ANALIS MARKET (22/10/2026): Buy on Weakness!
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih tinggi pada hari Rabu (26/10/21).
Indeks S&P 500 naik 0,6%, Nasdaq Composite menguat 1,1%, dan Dow Jones bertambah 360 poin.
Saham SpaceX melonjak 7,8% setelah melaporkan laba pertamanya sebagai perusahaan publik dan mengungkapkan adanya pembicaraan merger dengan Tesla, yang sahamnya naik 3,4%.
Super Micro Computer melesat 9,5% berkat proyeksi kuartalan yang kuat, yang turut mendorong kenaikan saham Nvidia sebesar 2,5%, AMD sebesar 3,4%, dan Intel sebesar 1,3%.
Sebaliknya, saham Netflix turun 5,3% setelah memberikan proyeksi laba kuartal keempat di bawah ekspektasi, sementara saham AT&T melemah 6,4%.
SENTIMEN PASAR: Sentimen investor membaik didorong oleh kinerja emiten sektor teknologi serta optimisme terhadap permintaan kecerdasan buatan (AI). Meski demikian, prospek inflasi tetap menjadi perhatian setelah data CPI dan PPI pekan sebelumnya menunjukkan adanya tekanan kenaikan harga. Data perumahan AS juga mengindikasikan bahwa tingginya suku bunga hipotek mulai menekan permintaan. Para investor akan terus memantau data ekonomi serta laporan laba perusahaan untuk menilai keberlanjutan reli pasar.
GEOPOLITIK: Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah serangan rudal menyasar kapal tanker di Selat Hormuz dan fasilitas energi Arab Saudi. Risiko gangguan distribusi energi tetap tinggi, meskipun volume pengiriman minyak mentah dari kawasan tersebut telah melampaui tingkat sebelum perang. Ekspor minyak mentah Arab Saudi naik 7,9% pada bulan Agustus, mencapai level tertinggi sejak Maret. Di sisi lain, Rusia dijadwalkan mengirimkan kapal tanker diesel pertamanya ke AS berdasarkan kesepakatan antara Donald Trump dan Vladimir Putin, sementara Washington tengah menjajaki kerja sama energi dengan perusahaan India, Reliance Industries.
REGULASI & KEBIJAKAN: Federal Reserve dijadwalkan untuk mengambil keputusan mengenai suku bunga pada pekan depan. Pasar memperkirakan probabilitas sekitar 85% bahwa suku bunga akan dipertahankan, namun terdapat peluang sekitar 75% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember. Terkait perdagangan, para investor juga mencermati kemungkinan Amerika Serikat membatalkan rencana pengenaan tarif atas impor tembaga olahan, yang dapat memengaruhi prospek pasar logam industri.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) berada di posisi stabil di sekitar 101,7, sementara Yen Jepang diperdagangkan di kisaran 158,2 per Dolar AS setelah pertumbuhan ekspor bulan September melambat ke tingkat terendah sejak April. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 2 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,81%, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun bertahan di kisaran 5,1%. Di Jepang, imbal hasil obligasi tenor 2 tahun naik menjadi 1,91%, sementara imbal hasil tenor 10 tahun turun ke sekitar 2,9% setelah lelang obligasi tenor 20 tahun mencatatkan permintaan yang kuat.
PASAR EROPA & ASIA:
-Eropa: Saham-saham sebagian besar menguat. Indeks DAX Jerman naik 1,4% menjadi 25.645, level tertinggi sejak 17 September, sementara indeks FTSE MIB Italia naik 1,2% menjadi 49.643. Indeks FTSE 100 Inggris ditutup sedikit lebih tinggi. Indeks STOXX Europe 600 naik 0,91% menjadi 644,48.
-Asia: Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,85% menjadi 64.621, sementara indeks KOSPI Korea Selatan melonjak 3,29% menjadi 5.736. Sebaliknya, indeks Shanghai Composite turun 0,60% menjadi 3.713 dan indeks Shenzhen Component melemah 0,82% menjadi 11.704,4. Indeks BSE Sensex India turun 0,2% menjadi 73.710, sementara indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,9% menjadi 23.652, level terendah sejak Juli 2026. Indeks FKLCI Malaysia naik 0,17% menjadi 1.602.
