Utang Pemerintah Pusat per Oktober 2016 Mengalami Penurunan Sebesar Rp 5,04 Triliun

foto : istimewa

Pasardana.id - Kementerian Keuangan melaporkan, utang Pemerintah Pusat sampai dengan Oktober 2016 tercatat sebesar Rp 3.439.78 Triliun, yang terdiri dari SBN sebesar Rp 2.707,81 Triliun (78,7%), dan Pinjaman sebesar Rp 731,98 Triliun (21,3%).

"Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, utang pemerintah pusat sampai dengan Oktober ini, mengalami penurunan sebesar Rp 5,04 Triliun (0,14%) yang berasal dari kenaikan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 6,77 Triliun dan berkurangnya Pinjaman sebesar Rp 11,81 Triliun," ungkap laman Kemenkeu, seperti dilansir Senin (21/11/2016).

Sebelumnya, Bank Indonesia dalam siaran persnya, Jumat (18/11/2016) menyebutkan, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan III 2016 tercatat sebesar USD325,3 miliar atau tumbuh 7,8% (yoy).

Berdasarkan jangka waktu asal, ULN jangka panjang tumbuh 8,7% (yoy), sementara ULN jangka pendek tumbuh 1,8% (yoy).

Adapun berdasarkan kelompok peminjam, pertumbuhan tahunan ULN sektor publik meningkat, sementara pertumbuhan tahunan ULN sektor swasta terus menurun.

Dengan perkembangan tersebut, rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir triwulan III 2016 tercatat sebesar 35,7%, turun dari 36,9% pada akhir triwulan II 2016.

Berdasarkan jangka waktu asal, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN jangka panjang. Posisi ULN berjangka panjang pada akhir triwulan III 2016 mencapai USD283,5 miliar (87,2% dari total ULN) atau tumbuh 8,7% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan II 2016 yang sebesar 8,2% (yoy).

Sementara itu, posisi ULN berjangka pendek pada akhir triwulan III 2016 tercatat sebesar USD41,8 miliar (12,8% dari total ULN) atau tumbuh 1,8% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2016 yang tercatat turun 3,0% (yoy).

Meski utang jangka pendek meningkat, rasionya terhadap cadangan devisa turun menjadi sebesar 35,5% pada triwulan III 2016 dari 37,8% pada triwulan sebelumnya sejalan dengan meningkatnya posisi cadangan devisa.

Sementara itu, berdasarkan kelompok peminjam, posisi ULN Indonesia sebagian besar terdiri dari ULN sektor swasta. Pada akhir triwulan III 2016, posisi ULN sektor swasta mencapai USD163,1 miliar (50,1% dari total ULN), sementara posisi ULN sektor publik sebesar USD162,2 miliar (49,9% dari total ULN).

ULN sektor swasta turun 2,7% (yoy) pada triwulan III 2016, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan pada triwulan sebelumnya sebesar 2,3% (yoy), sementara ULN sektor publik tumbuh meningkat menjadi 20,8% (yoy) pada triwulan III 2016 dari triwulan sebelumnya sebesar 17,9% (yoy).

Menurut sektor ekonomi, posisi ULN swasta pada akhir triwulan III 2016 terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,6%.

Bila dibandingkan dengan triwulan II 2016, pertumbuhan tahunan ULN sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas & air bersih melambat. Sementara itu, pertumbuhan tahunan ULN sektor pertambangan dan sektor keuangan masih mengalami kontraksi.

Bank Indonesia memandang perkembangan ULN pada triwulan III 2016 masih cukup sehat, namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi.