ANALIS MARKET (27/2/2026): Antisipasi Demand yang Stabil untuk SBN Berdenominasi Rupiah
Pasardana.id – Riset harian fixed income BNI Sekuritas menyebutkan, harga Surat Utang Negara (SUN) ditutup mixed pada sesi perdagangan kemarin (26/2).
Data PHEI menunjukkan, yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0109) naik sebesar 2 bp ke level 5,74%, sementara yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0108) turun sebesar 2 bp menjadi 6,39%.
Berdasarkan data Bloomberg, yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) turun sebesar 1 bp ke level 6,42%.
Level yield curve 10-tahun masih berada di dalam weekly estimated range di kisaran 6,23%-6,48%.
Volume transaksi SBN secara outright traded tercatat sebesar Rp28,2 triliun kemarin, lebih tinggi dari volume transaksi di hari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp24,8 triliun.
FR0082 dan FR0086 menjadi dua seri teraktif di pasar sekunder, dengan volume transaksi masing - masing sebesar Rp4,3 triliun dan Rp2,8 triliun.
Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp7,3 triliun.
Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menguat sebesar 0,24%, bergerak dari level Rp16.800/US$ di hari Rabu menjadi Rp16.759/US$ kemarin.
Sementara itu, per Jumat (27/2) pagi ini, indikator global menunjukkan sentimen yang positif bagi pasar obligasi, tercermin dari penurunan yield US Treasury (UST).
Yield curve UST 5-tahun dan 10-tahun masing-masing turun sebesar 4bp dan 3bp dari hari sebelumnya menjadi 3,57% dan 4,02%.
Adapun Credit Default Swap (CDS) 5-tahun Indonesia bertahan di 81bp.
“Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, BNI Sekuritas mengantisipasi kondisi demand yang stabil untuk Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi Rupiah. Berdasarkan valuasi yield curve, BNI Sekuritas memperkirakan bahwa obligasi berikut akan menarik bagi para investor: FR0100, FR0080, FR0108, FR0098, FR0079, FR0106,” sebut Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas, Amir Dalimunthe dalam riset Jumat (27/2).

