Nilai Tukar Rupiah Picu KIJA Rugi Rp137 Miliar Pada Akhir September 2022

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (IDX: KIJA) menderita rugi bersih sebesar Rp137,48 miliar dalam sembilan bulan tahun 2022, atau menyusut 23,4 persen dibanding periode sama tahun 2021 yang tercatat sebesar Rp179,23 miliar.

Dampaknya, saldo laba belum ditentukan penggunaanya berkurang 7,05 persen dibanding akhir tahun 2021 menjadi Rp1,805 triliun.

Data tersebut tersaji dalam laporan keuangan kuartal III 2022 tanpa audit emiten kawasan industri itu yang diunggah pada laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (23/12/2022).

Rinciannya, penjualan dan pendapatan jasa tumbuh 5,08 persen menjadi Rp1,736 triliun yang ditopang peningkatan penjualan tanah matang sebesar 1,8 persen menjadi Rp328, 58 miliar.

Senada, penjualan tanah dan rumah tumbuh 20 persen menjadi Rp138,49 miliar.

Demikian juga dengan pendapatan jasa dan pemeliharaan yang terkerek 3,4 persen menjadi Rp238,77 miliar.

Lalu penjualan ruang perkantoran dan rumah toko naik 60,8 persen menjadi Rp111,05 miliar.

Berikutnya, pendapatan gudang pelabuhan tumbuh 20,1 persen menjadi Rp155,,63 miliar.

Tapi pendapatan pembangkit tenaga listrik melorot 11,07 persen menjadi Rp514,98 miliar.

Menariknya, beban pokok penjualan dan pendapatan jasa dapat ditekan sedalam 14,2 persen menjadi Rp872,77 miliar. Sehingga laba kotor naik 36,2 persen menjadi Rp864,21 miliar.

Sayangnya, beban umum dan administrasi membengkak 7,4 persen menjadi Rp347,75 miliar.

Senasib, beban keuangan naik 0,04 persen menjadi Rp359,14 miliar.

Bahkan beban lain-lain melambung 515,6 persen menjadi Rp197,33 miliar.

Pemicunya, rugi selisih kurs sedalam Rp282,54 miliar atau melonjak 394 persen dibanding akhir September 2021 senilai Rp57,5 miliar.

Akibatnya, KIJA mengalami rugi sebelum pajak penghasilan sebesar Rp94,058 miliar.

Sementara itu, total kewajiban bertambah 6,01 persen dibanding akhir tahun 2021 menjadi Rp6,276 triliun.

Pada sisi lain, ekuitas menyusut 1,3 persen menjadi Rp6,287 triliun.