ANALIS MARKET (05/3/2021) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Kamis, 04/03/2021 kemarin, IHSG ditutup melemah sebesar 85 poin atau sebesar 1.35% menjadi 6.290. Sektor pertambangan, keuangan, infrastruktur, industri dasar, aneka industri, perdagangan, industri konsumsi bergerak negatif dan menjadi kontributor terbesar pada penurunan IHSG kemarin. Sementara investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar 17 miliar rupiah.

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.AKU KECEWA SAMA KAMU OM POWELL

Duilee.., sudah kaya orang pacaran pemirsa. Tapi memang kami kecewa sama Om Powell, bukan kecewa sembarang kecewa pemirsa, kecewa beuraat. Ini sudah termasuk dari hati yang paling dalam. Pasalnya nih, Om Powell mengatakan kemarin bahwa The Fed akan mengamati pergerakan imbal hasil obligasi khususnya jangka panjang yang mengalami kenaikkan lebih tinggi, namun The Fed akan berhenti untuk mengendalikannya. Powell mengatakan bahwa naiknya imbal hasil akhir akhir ini merupakan sesuatu yang penting dan menarik perhatian. Powell prihatin dengan situasi dan kondisi pasar yang tidak teratur karena akan mengancam tujuan yang kami sudah targetkan sebelumnya. Imbal hasil obligasi yang naik dalam beberapa hari terakhir memberikan sebuah gambaran meningkatnya ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat diikuti dengan inflasi yang lebih cepat pulih setelah pandemic berakhir. Pasar terkadang bergejolak karena mengikuti supply and demand yang terjadi di pasar, permasalahannya nih pemirsa, imbal hasil yang lebih tinggi juga sedikit banyak akan memberikan dampak terhadap saham saham yang bergerak di bidang teknologi di Amerika. Powell padahal berulang kali selalu berusaha untuk menyakinkan pasar yang gelisah karena The Fed selalu mengatakan bahwa The Fed tidak akan pernah menarik dukungannya terhadap ekonomi, karena perekonomian harus pulih khususnya setelah pandemic berakhir. Perekonomian yang jauh lebih baik dari sebelum pandemic merupakan sebuah harapan yang diutarakan oleh Powell. Powell hanya mengatakan bahwa The Fed akan mencoba bersabar, karena saat ini situasi dan kondisinya masih jauh dari harapan kami. Menghadapi pertemuan The Fed pada tanggal 16 – 17 Maret, tentu ini semua akan menjadi perhatian pasar dari kacamata manakah Powell akan membawa The Fed untuk melihat situasi dan kondisi pasar saat ini. US Treasury 10y terus mengalami kenaikkan, hal inilah yang mendorong inflasi terus mencatatkan kenaikkan ekspektasi inflasi untuk mencapai nilai tertingginya. Pelaku pasar dan investor