KOMODITAS: Minyak Brent naik 1% menjadi US$109,9/barel, sementara minyak mentah melemah 4,56% menjadi US$97,15/barel. Harga batu bara turun 0,07% menjadi US$150,55/ton, namun tetap berada di dekat level tertinggi dalam tiga tahun. Emas naik 0,38% menjadi US$4.141/ounce, sementara tembaga turun 0,36% menjadi US$657,95/lb. Minyak sawit Malaysia melemah 1,59% menjadi MYR4.522/ton. Sebaliknya, harga timah melemah 0,17% menjadi US$51.248/ton, sementara harga nikel melonjak 3,65% menjadi US$16.234/ton, didorong oleh aksi penutupan posisi jual (short covering) serta prospek pengurangan produksi di Indonesia.
AGENDA HARI INI:
-Korea Selatan (KR): Keputusan Suku Bunga.
-Uni Eropa (EU): Pertumbuhan Registrasi Mobil Baru (YoY) bulan September.
-Prancis (FR): Indeks Keyakinan Bisnis bulan Oktober.
-Turki (TR): Indeks Keyakinan Konsumen bulan Oktober.
INDONESIA: Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75% dan Lending Facility di 6,50%, sementara Deposit Facility dinaikkan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) tanggal 21–22 Oktober 2026. BI juga memperkuat insentif lindung nilai melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dengan pengurangan biaya lindung nilai hingga 45%, guna menarik aliran masuk modal asing, menjaga stabilitas rupiah, serta mendalami pasar keuangan domestik. Sejak Juni hingga Oktober 2026, optimalisasi instrumen swap dan DNDF telah menarik aliran masuk modal sebesar US$9,9 miliar.
-Di sisi lain, BI secara bertahap menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) bank umum konvensional dari 9% menjadi 7% mulai periode November–Desember 2026, yang diperkirakan akan menambah likuiditas perbankan sekitar Rp190 triliun. Kebijakan ini diambil di tengah tekanan arus keluar modal (capital outflow) menyusul evaluasi MSCI terhadap klasifikasi pasar saham Indonesia. BI menegaskan bahwa stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas, sembari terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan memastikan inflasi tetap berada dalam kisaran target 2,5±1% untuk tahun 2026–2027.
-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,94% ke level 5.328,36 pada perdagangan hari Rabu (21/10/26). Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp527,80 miliar di pasar reguler, dan secara keseluruhan di seluruh pasar mencatatkan jual bersih sebesar Rp70,71 miliar; sementara itu, transaksi tunai dan negosiasi mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp457,09 miliar. Akumulasi jual bersih asing sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD) mencapai Rp119,10 triliun. Tekanan jual asing terbesar terjadi pada saham BMRI, ANTM, TLKM, BBRI, AADI, PTBA, TINS, BBNI, BRIS, dan EMAS. Sementara itu, aliran masuk dana asing terbesar tercatat pada saham BBCA, BRMS, AMMN, DMAS, TPIA, PACK, BRPT, VKTR, MNCN, dan CPIN. Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah menguat, bergerak menuju level Rp18.000 per Dolar AS setelah sempat menyentuh Rp18.060, kemudian pulih menyusul keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI-Rate di angka 5,75% selama empat bulan berturut-turut.
-Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif namun berhasil ditutup di atas level 5.317. Indikator RSI (14) kembali naik ke level 30,8, yang menunjukkan adanya ruang untuk pemulihan. Jika IHSG mampu bertahan di atas level 5.317, terdapat peluang untuk menguji level 5.404; apabila level tersebut berhasil ditembus, indeks berpotensi melanjutkan pergerakan menuju area resistansi di 5.607–5.631. Sebaliknya, jika tekanan kembali meningkat dan IHSG gagal bertahan di atas 5.317, indeks dapat kembali ke level dukungan (support) di 4.999/4.907. Jika level dukungan ini ditembus ke bawah, terdapat risiko pelemahan lebih lanjut menuju area 4.456 (FR 161,80%).
“Para investor disarankan untuk tetap berhati-hati, menerapkan strategi selektif dengan melakukan pembelian saat harga melemah (buy on weakness), serta menunggu konfirmasi lebih lanjut sebelum melakukan akumulasi secara lebih agresif,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (22/10).




