ANALIS MARKET (27/01/2021) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Selasa, 26/01/2021 kemarin, IHSG ditutup melemah sebesar 118 poin atau sebesar 1.89% menjadi 6.140. Sektor industri dasar, industri konsumsi, perdagangan, aneka industri, keuangan, pertambangan, infrastruktur, perkebunan, property bergerak negatif dan menjadi kontributor terbesar pada penurunan perdagangan IHSG kemarin. Sementara investor asing mencatatkan pembelian bersih sebesar 346 miliar rupiah.

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.TAPER TANTRUM

Ketua The Fed, Om Jerome Powell mengatakan kemarin bahwa dirinya berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti para pembuat kebijakan moneter pada 7 tahun silam. Meskipun waktu itu actor utamanya bukanlah Om Powell, tapi dirinya termasuk ke dalam para pembuat kebijakan 7 tahun silam terkait dengan pengurangan Quantitative Easing, yang dimana justru menyebabkan situasi dan kondisi taper tantrum yang membuat perekonomian mengalami pelemahan dan membuat pasar menjadi lesu pada tahun 2013 silam. Powell memasuki tahun terakhirnya sebagai Ketua The Fed tahun ini, karena masa jabatannya akan berakhir pada tahun February 2022 mendatang. Meskipun demikian kami cukup yakin, bahwa Powell akan diperpanjang untuk menjaga kebijakan yang sudah ada saat ini. Powell akan lebih berhati hati menjelang penyampaian pidato terkait dengan pertemuan Bank Sentral hari ini waktu setempat, khususnya dalam pembahasan mengenai pengurangan pembelian obligasi dari The Fed meskipun di saat yang sama, stimulus fiscal siap beraksi untuk membantu pemulihan perekonomian. Namun bagi kami ini yang justru menimbulkan kekhawatiran, karena ada kemungkinan ketika stimulus fiscal dikeluarkan dalam jumlah yang besar, justru The Fed memiliki potensi untuk mengurangi nilai pembelian obligasinya karena adanya bantuan berlebih dari stimulus fiscal. Meskipun demikian, kami yakin bauran kebijakan antara fiscal dan moneter masih akan menjadi satu kesatuan untuk menghadapi wabah virus corona, dan menjaga prospek pemulihan secepat yang kita bisa. Fokus selanjutnya selain stimulus dan bauran kebijakan disini adalah, bagaimana proses transisi dari Quantitative Easing menjadi Tapering Off, karena moment tersebut merupakan moment yang sangat penting karena proses transisi tersebut harus berjalan dengan sangat hati hati. Kala itu pada tahun 2013 silam, Ketua The Fed Ben Bernanke memberikan saran pada bulan Mei untuk mulai melakukan pengurangan Quantitative Easing. Sontak kala itu imbal hasil obligasi jangka panjang langsung mengalami kenaikkan yang lebih tinggi, mendorong imbal hasil obligasi negara berkembang juga mengalami kenaikkan, ditambah dengan ekonomi yang sebetulnya belum pulih benar malah menjadi tertahan. Apakah mungkin bahwa pengetatan Quantitative Easing tidak akan berdampak apa apa terhadap pergerakan pasar keuangan khususnya di negara Emerging Market? Beberapa hasil survey sebanyak 35% mengatakan bahwa The Fed akan mulai melakukan pengurangan pembelian pada tahun depan khususnya di kuartal pertama. 