Inflasi Bulan Juni Dipicu Kenaikan Harga Daging Ayam Ras

Foto : Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto (istimewa)

Pasardana.id - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto menyebutkan, inflasi Juni 2020 sebesar 0,18%. Angka tersebut naik dibandingkan bulan Mei 0,07 persen.

Menurutnya, penyebab utama inflasi ini karena kenaikan harga komoditas sebesar 0,77 persen dengan sumbangannya mencapai 0,13 persen.

"Ada beberapa komoditas yang dominan memberikan andil ke inflasi karena kenaikan harga, misalnya kenaikan daging ayam ras berandil ke inflasi sebesar 0,4 persen," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Rabu (1/7/2020). 

Dijelaskan Suhariyanto, jika melihat pergerakan harga daging ayam ras bulan Juni mengalami kenaikan dan kenaikan itu terjadi di 86 kota, dimana kenaikan tertinggi nya terjadi di Gunung Sitoli yaitu, sebesar 41 persen dan di Lhokseumawe mengalami kenaikan harga naik sebesar 37 persen.

"Sehingga paket bulan ini daging ayam ras menjadi penyumbang utama untuk inflasi Juni 2000," cetusnya.

Selain itu, ada komoditas lainnya yang disebutkan Suhariyanto juga turu menyumbangkan inflasi, yaitu telur ayam ras dengan andil sebesar 0,4 persen.

Sementara itu, ada beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga memberikan andil pada deflasi bulan Juni 2020. 

"Pertama, penurunan harga bawang putih yang memberikan andil ke deflasi sebesar 0,4 persen. Kedua, penurunan harga cabe merah memberikan andil sebesar 0,03 persen," ujarnya.

Selanjutnya, bumbu cabai rawit dan minyak goreng, serta gula pasir masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen. Kemudian, untuk penurunan listrik dan bahan rumah tangga andilnya kepada deflasi sebesar 0,01 persen.

"Penurunan bahan bakar untuk rumah tangga terutama untuk elpiji 12 kilo, di mana ada penurunan harga di sembilan kota itu yang menyebabkan kelompok perumahan air listrik dan rumah tangga memberikan andil kepada deflasi sebesar 0,01 persen. Kelompok pengeluaran untuk makanan minuman dan tembakau ini memberikan andil deflasi sebesar 0,12 persen," ujarnya.

Menurut Suhariyanto, kenaikan tarif angkutan udara masih memberi andil terhadap inflasi 0,02% diikuti kenaikan tarif angkutan antar kota dan tarif angkutan roda dua online dengan andil masing-masing 0,01%.

"Ini terjadi di 24 kota. Kenaikan tertinggi ada di Ternate dengan kenaikan tarif angkutan udara sebesar 20%," kata dia.