kecewa, karena Powell tidak memberikan informasi, jurus apa yang akan dipakai oleh The Fed untuk menghadapi situasi dan kondisi saat ini meskipun pasar tahu, The Fed memiliki tools untuk mengendalikan situasi dan kondisi tersebut. Namun menurut kami saat ini sikap dan tindakan The Fed sendiri sebetulnya sudah dapat dimaklumi. Lho, maksudnya penulis membela The Fed bukan pasar? Bukan begitu pemirsa. Situasi dan kondisi yang terjadi sekarang ini dimana adanya kenaikkan US Treasury, baru terjadi 1 minggu terakhir, oleh sebab itu, The Fed sendiri belum dapat menyimpulkan apa apa dengan kenaikkan yang baru seumur jagung tersebut. The Fed tentu saja punya tools yang bisa dia gunakan, namun pada kenyataannya dia menahan untuk tidak menggunakannya. Kita harus ingat, bahwa tujuan The Fed bukan hanya mengatur US Treasury kawan kawan, tapi lebih dari itu tujuan The Fed adalah memastikan bahwa inflasi mengalami kenaikkan yang ditopang oleh tenaga kerja maksimum yang terjadi di pasar sehingga memberikan perekonomian fundamental yang kuat. Stabilitas keuangan merupakan tujuan yang kedua setelah tujuan yang pertama tadi. Oleh sebab itu kenaikkan US Treasury menjadi perhatian, namun bukan harus diiringi oleh sebuah keputusan. Tidak selamanya The Fed akan menyenangkan pasar bukan? Powell mengatakan bahwa situasi dan kondisi keuangan sangat akomodatif, dan hal tersebut sesuai mengingat situasi dan kondisi yang harus diterima oleh perekonomian saat ini. Jika memang situasi dan kondisi perekonomian berubah secara material, tentu hari ini atau nanti, The Fed akan menggunakan berbagai jurus yang dimiliki untuk mendorong mencapai tujuan ekonomi yang diinginkan oleh The Fed. Kemarin kita sempat hype terkait dengan operation twist yang akan segera dilakukan. Apakah benar? Kita tidak bisa mengatakan bahwa operation twist akan dilakukan sedangkan The Fednya saja tidak pernah berfikir untuk melakukan hal tersebut. Buktinya apa? Tuh kemarin Om Powell tidak menjawab ketika ditanya apakah operation twist akan dilakukan atau tidak. Kalau The Fednya saja tidak menjawab, berarti tentu alangkah baiknya kita tidak boleh mendahului The Fed akan kepastian akan dilakukan Operation Twist atau tidak. The Fed mengatakan bahwa sikap kebijakan saat ini sudah tepat, dan apapun yang terjadi dengan US Treasury, The Fed akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga di level saat ini sampai pasar tenaga kerja dapat mencapai titik maksimum dan inflasi mengalami kenaikkan menjadi 2% dan berada di arah, dimana inflasi dapat melebihi target tersebut untuk beberapa waktu mendatang. Ketika prospek perekonomian membaik, mungkin saja The Fed akan mencoba menyampaikan terkait dengan ekspektasi kenaikkan tingkat suku bunga pada awal tahun 2023 mendatang. Powell juga ditanya, apakah jangka waktu tersebut sudah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh The Fed? Powell hanya mengatakan bahwa situasi dan kondisi akan selalu bergantung kepada perekonomian kedepannya. Namun Powell mengatakan bahwa perubahan terkait dengan kebijakan terhadap kenaikkan tingkat suku bunga masih sangat jauh. Secara realistis, kenaikkan tingkat suku bunga akan memakan waktu yang tidak sebentar. Powell berusaha untuk menenangkan pasar bahwa perubahan kebijakan The Fed membutuhkan waktu. Powell mengatakan bahwa ada kemungkinan tingkat suku bunga akan naik tahun depan, dan tidak akan bertahan di tempat yang sama karena ada ekspektasi inflasi yang berada di atas 2%. The Fed optimis bahwa pasar ketenagakerjaan di Amerika akan kembali pulih, namun perjalanan tersebut masih sangat panjang. Meskipun ada beberapa tingkat resiko, tapi The Fed percaya bahwa lapangan pekerjaan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang, meskipun tidak akan mencapai ke titik maksimum pada tahun ini. Perekonomian yang mengalami kerusakan tengah berusaha untuk menunjukan tanda tanda kebangkitan pada awal tahun ini. Penjualan ritel mengalami kenaikkan, ditopang oleh manufacture yang mengalami kenaikkan. Pagi ini baik pasar saham maupun obligasi mungkin tidak akan menerima apa yang disampaikan oleh The Fed, namun itulah kenyataannya. Apakah kita lebih tahu daripada The Fed? Mungkin saja. Namun apakah The Fed salah dalam mengambil keputusan? Belum tentu.

2.SEBUAH INSTRUMENT

Program vaksinasi nasional yang ditargetkan dapat mencapai herd immunity 70% penduduk di tahun ini dinilai dapat meningkatkan kepercayaan diri pelaku pasar dan juga konsumen. Guna mendukung ekspansi industry, Kementrian Perindustrian berkomitmen untuk mendukung peningkatan produksi dan serapan baja konstruksi dalam proyek nasional melalui 4 instrument. Pertama, insentif harga gas bumi tertentu US$6 per MMBtu, di mana industri baja menjadi salah satu sektor pengguna. Kedua, mekanisme regulasi impor yang ketat melalui pertimbangan teknis yang sesuai dengan supply demand nasional, sehingga diharapkan produk dalam negeri lebih banyak beredar di dalam negeri. Ketiga, insentif-insentif impor yakni masterlist dan BMTP yang mendukung penyediaan bahan baku terutama bagi industri yang membuka investasi baru atau perluasan investasi. Keempat, kewajiban TKDN untuk proyek nasional. Berdasarkan data historis, pada tahun 2020 penurunan impor terjadi sebesar 30% yang sifatnya adalah impor bahan baku. Hal tersebut tentunya memberikan tekanan pada produktivitas dan aktivitas industry dalam negeri dimana permintaan yang turun berdampak pada kinerja produksi yang juga menyesuaikan. Untuk tahun 2021, kami melihat masih adanya potensi penurunan impor namun tidak lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Selain itu, untuk barang – barang modal yang mencakup dalam kelompok industry baja akan diberikan kemudahan impor dengan tujuan dapat berdampak pada pemulihan produksi industry baja. Selanjutnya perlu pendalaman lebih lanjut terkait target penurunan pada tahun ini dan tahun depan agar pemulihan ekonomi dan pemulihan industri dalam negeri khususnya pengguna besi dan baja tidak terganggu. Jika mengacu pada data historis tahun lalu terjadi penurunan impor 30% atau turun 5,67 juta ton senilai US$4,68 miliar untuk keseluruhan, mulai dari hulu sampai hilir baja. Sejumlah upaya Kemenperin di antaranya melakukan penerapan SNI wajib BJLAS dan warna serta SNI wajib BJLS dan warna. Tak hanya itu, ada pula penerapan kebijakan SNI wajib profil baja ringan yang saat ini masih diproses. Komitmen tersebut seiringan dengan upaya pemerintah dalam pengendalian impor baja dan produk turunannya, sehingga kinerja industry dapat terdorong naik.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah terbatas dan ditradingkan pada level 6.223 – 6.369,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (05/3/2021).