ANALIS MARKET (27/3/2019) : IHSG Berpotensi Cenderung Menguat Dalam Jangka Pendek

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, sentimen diperdagangan Rabu (27/3/2019) pagi ini, akan datang dari pertemuan antara Amerika dan China pada hari Kamis dan Jumat pekan ini.

Delegasi yang diutus, Robert dan Steven akan mengunjungi China, yang akan dilanjutkan dengan kedatangan Wakil Perdana Menteri Liu He minggu depannya lagi ke Amerika.

Dalam wawancara terpisah, Robert menyampaikan bahwa Dia ingin kesepakatan itu terjadi, namun disatu sisi, Dia tidak dapat berharap banyak bahwa kesepakatan itu akan terjadi, namun kami akan mengusahakannya.

Negosiator Amerika telah menyampaikan pendapatnya akan kekecewaannya terhadap China yang mundur dari janji sebelumnya, karena disatu sisi pejabat China melakukan penolakan terhadap proposal yang China anggap sepihak.

Analis Pilarmas menilai, hal ini sebagai sesuatu komitmen dari China sedari awal negosiasi ini, bahwa China tidak akan diam saja. China menginginkan perjanjian yang adil, setara, dan tentu berjalan dua arah.

Yang menariknya, tampaknya Presiden Trump membutuhkan kesepakatan ini untuk dapat maju pada pemilu 2020 untuk mencalonkan diri kembali. Hal ini secara tidak langsung akan memaksa Trump juga harus mengalah akan beberapa hal agar kesepakatan ini tercapai.

Beralih dari sana, Brexit kembali memanas. Seakan akan seperti sinetron “tersanjung”, Brexit tidak ada habis habisnya dikarenakan banyaknya kepentingan yang terjadi di dalam parlement.

Saat ini, Parlement sepertinya mulai merancang rencana saingan Brexit yang lebih baik dari yang May miliki.

Namun saat ini, May tidak sendiri, Jacob Rees Mogg dari partai Konservatif mengatakan bahwa meskipun Dia tidak suka kesepakatannya, tapi hal itu lebih baik daripada tinggal di Uni Eropa.

Fokus berikutnya adalah berusaha untuk mencapai kesepakatan melalui pemungutan suara di House of Commons pada hari Jumat pekan ini, atau Brexit akan mengalami penundaan yang berpotensi mundur lebih lama dari 29 Maret atau mungkin saja akan pergi meninggalkan Uni eropa pada tanggal 12 April tanpa kesepakatan.

Beralih dari sana, Uni Eropa melalui Delegated Act-nya melarang penggunaan minyak kelapa sawit untuk biodiesel lantaran dinilai sebagai komoditas berisiko tinggi terhadap deforestasi.

Atas sikap tersebut dimana Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) memprotes sikap Uni Eropa dalam mengadopsi Renewable Energy Directive II (RED II) dan aturan turunannya yang mendiskriminasi kelapa sawit sebagai minyak nabati.

Tindakan Uni Eropa tersebut tidak mencerminkan selayaknya mitra strategis yang membangun hubungan baik dan saling menguntungkan.

Di sisi lain, sawit dan produk turunannya merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia dan pengolahannya mampu menyerap banyak tenaga kerja. Melemahnya harga CPO sejak titik tertingginya pada awal Januari 2019 masih belum ditandai adanya perbalikan arah harga.

Analis Pilarmas menilai, tekanan terhadap komoditas kelapa sawit masih cukup besar, sehingga emiten yang berada pada sektor ini masih dalam tekanan dalam jangka waktu pendek maupun menengah.

“Secara teknikal, kami melihat saat ini IHSG bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat dalam jangka waktu pendek dan ditradingkan pada level 6.435 – 6.525,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (27/3/2019).