Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (23/10/2026): Buy on Weakness!

Oleh: Ria

23 Oktober 2026, 09:59
ANALIS MARKET (23/10/2026): Buy on Weakness!

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada hari Kamis (26/10/22), dengan tekanan terbesar datang dari saham sektor teknologi dan semikonduktor.

Indeks S&P 500 turun 1,2% menjadi 7.663,43, Nasdaq Composite anjlok 2,6% menjadi 26.008,86, sementara Dow Jones Industrial Average relatif stagnan di angka 52.867,98.

Saham Meta turun 7% meskipun melaporkan laba dan pendapatan yang lebih tinggi; sementara itu, Nvidia melemah 4,4%, AMD anjlok 8,1%, dan Intel turun 8%.

Lam Research juga terkoreksi 11,8% setelah memberikan proyeksi kinerja yang mengecewakan.

Pelemahan ini menunjukkan bahwa para investor kini lebih selektif dalam menilai prospek pertumbuhan perusahaan teknologi, terutama di tengah besarnya kebutuhan investasi untuk kecerdasan buatan (AI).

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar memburuk seiring dengan munculnya keraguan di kalangan investor mengenai apakah potensi imbal hasil dari investasi AI akan sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Rencana Meta untuk meningkatkan belanja modal, ditambah dengan risiko kredit korporasi yang mencapai rekor tertinggi, memperkuat kekhawatiran bahwa ekspansi infrastruktur AI akan semakin bergantung pada pendanaan melalui utang. Perhatian pasar kini tertuju pada laporan kinerja minggu depan dari Alphabet, Microsoft, dan Amazon, yang akan menjadi ujian penting bagi prospek pertumbuhan sektor teknologi. Di tengah ketidakpastian ini, para investor cenderung mengurangi eksposur pada saham berisiko tinggi dan beralih ke instrumen yang lebih defensif.

GEOPOLITIK: Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas energi dan bandara di Arab Saudi. Menyusul serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam, pemerintah AS memerintahkan staf non-darurat beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi. Saudi Aramco juga dilaporkan telah meminta para karyawannya untuk meninggalkan kantor pusat di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh. Sementara itu, AS dan Israel dikabarkan tengah bersiap untuk kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu (midterm elections) AS bulan depan. Eskalasi ini meningkatkan risiko keamanan di kawasan Teluk serta menambah ancaman terhadap kelancaran distribusi energi global.

REGULASI & KEBIJAKAN: Fokus kebijakan minggu depan tertuju pada keputusan dari Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ). Kenaikan harga energi berpotensi mempersulit langkah The Fed selanjutnya, karena tekanan inflasi dapat membatasi ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter. Sementara itu, keputusan BOJ akan menjadi sorotan bagi para pelaku pasar yang memantau arah kebijakan suku bunga Jepang serta prospek mata uang yen. Di sektor teknologi, para investor juga akan menilai apakah skala belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dapat menghasilkan imbal hasil yang memadai, terutama karena perusahaan harus menyeimbangkan kebutuhan ekspansi dengan disiplin modal.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) bergerak relatif stabil di kisaran 101,7, mendekati level terendah dalam tiga minggu. Yen Jepang menguat tipis melampaui 158 per Dolar AS, namun tetap bergerak dalam rentang terbatas menjelang pertemuan BOJ. Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun turun lebih dari 10 basis poin hingga mendekati 5%, sementara imbal hasil tenor 2 tahun melemah 17 basis poin menjadi 4,65%. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke bawah 2,9%—level terendah dalam enam minggu—sedangkan imbal hasil tenor 2 tahun turun tipis menjadi 1,90%. Penurunan imbal hasil di kedua pasar tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap obligasi pemerintah di tengah volatilitas pasar keuangan.

PASAR EROPA & ASIA: Saham-saham Eropa ditutup melemah. Indeks FTSE 100 Inggris mencatat penurunan yang relatif lebih kecil, terbantu oleh penguatan saham sektor farmasi dan barang konsumsi yang mengimbangi tekanan pada sektor perbankan dan pertambangan. Indeks DAX 40 Jerman turun sekitar 1,1% menjadi 25.372, sementara indeks CAC 40 Prancis melemah 1,4% menjadi 7.811. Indeks STOXX Europe 600 turun 1,05% menjadi 637,74. Selain sentimen global, ketidakpastian politik di Prancis turut membebani pasar lokal. Bursa-bursa Asia sebagian besar melemah, terutama pasar yang memiliki eksposur besar terhadap sektor teknologi. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 2,65% ke level 62.908, yang merupakan posisi terendah dalam hampir tiga bulan terakhir. Indeks Hang Seng Hong Kong anjlok 3% ke level 22.935, sementara indeks Shanghai Composite turun 1,5% ke level 3.658 dan indeks Shenzhen Component merosot 3% ke level 11.357. Indeks KOSPI Korea Selatan melemah 3,52% ke level 5.534, level terendah sejak April. Indeks BSE Sensex India turun 0,6% ke level 73.249, sedangkan indeks STI Singapura melemah 0,42% ke level 5.415. Berbeda dengan sebagian besar bursa regional, indeks FKLCI Malaysia justru naik 0,37% ke level 1.608.

