Genjot Likuiditas Pasar Sekunder, OJK Bakal Atur Penjatahan IPO

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menggodok peraturan mengenai penjatahan saham pada saat penawaran saham perdana. Hal itu dipercaya akan dapat meningkatkan likuiditas perdagangan pada pasar sekunder.

Demikian disampaikan Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Samsul Hidayat, di Jakarta, Selasa (5/12/2017).

"Kami (BEI dan OJK) masih mengkaji penjatahan saham pada saat penawaran saham perdana," kata Samsul.

Ia menjelaskan, banyak saham-saham emiten yang setelah masa pencatatan saham perdana tidak likuid. Hal itu ditenggarai karena minimnya saham yang dialokasi pada saat pooling atau penjatahan terpusat untuk investor ritel.

"Pooling itu yang dijual ke ritel masyarakat kecil sehingga likuiditas tidak bergerak," ujar dia.

Dalam aturan yang tengah digodok itu, jelas Samsul, akan mengatur alokasi yang akan ditetapkan. Pasalnya, saat ini regulator pasar modal belum mengatur hal itu.

"Kalau di negara lain cukup besar adanya pooling sampai 5% sampai 10%," ujar dia.

Meski demikian, Samsul mengaku, pengaturan ini akan mendapat reaksi dari perusahaan efek sebagai penjamin pelaksana efek.

"Kita tahu penjamin efek akan lebih nyaman kalau penjatahan fix-nya tidak diatur," kata dia.

Sebagai informasi, dalam peraturan IX. A. 7 tentang Tanggungjawab Manajer Penjatahan Dalam Rangka Pemesanan dan Penjatahan Efek dalam Penawaran Umum tidak menentukan porsi penjatahan pasti (fix allotment) dan penjatahan terpusat (pooling).