Kementerian BUMN Siap Jadi Pembeli Siaga Bahan Kebutuhan Pokok

Foto : istimewa

Pasardana.id - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) siap menjaga ketahanan pangan nasional dengan menjadi pembeli siaga (off taker) bahan kebutuhan pokok.

Hal tersebut dilakukan karena kondisi rantai pasok dunia diperkirakan masih terganggu pada tahun depan.  

Menteri BUMN, Erick Thohir mengatakan, BUMN siap untuk menjadi pembeli siaga bahan-bahan kebutuhan pokok pada tahun depan.

Namun, syaratnya adalah perlu disertai dengan penugasan yang jelas dari pemerintah terhadap BUMN pelaksana fungsi off taker itu.

Kata Erick, penugasan tersebut diperlukan agar para pemimpin di BUMN pelaksana off taker tidak ragu dan khawatir atas dugaan pelanggaran yang dituduhkan kepada mereka.  

"Bulog dapat menjadi stabilisator (harga), dimana ketika dia mengambil barang (bahan makanan pokok), ternyata ketika harus dikeluarkan, malah tidak bisa keluar, karena harga pada saat pembelian lebih tinggi dibandingkan pada saat akan dikeluarkan. Sehingga dikhawatirkan menjadi kerugian negara. Padahal konsepnya berbeda," ujar Erick usai Rapat Kabinet yang berlangsung di Jakarta, Selasa (6/12).

Erick menekankan mekanisme pelaksanaan fungsi off taker harus diatur agar terdapat dana besar.

Dimana, dana itu disimpan di Perhimpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) dengan bunga murah.

Dengan dana itulah, BUMN pelaksana fungsi off taker menyerap bahan pangan pokok dari petani, kapan pun, baik pada saat harga naik maupun turun.

“Kemudian nanti Bulog bisa menjadi pembeli bahan pangan pokok dari petani yang diputuskan pemerintah, misalnya padi, jagung, tebu dan lain-lain. Ini yang menjadi bagian dari upaya mengamankan rantai pasok pangan. Ini penting karena kondisi rantai pasok dunia masih terganggu di tahun depan,” ujarnya.

Disampaikan Erick, peran BUMN terhadap ketahanan pangan merupakan bentuk antisipasi untuk menekan harga pangan.

Tingginya potensi inflasi pada tahun depan dapat disebabkan oleh dua sumber, yaitu tingginya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan melonjaknya harga pangan.

“Karena itu, BUMN harus membantu Kementerian lain, bagaimana mengintervensi kebutuhan pangan yang naik turun. Tetapi tetap dengan penugasan yang jelas, mana orientasi pasar danmana penugasan yang memang bukan pasar. Salah satu mekanisme yang didorong adalah bagaimana ada dana besar ditaruh di Himbara dengan bunga rendah, lalu ID Food dapat ditugaskan sebagai market, dan Bulog sebagai stabilisator,” pungkasnya.