Volume SUN Diperdagangan Selasa Kemarin Senilai Rp30,92 Triliun dari 45 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Rabu (17/7/2019) menyebutkan, volume perdagangan Surat Utang Negara (SUN) yang dilaporkan pada perdagangan kemarin (16/7), mengalami kenaikan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya.

Tercatat, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp30,92 triliun dari 45 seri Surat Utang Negara yang dilaporkan dimana volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp15,04 triliun.

Adapun Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp9,95 triliun dari 147 kali transaksi.

Obligasi Negara seri acuan dengan tenor 10 tahun tersebut diperdagangkan pada harga rata - rata 108,15%.

Adapun Project Based Sukuk seri PBS012 menjadi Surat Berharga Syariah Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,87 triliun dari 15 kali transaksi dengan harga rata - rata pada level 109,05%.

Sementara itu, dari perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan pada perdagangan di hari Selasa tanggal 16 Juli 2019 senilai Rp897,36 miliar dari 54 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. 

Obligasi Berkelanjutan V Sarana Multigriya Finansial Tahap I Tahun 2019 Seri A (SMFP05ACN1) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp165,00 miliar dari 8 kali transaksi dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan III Tower Bersama Infrastructure Tahap II Tahun 2018 (TBIG03CN2) dan Efek Beragun Aset Mandiri GIAA01 (MGIA01) masing-masing senilai Rp110,00 miliar dari 5 kali transaksi dan Rp100,00 miliar dari 2 kali perdagangan. 

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup pada level 13935,00 per dollar Amerika yang melemah sebesar 17,00 pts dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya.

Penguatan rupiah terhadap dollar Amerika bergerak cukup fluktuatif sepanjang sesi perdagangan. Dibuka melemah kemudian bergerak menguat  dan melemah kembali pada pertengahan sesi perdagangan.

Adapun nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran 13905—13941 per Dollar Amerika.

Pelemahan rupiah tersebut diikuti oleh mata uang regional yang bergerak bervariasi pada sebagian besar serinya, dimana yang memimpin penguatan mata uang regional yaitu Peso Filipina (PHP) sebesar 0,21% dan diikuti oleh mata uang Won Korea Selatan (KRW) dan Dollar Hongkong (HKD) yang masing-masing menguat sebesar 0,14% dan 0,12%.

Sementara itu, pelemahan mata uang regional terbesar didapati pada mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,17% dan diikuti oleh mata uang Rupiah Indonesia (IDR) sebesar 0,11% terhadap Dollar Amerika.

Sementara itu, Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan mengalami penurunan masing-masing pada level 2,109% dan 2,618%.

Adapun penurunan imbal hasil US Treasury tersebut seiring dengan penurunan indeks saham utamanya. Untuk indeks NASDAQ terpantau mengalami pelemahan sebesar 43 bps di level 8222,80 dan indeks DJIA turun sebesar 9 bps di level 27335,63.

Sementara itu, imbal hasil dari Surat Utang Jerman (Bund) dan surat utang Inggris (Gilt) untuk tenor 10 tahun ditutup mengalami penurunan masing-masing di level –0,256% dan 0,809%.