Subsidi Bunga KPR Bantu Target Pertumbuhan Kredit BBTN 9,5%

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Stimulus sektor perumahan yang diberikan Pemerintah, diyakini akan mendongkrak kredit konsumsi perbankan, khususnya KPR Subsidi dalam menghadapi dampak penyebaran virus corona.

Pandangan tersebut disampaikan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara di Jakarta, Jumat (28/2/2020).

"Sektor properti di segmen menengah ke bawah tren-nya masih cukup baik. Asal stimulus-nya tepat sasaran, bisa berdampak ke sektor lain, misalnya pertambangan pasir, industri kaca keramik, dan transportasi logistik," ucap Bhima. 

Lebih lanjut Bhima menambahkan, segmen MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) diperkirakan ikut terdongkrak dan akan tumbuh subur.

"Setidaknya pertumbuhan kredit konsumsi tidak terlalu rendah dibawah 5%. Karena mengandalkan kredit kendaraan bermotor cukup sulit, maka KPR segmen perumahan jadi jalan keluarnya," paparnya.

Dihubungi terpisah, Ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, Fajar B. Hirawan menilai, langkah pemerintah yang menjadikan sektor perumahan sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi sudah tepat. Sebab, sektor perumahan merupakan bagian sektor konstruksi.

Fajar melanjutkan, jika dilihat dari struktur PDB Indonesia pada sisi lapangan usaha, sektor konstruksi menempati posisi keempat, setelah industri manufaktur, pertanian, dan perdagangan/ritel.

Di sisi lain, akibat virus corona, industry manufaktur, pertanian, dan perdagangan/ritel mengalami koreksi karena terganggunya arus perdagangan internasional.

Sehingga, jelas Fajar, upaya mengerek ekonomi yang perlu dilakukan adalah memberdayakan atau mengoptimalkan potensi ekonomi dalam negeri.

"Seringkali saya katakan, bahwa gejolak eksternal sulit untuk diantisipasi dan diintervensi. Maka dari itu, gejolak internal-lah yang perlu menjadi fokus karena lebih cenderung feasibel untuk diantisipasi dan diintervensi. Salah satunya, adalah dengan mengoptimalkan potensi sektor perumahan, karena sektor ini mampu bergerak dengan sumber daya ekonomi yang ada di dalam negeri," ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui, harga properti saat ini cenderung stagnan. Maka dari itu, lanjut dia, saatnya sektor perumahan harus bergerak di tengah gejolak pengaruh virus corona.

"Yang pasti, diharapkan pertumbuhan kredit bisa meningkat karena tahun lalu pertumbuhan kredit perbankan sangat rendah yakni single digit. Ideal-nya, harusnya bisa tumbuh double digit," ucap dia.

Adapun hingga saat ini, pangsa pasar KPR Subsidi masih didominasi oleh PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).

Data keuangan emiten bersandi saham BBTN tersebut menunjukkan, bank tabungan ini menguasai 90,82% pasar KPR Subsidi per Desember 2019.

Untuk pasar KPR secara keseluruhan, perseroan juga masih menduduki posisi pemimpin pasar (market leader) dengan pangsa sebesar 40,19% per September 2019.

Sementara itu, BBTN pun memastikan bakal mendapatkan kuota KPR subsidi tambahan dari Pemerintah melalui skema penyaluran subsidi selisih bunga (SSB).

Penambahan kuota KPR subsidi tersebut, dalam rangka program stimulus pemerintah di sektor perumahan, sebagai dampak antisipasi wabah virus corona terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Utama BBTN, Pahala N Mansury mengatakan, adanya tambahan kuota tersebut khususnya untuk rumah yang sudah jadi dan tambahan rumah yang ada pada tahun ini.

"Jadi, harapan kita, dengan program stimulus dan tambahan rumah bersubsidi, tentunya pertumbuhan bagi kita untuk rumah bersubsidi akan sedikit lebih baik. Nominal fixed belum ada, masih menunggu dari keputusan penambahan kuota bersubsidi," tegasnya.

Lebih lanjut Pahala menjelaskan, jumlah kuota KPR subsidi dalam bentuk SSB diperkirakan mencapai lebih dari 100 ribu unit rumah.

Dia berharap, dengan adanya kuota tambahan tersebut pertumbuhan KPR subisidi akan lebih positif. 

"Artinya, kita tidak ada revisi target, jadi ini akan lebih baik pertumbuhannya untuk rumah subsidi. Total, penyaluran kredit pada tahun ini bisa tumbuh 9,5%," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, Pemerintah akan mengucurkan anggaran sebesar Rp1,5 triliun untuk sektor perumahan, dengan rincian; sebesar Rp800 miliar berupa subsidi bunga dan Rp700 miliar berupa subsidi uang muka.

“Dengan demikian, dari jumlah penyaluran KPR sebanyak 330.000 unit, eksisting FLPP sebanyak 88.000 unit, dan BP2BT sebanyak 67.000 unit, sehingga ada tambahan sebanyak 175.000 unit dan ini dilaksanakan oleh bank umum maupun Kementerian PUPR,” jelasnya.