ANALIS MARKET (04/02/2021) : Sentimen Domestik Berpotensi Jadi Katalis Pergerakan Indeks Hari Ini
Pasardana.id – Riset harian Samuel Aset Manajemen (SAM) menyebutkan, pasar global bergerak variatif pada perdagangan Rabu (3/2) kemarin.
Dari AS, Dow naik tipis 36,12 poin, atau 0,12%, menjadi 30.723,60. S&P 500 naik 0,10% menjadi 3.830,17, Nasdaq Composite turun 0,02% menjadi 13.610,54.
Sedangkan dari Eropa, FTSE tercatat turun 0,14%, dan Stoxx600 naik 0,33%.
Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada level RP 14.005,0, menguat.
Selain itu, komoditas utama dunia, yaitu minyak WTI pagi ini dibuka naik 0,38%. sedangkan Brent tidak mengalami perubahan.
Sementara itu, diperdagangan Kamis (04/02) pagi ini, Nikkei 225 turun 0,29% sedangkan Kospi turun 0,69%. Sedangkan Indeks futures di Amerika Serikat, Dow Jones , S&P 500 dan Nasdaq naik masing-masing sebesar 0,15 %, 0,21%, dan 0,34%.
Lebih lanjut, riset juga menyebut beragam factor layak untuk dicermati pelaku pasar, antara lain;
1.Pemerintah kembali menambah anggaran program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) tahun ini menjadi Rp 619 triliun. Angka ini merupakan revisi yang ketiga kalinya dan berpotensi bakal meningkat lagi ke depan. Pemerintah awalnya mematok anggaran stimulus PC-PEN tahun ini sebesar Rp 372,3 triliun yang diumumkan Desember 2020, kemudian direvisi menjadi Rp 403,9 triliun pada 5 Januari, dan terakhir dinaikkan lagi menjadi Rp 553,09 triliun pada 26 Januari lalu.
2.Wakil Ketua Komite Kebijakan Pengendalian Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah menargetkan 70 juta orang disuntik vaksin virus Covid-19 sebelum akhir Semester I-2021. Hal ini diharapkan mampu menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity penduduk Indonesia. Disamping itu, ia mengatakan bahwa program vaksinasi ini bisa rampung pada Maret atau April 2022.
3.Para ekonom kompak memproyeksi realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 mengalami kontraksi hingga 2,3%. Pertumbuhan ekonomi negatif ini efek dari masih berlanjutnya pandemic korona. Bila proyeksi ini menjadi kenyataan, maka akan menjadi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terburuk pasca krisis 1998.
4.Di Tiongkok, pembatasan logistik dalam rangka menekan penyebaran virus korona menyebabkan kenaikan harga pangan dan mendorong inflasi akibat distribusi bahan makanan yang terhambat. Harga daging babi bahkan naik hingga level tertinggi sejak September 2020 akibat kemacetat di Pelabuhan yang memengaruhi pasokan.
“Beragam kondisi tersebut diatas berpotensi jadi katalis pergerakan indeks hari ini,” sebut analis SAM dalam riset yang dirilis Kamis (04/02/2021).
Melalui tulisan ini, kami kembali menyerukan kepada seluruh mitra investasi untuk selalu menjaga kesehatan, mengikuti semua protokol kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik, serta seoptimal mungkin untuk melakukan aktivitas dari rumah. Semoga kita berhasil.