KOMODITAS: Harga energi melonjak di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah. Harga minyak Brent naik 4% menjadi US$113,17/barel, sementara minyak mentah AS (WTI) menguat 2,39% menjadi US$99,47/barel, level tertinggi dalam lebih dari sebulan. Di luar sektor energi, harga emas turun 2,80% menjadi US$4.025/ons, level terendah sejak awal Agustus, sementara tembaga melemah 2,76% menjadi US$639,80/lb, mencapai level terendah dalam lima minggu. Harga batu bara naik 0,40% menjadi US$151,15/ton. Minyak kelapa sawit Malaysia menguat 0,64% menjadi MYR4.551/ton didorong oleh ekspor yang kuat dan prospek permintaan yang membaik. Harga timah turun 2,26% menjadi US$50.089/ton, sedangkan nikel melemah 0,70% menjadi US$16.120/ton di tengah aksi penutupan posisi jual (short covering) dan prospek pengurangan produksi secara terkoordinasi di Indonesia.

AGENDA HARI INI:

-Jepang (JP): Tingkat Inflasi (YoY) bulan September.

-Inggris (GB): Penjualan Ritel (MoM) bulan September, serta data awal (flash) PMI Manufaktur dan PMI Jasa bulan Oktober.

-Jerman (DE): Data awal (flash) PMI Manufaktur bulan Oktober.

-Indonesia (ID): Jumlah Uang Beredar (M2) secara tahunan (YoY) bulan September.

INDONESIA: Bank Indonesia (BI) memperpanjang relaksasi rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) untuk kredit/pembiayaan properti hingga 31 Desember 2027, dengan rasio pembiayaan maksimum sebesar 100%. BI juga mempertahankan ketentuan uang muka (down payment/DP) minimum 0% untuk kredit kendaraan bermotor baru hingga periode yang sama. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit di tengah melemahnya permintaan pembiayaan konsumen. Hingga Agustus 2026, pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) melambat menjadi 4,2% secara tahunan (YoY) dengan nilai kredit yang beredar sebesar Rp858,3 triliun, sementara kredit kendaraan bermotor terkontraksi 10,3% (YoY) menjadi Rp127,7 triliun.

-Selain itu, Presiden Prabowo Subianto menargetkan penyaluran kredit kepada masyarakat mencapai Rp400 triliun pada tahun 2027, dengan sasaran sekitar 28 juta keluarga—khususnya petani, nelayan, pelaku UMKM, masyarakat di daerah terpencil, serta kelompok berpenghasilan rendah di perkotaan. Target ini mencerminkan peningkatan signifikan dari realisasi pembiayaan saat ini, yang mencapai sekitar Rp53 triliun dengan dua juta penerima manfaat. Pemerintah berharap perluasan akses kredit ini dapat membantu masyarakat mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dari daerah dan kelompok usaha kecil.

-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,12% ke level 5.387,90 pada perdagangan Kamis (22/10/2026), meskipun investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp1,47 triliun di pasar reguler dan Rp1,49 triliun di seluruh pasar. Di pasar tunai dan pasar negosiasi, investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp15,82 miliar, sehingga total akumulasi jual bersih sejak awal tahun (year-to-date) mencapai Rp120,57 triliun. Tekanan jual terbesar tertuju pada saham BBCA, TLKM, BBRI, BRIS, ASII, BBNI, TINS, BRMS, ANTM, dan PTBA. Sebaliknya, aliran masuk dana asing terbesar terjadi pada saham BMRI, DMAS, AMMN, GOTO, SINI, MDKA, MEDC, ARKO, PTRO, dan SQMI. Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah melemah mendekati level Rp18.040 per Dolar AS, seiring dengan menguatnya Dolar AS menjelang keputusan The Fed pekan depan. Tekanan terhadap Rupiah juga dipicu oleh harga minyak yang bertahan di kisaran US$100 per barel serta kenaikan harga pangan akibat fenomena El Niño. Selain itu, kekhawatiran akan potensi keluarnya modal asing (capital outflow) meningkat menyusul kritik Presiden Prabowo terhadap usulan MSCI untuk mengubah klasifikasi pasar Indonesia.

-Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak fluktuatif namun berhasil ditutup di zona positif. Indikator RSI (14) kembali naik ke level 33,4, yang menunjukkan adanya ruang untuk pemulihan. Jika IHSG mampu menguji level 5.404, terdapat potensi untuk melanjutkan pergerakan menuju level resistensi di 5.387 (EMA10) serta kisaran 5.607–5.631. Namun, jika tekanan kembali meningkat dan IHSG gagal menembus level 5.404, indeks dapat kembali ke posisi 5.317, bahkan berpotensi turun menuju level dukungan (support) di 5.185 / 5.012 / 4.999.

“Para investor disarankan untuk tetap berhati-hati, menerapkan strategi selektif dengan melakukan pembelian saat harga melemah (buy on weakness), serta menunggu konfirmasi lebih lanjut sebelum melakukan akumulasi secara lebih agresif,” sebut analis Kiwoom sekuritas dalam riset Jumt (23/10).

Berita Terkini

See More