI mampu bertahan di area 5.722, ada peluang untuk rebound teknis. Jika rebound terjadi, JCI berpotensi menguji resistance di 5.996 – 6.013, dan jika mampu menembus area tersebut, apresiasi berpotensi berlanjut menuju 6.097 hingga 6.221 – 6.287. Namun, jika level support 5.722 gagal bertahan, risiko koreksi yang lebih dalam menuju 5.677 hingga 5.594 tetap terbuka,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Selasa (30/6).




