ANALIS MARKET (17/7/2026): IHSG Masih dalam Tren Bullish Jangka Pendek
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Kamis (16/07/26), tertekan oleh aksi jual saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor, setelah peningkatan panduan belanja modal (capex) dari produsen chip terbesar di dunia, TSMC, memicu kekhawatiran atas skala investasi AI yang sangat besar.
Indeks S&P 500 turun 0,5% menjadi 7.533,77, Nasdaq Composite merosot 1,5% menjadi 25.881,95, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 0,2% menjadi 52.552,97 setelah sempat menguat hingga 0,5%.
Pelemahan di sektor teknologi diimbangi oleh kenaikan di sektor perawatan kesehatan dan barang konsumsi pokok, dipimpin oleh lonjakan saham UnitedHealth dan Abbott Laboratories setelah rilis pendapatan yang melebihi ekspektasi.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung berhati-hati di tengah aksi ambil untung pada saham AI, meskipun fundamental sektor semikonduktor masih menunjukkan prospek yang kuat. TSMC membukukan lonjakan laba bersih triwulanan sebesar 77% menjadi T$706,6 miliar (US$22 miliar), jauh melebihi ekspektasi pasar, serta menaikkan proyeksi belanja modal tahun 2026 menjadi US$60–64 miliar dan mengumumkan investasi tambahan sebesar US$100 miliar di Arizona. Namun, investor tetap khawatir terhadap valuasi yang tinggi dan pengeluaran modal besar-besaran perusahaan AI. Fokus pasar kini beralih ke musim laporan keuangan perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Intel, Tesla, Microsoft, Meta, Amazon, Apple, dan Qualcomm, yang akan menjadi penentu keberlanjutan tren AI.
-Dari sisi makroekonomi, Penjualan Ritel AS bulan Juni naik 0,2% MoM, sesuai dengan ekspektasi, sementara klaim pengangguran awal turun menjadi 208 ribu, lebih rendah dari perkiraan 216 ribu, mencerminkan konsumsi rumah tangga dan pasar tenaga kerja yang tetap solid. Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, menyatakan bahwa suku bunga yang "sedikit lebih tinggi" masih diperlukan untuk memastikan inflasi kembali ke target, sehingga memunculkan kembali ekspektasi kebijakan moneter yang lebih agresif.
GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah militer AS melanjutkan serangan terhadap Iran menyusul eskalasi konflik di sekitar Selat Hormuz. Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan AS mengganggu jalur pelayaran strategis dan memperingatkan akan adanya respons jika infrastruktur mereka kembali menjadi target. Konflik ini kembali mendorong premi risiko lebih tinggi di pasar energi.
REGULASI & KEBIJAKAN: Pasar mencermati pergeseran ekspektasi kebijakan moneter Fed setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan sempat mengurangi peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Namun, komentar hawkish dari Presiden Fed Dallas, Lorie Logan, yang mendukung suku bunga sedikit lebih tinggi, membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) menguat hingga sekitar 100,6, didukung oleh data ekonomi AS yang tetap solid. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun naik mendekati 4,60%, sementara imbal hasil 2 tahun meningkat menjadi 4,16%, mencerminkan penguatan ekspektasi kenaikan suku bunga lagi. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun bertahan sekitar 2,69%, sementara imbal hasil 2 tahun naik menjadi 1,44%. Sementara itu, nilai tukar USD/JPY stabil di kisaran 162 per dolar AS.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa bergerak beragam. FTSE 100 Inggris naik 0,5%, didukung oleh laporan pendapatan perusahaan yang solid. Sebaliknya, DAX Jerman turun 0,3%, CAC 40 Prancis sedikit melemah, FTSE MIB Italia turun 0,1%, sementara STOXX Europe 600 menguat 0,16% menjadi 643,72.
-Pasar Asia juga bergerak bervariasi. Hang Seng Hong Kong menguat 1,3% menjadi 25.009 didorong oleh optimisme atas moderasi inflasi AS. Sebaliknya, Nikkei 225 Jepang turun 2,79% dan TOPIX melemah 1,45% karena aksi jual saham semikonduktor. KOSPI Korea Selatan anjlok 6,37% karena tekanan pada saham teknologi. Di Tiongkok, Shanghai Composite turun 1,85%, sementara Shenzhen Component melemah 1,97%.
KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas cenderung beragam dalam perdagangan Kamis (16/07/26). Harga WTI turun 0,82% dan bertahan di sekitar US$80/barel, sementara Brent sedikit melemah sebesar 0,01% di kisaran US$85/barel di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Emas turun 1,97% menjadi sekitar US$3.980/ounce karena kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar. Batubara termal Australia turun di bawah US$129/ton, sementara tembaga naik sedikit sebesar 0,04% menjadi di atas US$6,3/lb didukung oleh penurunan produksi di Chili. CPO Malaysia menguat di atas MYR4.550/ton karena prospek ekspor yang membaik. Di sektor logam, timah turun 1,92% menjadi sekitar US$52.000/ton karena kekhawatiran atas pengeluaran infrastruktur AI, sementara nikel naik 1,66% menjadi sekitar US$17.110/ton setelah pulih dari level terendah enam bulan.
