Menkeu Sri Mulyani Akui Sukuk Berkontribusi 30 Persen Terhadap Pembiayaan APBN

Foto : istimewa

Pasardana.id - Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengungkapkan, penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk memainkan peran yang sangat penting dalam pembiayaan utang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ani, sapaan akrab Sri Mulyani mengatakan kontribusi sukuk kepada pembiayaan APBN mencapai 20 persen hingga 30 persen setiap tahunnya.

Oleh sebab itu, ia menekankan, bahwa sukuk memainkan peran penting dalam pembiayaan APBN.

"Dari tahun ke tahun, sukuk terus berkembang dan terus memainkan peranan yang sangat penting di dalam pembiayaan APBN," ujarnya dalam diskusi The Future of Islamic Capital Market: Opportunities, Challenges, and Way Forward, Kamis (15/7/2021).

Lebih lanjut bendahara negara itu merinci, volume penerbitan sukuk pada awalnya hanya Rp4,7 triliun pada 2008 lalu. Sedangkan, per Juni 2021 total volume penerbitan sukuk sejak awal sudah tembus Rp1.810,02 triliun, dengan outstanding mencapai Rp1.075,83 triliun.

"Apabila kita bandingkan dengan penerbitan SBN biasa, maka sukuk negara berkontribusi sekitar 20 persen hingga 30 persen dari penerbitan surat berharga negara setiap tahunnya," katanya.

Lewat potensi itu, ia mengatakan, pemerintah akan terus mengembangkan pasar sukuk negara melalui diversifikasi produk untuk memenuhi berbagai kebutuhan investor, seperti sukuk retail, sukuk tabungan, sukuk global, project-financing sukuk, cash waqf-linked sukuk (CWLS), dan perkembangan struktur akad sukuk fatwa serta diversifikasi dari underlying asset.

"Berbagai upaya ini diharapkan makin menciptakan alternatif instrumen yang dibutuhkan oleh investor dalam negeri dan sekaligus juga memperdalam pasar keuangan terutama pasar sukuk negara," katanya.

Meskipun begitu, kata Ani, masih ada tantangan penerbitan sukuk pada sektor korporasi yang masih relatif rendah.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penerbitan sukuk oleh korporasi hanya sebesar Rp32,54 triliun per Juni 2021, dengan pangsa pasar 7,44 persen.

Oleh sebab itu, ia mendorong korporasi diversifikasi sumber pendanaan investasi dari sukuk.

Ia berharap sukuk merupakan salah satu sumber pendanaan bagi pembangunan sektor-sektor produktif, sekaligus bisa menjembatani permintaan dana investasi jangka panjang dengan penawaran dari sisi investor Indonesia yang berbasis muslim.

"Ini adalah tantangan yang serius karena perusahaan untuk bisa menerbitkan instrumen sukuk atau obligasi tentu perlu membenahi tata kelola dan juga profitabilitas dari perusahaannya," tandasnya.