ANALIS MARKET (18/6/2021) : IHSG Berpeluang Bergerak Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Kamis, 17/06/2021 kemarin, IHSG ditutup melemah 10 poin atau 0.17% menjadi 6.068. Sektor energi, industry non siklikal, property, kesehatan, transportasi, infrastruktur, consumer siklikal, industry dasar bergerak negatif dan mendominasi penurunan IHSG kali ini. Investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp 633 miliar.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat terbatas dan ditradingkan pada level 5.990 – 6.134. Hati hati di PHP ya oleh pasar,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (18/6/2021).

Adapun cerita di akhir pekan ini akan kita awali dari;

1.AMERIKA BERSIAP

Amerika tengah bersiap di bawah komando Biden untuk mampu melawan persaingannya yang begitu ketat dengan China. Bukan tanpa sebab Biden melihat China sebagai sesuatu yang tidak bisa di lawan seorang diri, oleh sebab itu setiap ada kesempatan bagi Amerika untuk bisa melakukan pembahasan mengenai China dengan negara lain, tentu Amerika akan berusaha mempengaruhi negara lain. Hal ini lah yang dilakukan oleh Biden sejak G7, NATO, Uni Eropa, bahkan ketemu Biden bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Biden mengatakan bahwa China semakin mendominasi hingga saat ini. Biden yang berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Putin, sejauh ini berjalan dengan baik, apalagi Biden sendiri telah menerapkan beberapa aturan main dan prediktabilitas dalam hubungannya dengan Rusia. Saat ini bagi Amerika, China merupakan sebuah focus, karena hubungan Amerika dan China jauh lebih bermakna dari sekedar Amerika – Rusia. Ada kemungkinan pertemuan antara Biden dan Xi Jinping akan terjadi pada KTT G20 di Roma pada bulan October mendatang. Namun selama pertemuan dengan negara negara Quad, Amerika, Jepang, India, dan Australia, Biden terus berusaha mempengaruhi para sekutunya untuk dapat bersatu dalam melawan China. Prioritas Amerika saat ini adalah terus berusaha untuk memperkuat hubungan dengan negara negara yang memiliki visi yang sama dengan Amerika, agar dapat mempengaruhi China untuk dapat meninjau ulang setiap kebijakannya. Pendekatan yang dilakukan oleh Biden, tentu saja mendapatkan perhatian dari China. Zhao Lijian mengatakan bahwa, usaha Biden untuk mempengaruhi negara negara G7 untuk bersatu untuk melawan China merupakan sesuatu yang salah dan sakit. Negara negara G7 sebaiknya memeriksa diri mereka dan membuat resep untuk itu. Padahal bagi China, adanya Biden di Amerika dapat memberikan hubungan yang lebih baik antara Amerika dan China, karena perlakukan buruk dari Presiden Trump sebelumnya. Namun pada kenyataannya, Biden tetap membuat China tetap pada sisi yang defensive karena tetap mempertahankan tarif yang telah ditetapkan sebelumnya. Biden akan terus berusaha untuk menggalang negara negara lain baik, G7 maupun NATO untuk kembali membuka penyelidikan mengenai asal usul Covid 19. Amerika sejauh ini percaya, bahwa cara untuk memperbaiki hubungannya dengan China agar China juga dapat berubah menjadi lebih baik adalah dengan bekerjasama dengan sekutu, mitra dan teman karena posisi China yang begitu dominan dan kuat tidak bisa dikalahkan oleh Amerika seorang diri. Tentu ujung ujungnya adalah Presiden Biden dan Presiden Xi harus bertemu untuk membahas mengenai masalah ini, karena ini akan menjadi salah satu titik balik hubungan antara Amerika dan China, dan KTT G20 akan menjadi kesempatan kedua pemimpin untuk bertemu di Selandia Baru. Pemulihan ekonomi yang dipimpin oleh Amerika dan China akan memberikan dampak yang lebih besar apabila keduanya bersatu, dan hal tersebut hanya bisa dicapai apabila keduanya bersatu karena tentu akan menjadi katalis positive bagi pemulihan ekonomi di negara negara yang masih belum bisa move on dari Corona. Well, situasi dan kondisi akan kian memanas bagi keduanya meskipun baik Amerika dan China sudah melakukan conference call bersama beberapa kali diwakili oleh Liu He dan Katherine. Yuk kita lihat perkembangannya kedepannya.