AGENDA HARI INI: China (CN): Investasi Langsung Asing (FDI) Juni YTD YoY. Amerika Serikat (AS): Izin Pembangunan Juni (Pendahuluan), Pembangunan Perumahan Juni, dan Sentimen Konsumen Michigan Juli (Pendahuluan).
INDONESIA: Realisasi investasi Indonesia pada semester pertama tahun 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau 49,5% dari target tahunan sebesar Rp2.041,3 triliun, tumbuh 7,2% YoY di tengah tantangan geopolitik global. Investasi ini berhasil menyerap 1,45 juta pekerja (+15% YoY), dengan komposisi investasi domestik (PMDN) sebesar Rp502,9 triliun (49,8%) dan investasi asing langsung (PMA) sebesar Rp507,6 triliun (50,2%). Sektor logam dasar tetap menjadi kontributor terbesar, sementara Singapura terus menjadi investor asing terbesar. Selain itu, investasi hilir mencapai Rp300,1 triliun (+6,9% YoY) atau menyumbang 29,7% terhadap total investasi nasional, didominasi oleh sektor mineral seperti nikel, bauksit, dan tembaga, sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperkuat hilir dan meningkatkan nilai tambah industri.
-Selain itu, para ekonom menilai bahwa kualitas investasi masih perlu ditingkatkan agar dapat memberikan dampak yang lebih besar pada pertumbuhan ekonomi. Meskipun realisasi investasi pada kuartal kedua tahun 2026 mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1% YoY, pertumbuhan ini sebagian besar didukung oleh PMA yang melonjak 27,5% YoY, sementara PMDN justru mengalami kontraksi sebesar 7,8% YoY, menandai kontraksi pertama sejak kuartal pertama tahun 2021. Di sisi lain, penyerapan tenaga kerja mencapai 742.293 orang, tetapi investasi tetap terkonsentrasi pada sektor padat modal seperti hilir mineral dan pertambangan yang memiliki kapasitas penyerapan tenaga kerja yang relatif rendah. Pemerintah dinilai perlu mendorong investasi ke sektor padat karya seperti manufaktur, makanan dan minuman, tekstil, elektronik, serta ekonomi digital, disertai dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, kemudahan berbisnis, dan kepastian regulasi. Dengan demikian, investasi tidak hanya akan meningkatkan nilai tambah industri, tetapi juga memperluas kesempatan kerja, memperkuat daya beli masyarakat, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan hanya sekitar 4,9% YoY pada kuartal kedua tahun 2026.
-JCI ditutup lebih tinggi sebesar 1,10% ke level 6.108,21. Sepanjang perdagangan, JCI bergerak dalam kisaran 6.024,35 – 6.108,21. Investor asing mencatatkan pembelian bersih di Pasar Reguler sebesar Rp283,41 miliar, sementara di seluruh pasar investor asing mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp1,22 triliun. Arus masuk dana asing terutama masuk melalui BMRI, ANTM, BBRI, TPIA, dan RANS, sementara tekanan jual asing tercatat di TLKM, BRMS, ASII, BBCA, dan ENRG. Rupiah Indonesia menguat menjadi sekitar Rp17.969 per dolar AS (+0,41%) pada hari Kamis, menguat untuk sesi ketiga berturut-turut karena dolar AS melemah lebih lanjut setelah inflasi AS yang lebih rendah mengurangi spekulasi kenaikan suku bunga Fed dalam waktu dekat.
-Secara teknis, JCI masih bergerak di atas EMA10 dan EMA20, menunjukkan bahwa tren bullish jangka pendek masih dipertahankan setelah berhasil keluar dari pola saluran menurun minor. Selain itu, EMA10 telah membentuk persilangan bullish terhadap EMA20, menunjukkan bahwa momentum penguatan mulai dikonfirmasi dan meningkatkan peluang untuk kelanjutan tren naik dalam jangka pendek. JCI memiliki peluang untuk melanjutkan penguatannya menuju kisaran 6.171 – 6.226. Jika mampu menembus area tersebut, penguatan berpotensi berlanjut menuju resistensi dinamis EMA50 di sekitar 6.258. Sementara itu, support terdekat berada di 6.024 dan 5.987, dengan support kuat berikutnya di 5.949 jika tekanan jual meningkat lagi. RSI (14) meningkat ke level 53,98, menunjukkan bahwa momentum bullish masih dipertahankan dan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatannya.
“Kami menyarankan investor untuk tetap mengikuti tren dengan menerapkan trailing stop untuk mengunci keuntungan yang telah terbentuk. Penambahan posisi (averaging up) dapat dilakukan secara bertahap jika JCI mampu bertahan di atas 6.095 dan melanjutkan penguatannya menuju area resistensi,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (17/7).