25% mengatakan bahwa hal tersebut akan terjadi pada kuartal terakhir 2021 yang dimana itu artinya tahun ini. Dan 25% sisanya melihat bahwa ada potensi terjadinya kenaikkan di kuartal kedua tahun 2022 mendatang atau bahkan mungkin lebih. Nilai pembelian yang dilakukan oleh The Fed sejauh ini berbeda dengan apa yang dibeli pada 7 tahun lalu. Dulu The Fed melakukan program pembelian Quantitative Easing dengan total nilai $85 miliar / bulan, dengan $45 miliar dari US Treasury. Sekarang The Fed melakukan Quantitative Easing dengan nilai $120 miliar per bulan dimana $80 miliar berbasiskan US Treasury dan $40 miliar berbasiskan hipotek. Namun kala itu pada tahun 2013 silam, The Fed masih belum memiliki rencana yang cukup jelas terkait dengan kebijakan Quantitative Easing. The Fed mengatakan bahwa mereka akan terus membeli obligasi sampai prospek pasar tenaga kerja mengalami perbaikan secara substansial dalam konteks stabilitas harga. Nah karena adanya rencana yang belum cukup jelas itulah, pasar justru salah memahami apa yang dimaksudkan oleh The Fed. Powell mengatakan bahwa ketidakjelasan seputar Quantitative Easing itulah yang memberikan resiko terhadap stabilitas keuangan. Sejauh ini, dalam pikiran pelaku pasar dan investor ada 2 hal yang cukup menganggu, yaitu masa depan The Fed dibawah kepemimpinan Powell apakah akan terus berlanjut atau tidak. Meskipun kami yakin, ditengah situasi dan kondisi seperti ini, The Fed tidak akan melakukan perubahan kepemimpinan yang akan berpotensi untuk mengubah kebijakan kedepannya. Dan tentu saja kami termasuk dari orang yang sebanyak 75% berdasarkan hasil survey berharap bahwa Presiden Biden akan menawarkan masa jabatannya kembali sekali lagi. Yang kedua adalah potensi adanya Taper Tantrum yang akan memberikan gejolak di pasar keuangan. Powell menyadari bahwa Taper Tantrum telah meninggalkan bekas luka terhadap siapapun yang bekerja di pasar keuangan ataupun The Fed itu sendiri. Powell sendiri merupakan salah satu orang yang cukup khawatir terkait dengan program pembelian asset itu sendiri, karena meskipun keputusan tersebut tepat namun pada akhirnya hasilnya tidak benar benar terlihat pada tahun 2013 silam. Harapan dari seorang Powell bagi kami adalah kami ingin mendengar bahwa Powell masih akan terus mendukung kebijakan Quantitative Easing, dan akan terus memberikan dukungan terhadap perekonomian untuk menopang dan memulihkan perekonomian. Sehingga bagi negara lainnya tentu hal tersebut menjadi salah satu yang cukup menenangkan karena adanya likuiditas di system keuangan yang terjaga. Powell juga berusaha untuk menenangkan kita semua dengan mengatakan bahwa kali ini Powell akan melakukan komunikasi dengan sejelas jelasnya kepada masyarakat dan dunia, sebelum pada akhirnya melakukan pengurangan Quantitative Easing. Meskipun sebetulnya suka atau tidak suka, ketika Quantitative Easing dikurangkan, kenaikkan imbal hasil obligasi mungkin tidak bisa dihindari. Karena ketika The Fed mengurangi dan menghilangkan pembelian obligasi, tentu saja investor akan menuntut imbal hasil yang lebih tinggi sebagai bagian dari daya tarik. Oleh sebab itu yang harus di perhatikan adalah bukan dihindari, tapi harus dihadapi karena situasi dan kondisi tersebut cepat atau lambat akan terjadi. Well, optimis boleh tapi harus tetap realistis ya.