2.PROYEKSI BANK INDONESIA

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan 7DRRR pada 3.5%, suku bunga pinjaman pada 4.25% dan suku bunga simpanan pada 2.75%. Upaya tersebut seiringan dengan komitmen Bank Indonesia dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional. Selain itu inflasi yang masih terjaga rendah dan nilai tukar yang cukup terjaga stabil menjadi pertimbangan keputusan tersebut. Melalui RDG BI yang diagendakan pada hari Kamis, suku bunga acuan akan tetap dijaga rendah dan kebijakan makroprudensial juga akan tetap longgar, hal ini tentu dengan mempertimbangkan indicator – indicator makro dalam negeri dimana indikasi kenaikan dari inflasi diproyeksikan baru akan terjadi pada awal tahun depan. Meskipun demikian, Bank Indonesia juga memastikan kebijakannya tidak akan terjadi secara drastic, sehingga pelaku pasar tetap dapat tenang. Hingga saat ini BI memandang pemulihan masih terus berlangsung di tengah berbagai ketidakpastian. Di antaranya lonjakan kasus covid di tanah air hingga perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 tumbuh 7% dan di tahun ini berada pada 4,1% hingga 5,1%. Bersama pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia akan terus memantau ketat perkembangan yang terjadi di dalam dan luar negeri. Sehingga kebijakan yang dikeluarkan dapat lebih tepat guna menjaga pergerakan pasar uang maupun pasar modal. Kami cukup senang sebetulnya ketika Bank Indonesia mengatakan bahwa mereka akan menyiapkan stimulus untuk UMKM dan sector sector yang masih belum bisa bangkit akibat pandemic seperti restaurant, café, dan hotel. Tentu hal ini akan menjadi sebuah kabar yang sangat baik, karena sector sector ini masih dalam keadaan yang mengkhawatirkan, meskipun pemulihan mulai terlihat namun dalam tingkat kecepatan yang sangat lambat. Namun kami cukup sedih, ketika Bank Indonesia tidak cukup jujur untuk mengatakan dampak yang terjadi pada pasar kita ketika 2013 silam. Memang benar, secara fundamental kita kuat untuk menahan tekanan dari The Fed, namun secara pasar gejolak tentu tidak bisa kita hindarkan pada tahun 2013. Pertanyaannya sederhana, sudahkah kita belajar dari kesalahan? Atau justru kita terlalu percaya diri untuk bisa melewati fase taper tantrum?

3.SURAT DARI WORLD BANK

World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 berada pada 5.2% hingga 5.8%. Proyeksi tersebut dengan mempertimbangkan penyebaran wabah virus corona yang saat ini masih massif, sehingga memaksa pemerintah untuk mengetatkan mobilitas masyarakat. Pengetatan mobilitas tersebut dinilai dapat memberikan tekanan terhadap progress pemulihan ekonomi dimana program vaksinasi sebagai upaya terhadap pemulihan kesehatan diharapkan dapat berperan bagi naiknya konsumsi dan juga kepercayaan diri pelaku usaha. Namun lambatnya progress tersebut menjadi kekhawatiran terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi baik di tahun ini maupun tahun depan. World Bank mencatat, pertumbuhan ekonomi pada tahun ini diperkirakan parkir di angka 4,4% dan menguat ke level 5% pada tahun depan. Namun demikian, pemerintah memiliki pekerjaan rumah untuk mampu merealisasikan target itu. Di antaranya adalah memulihkan sektor-sektor usaha yang terdampak oleh pandemi sejak tahun lalu, yakni perdagangan, transportasi, dan jasa. Sementara itu, pemerintah optimistis target pertumbuhan yang ditetapkan di kisaran 5,2% — 5,8% pada 2022 bisa terealisasi. Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN memaparkan komponen sasaran prioritas nasional I dalam Rancangan Kerja Pemerintah Tahun 2022 yaitu memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan. Sejumlah komponen sasaran per sektor tersebut berbasis pada target pertumbuhan ekonomi yang telah disepakati. Secara detail, pertumbuhan ekonomi 2022 ditargetkan berdasarkan sektoral. Pertanian ditargetkan dapat tumbuh di 3,6% — 4,0%, Perikanan sebesar 8,31%, serta industri pengolahan berada di 5,3%— 5,9%. Kemudian, pertumbuhan investasi ditargetkan sebesar 5,4% — 6%, pertumbuhan ekspor industry pengolahan sebesar 8,4%, dan pertumbuhan ekspor riil barang dan jasa ditargetkan pada 4,3% — 6,8%. Tentu kami mengharapkan bahwa ketika proyeksi pertumbuhan ekonomi semakin turun, pemerintah dan para regulator mau meluangkan waktunya untuk menyiapkan strategi baru, khususnya terkait dengan percepatan vaksinasi tatkala Covid 19 mengalami kenaikkan. Ini akan menjadi perhatian, karena akan mengganggu prospek pertumbuhan ekonomi di masa yang akan datang. Satu satunya yang bisa menopang pertumbuhan ekonomi kedepannya adalah distribusi dan vaksinasi yang dipercepat.