2.TERLALU INDAH UNTUK JADI KENYATAAN

Pemerintah pada akhirnya merevisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2021 ke 4% hingga 5.2% dari sebelumnya 4.5% hingga 5.5%. Kondisi pandemic yang masih belum pulih dinilai menjadikan tekanan pada pertumbuhan riil sector. Inflasi yang masih berada di 1.68% dinilai masih memiliki hambatan untuk naik, terlebih perpanjangan PPKM dapat ikut mengubah asumsi makro dimana hal tersebut juga telah kami sampaikan sebelumnya. Daya beli masyarakat yang mulai membaik sejak penurunan signifikan pada bulan Maret 2020 kali ini per Desember telah berada di 96.5. Namun untuk kembali seperti tahun 2019 memang membutuhkan waktu yang juga tidak sebentar. Belanja pemerintah dari infrastruktur diharapkan dapat menopang daya beli yang belum kembali tersebut, sehingga besaran dari belanja infrastruktur dan juga PEN dinilai dapat menjadi trigger terhadap percepatan pemulihan ekonomi. Berdasarkan data dari Kementrian Ekonomi, anggaran PEN untuk tahun 2021 turun 4% dari sebelumnya Rp 579,78 triliun menjadi Rp 553,09 triliun. Dari keselurunan dana PEN tersebut, sebanyak Rp 104 triliun akan dialokasikan untuk sector Kesehatan. Selain itu, sektor pariwisata dan juga UMKM mendapat prioritas khusus dalam pemulihan ekonomi nasional. Tentu kamu tidak kaget mendengarnya, karena sedari awal pergerakan IHSG di awal tahun, itu semua seperti terlalu Indah untuk jadi kenyataan. Ekspektasi dan harapan yang berlebihan akan pemulihan ekonomi membuat kita lupa bahwa proses pemulihan tersebut tidak semudah dan secepat yang dibayangkan. Proses produksi, distribusi, dan vaksinasi ditambah dengan penyebaran virus jenis baru membuat situasi dan kondisi menjadi kian sulit. Apalagi saat ini situasi dan kondisnya jadi berlomba, mana yang lebih cepat vaksinasi atau penyebaran virus corona sehingga hal ini menjadi sebuah gambaran bahwa meskipun ada vaksinasi, namun pemulihan tidak akan secepat yang dibayangkan. Pengetatan PSBB yang terus diperpanjang pun menjadi salah satu hambatan pulihnya daya beli yang justru mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi. Meskipun menurut kami, sebetulnya untuk menjaga daya beli bukanlah terfokus kepada PSBB tersebut, namun lebih kepada pengendalian wabah virus corona yang memberikan orang rasa aman untuk melakukan konsumsi untuk mendorong daya beli yang nantinya akan terdampak terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi. Kami hanya berharap jangan sampai situasi dan kondisi saat ini terus berlanjut pada bulan bulan berikutnya, karena apabila hal tersebut berlanjut, bukan tidak mungkin pesimisme akan menyelimuti pasar. Oleh sebab itu kami memperkirakan bahwa perekonomian baru akan terlihat gambaran besarnya pada semester kedua mendatang, namun gambaran kecilnya terlihat pada kuartal kedua tahun ini.

3.LAMPU KUNING CPO

Menurunnya permintaan CPO dari China menjelang tahun baru imlek dan pengetatan aktivitas di negara tersebut menjadi perhatian para negara produsen CPO saat ini. China diperkirakan akan lebih banyak mengimpor biji kedelai guna memacu pemulihan industri peternakan babi. China menggunakan biji kedelai dan jagung sebagai bahan pakan ternak. Impor besar- besaran kedua komoditas tersebut dilakukan guna memulihkan industri peternakan babi yang sebelumnya dihantam flu babi afrika. Sebagai informasi, biji kedelai merupakan bahan utama pembuatan minyak kedelai yang merupakan substitusi minyak kelapa sawit. Kenaikan pasokan biji kedelai kini mengancam angka impor CPO China yang telah mencatatkan rekor tertinggi dua tahun lalu. Kenaikan tersebut terjadi ditengah memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Saat ini kekhawatiran datang dari pasokan biji kedelai yang oversupply dinilai akan menggantikan impor minyak kelapa sawit yang biasanya dilakukan China. Selain itu, pemulihan pada jumlah ternak babi di China akan mendorong kenaikan permintaan biji kedelai sekitar 8% hingga 10%. Data dari China National Grain and Oils Information Center menyebutkan, angka impor CPO pada kuartal I/2021 diperkirakan sebanyak 400.000 hingga 500.000 ton per bulan. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan rata-rata impor CPO pada periode Oktober - Desember 2020 di kisaran 650.000 ton hingga 750.000 ton per bulan. Selain itu prospek penurunan permintaan CPO dari China juga ditambah dengan persediaan yang saat ini masih mencukupi. Selain itu kami menilai kekhawatiran pasar terhadap level harga CPO yang terlalu tinggi berdampak pada penurunan permintaan. Dilain sisi, cuaca buruk yang saat ini melanda ikut menurunkan produktivitas dari industry sawit. Turunnya produksi dinilai dapat meredam penurunan dari harga CPO saat ini. Oleh sebab itu kami melihat bahwa CPO masih belum akan memiliki prospek yang stabil kedepannya, kehati hatian akan menjadi point yang penting saat ini khususnya dalam memilih emiten kelapa sawit.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah terbatas dan ditradingkan pada level 6.036 – 6.276. Ada potensi pembalikkan arus loh hari ini, tetap cermati situasi yang terjadi ya,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (27/01/2021).