ANALIS MARKET (11/9/2026): Wait and See
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Kamis (26/09/10) setelah data Indeks Harga Produsen (PPI) AS menunjukkan tekanan inflasi di tingkat produsen lebih tinggi dari perkiraan.
Indeks S&P 500 turun 0,58% ke level 7.591,70, Nasdaq Composite melemah 0,65% ke 26.081,72, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,60% ke 52.064,10.
PPI utama (headline PPI) naik 0,4% secara bulanan (MoM) dan 5,4% secara tahunan (YoY) pada bulan Agustus—melampaui konsensus sebesar 5,3% YoY—sehingga memicu pasar untuk kembali mencermati arah kebijakan moneter The Fed.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung negatif seiring beralihnya perhatian investor dari kinerja laba perusahaan ke perkembangan makroekonomi, khususnya terkait inflasi, suku bunga, dan harga energi. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan FOMC tanggal 16 September meningkat menjadi sekitar 73%, naik dari kisaran 64% sebelum rilis data PPI. Kondisi ini membatasi ruang kenaikan harga saham, terutama mengingat posisi indeks S&P 500 saat ini berada sekitar 2,7% di bawah rekor penutupan tertingginya pada bulan Agustus.
GEOPOLITIK: Risiko geopolitik kembali menjadi sorotan setelah eskalasi konflik antara AS dan Iran memicu kekhawatiran mengenai keberlanjutan pasokan energi global. Harga minyak melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan tersebut, dengan harga minyak Brent menembus level US$105 per barel. Perkembangan ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dalam jangka panjang sekaligus menambah tekanan inflasi di berbagai negara.
REGULASI & KEBIJAKAN: Ekspektasi akan adanya perubahan kebijakan moneter meningkat setelah data PPI menunjukkan kenaikan harga produsen yang cukup signifikan. PPI utama untuk bulan Agustus naik 0,4% MoM dan 5,4% YoY, sementara PPI inti (core PPI) naik 0,2% MoM dan 4,6% YoY. Pasar kini memperkirakan The Fed memiliki alasan yang lebih kuat untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan bulan September, terutama mengingat kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja AS yang masih relatif tangguh.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 2 tahun naik menjadi 4,59% per 10 September 2026, meningkat 14 bps dari sesi sebelumnya, sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke kisaran 4,90%. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat. Di Jepang, imbal hasil JGB tenor 2 tahun stabil di angka 1,83%, sedangkan imbal hasil JGB tenor 10 tahun naik ke kisaran 2,93%. Yen diperdagangkan di kisaran JPY153,4/USD, sementara Indeks Dolar AS (DXY) menguat ke kisaran 99.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa ditutup melemah; indeks FTSE 100 Inggris turun sekitar 0,5% ke level terendahnya dalam tujuh minggu. Indeks DAX Jerman terkoreksi 0,8% menjadi 25.401, CAC 40 Prancis turun 0,5% menjadi 8.117, sementara FTSE MIB Italia relatif stabil di angka 51.807. Indeks STOXX Europe 600 turun 0,69% menjadi 635,96.
-Pasar Asia bergerak variatif dengan kecenderungan melemah. Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang masing-masing naik 0,2% menjadi 65.271 dan 4.055. Sebaliknya, Shanghai Composite turun 0,43% menjadi 3.934,4, Shenzhen Component melemah 0,77% menjadi 13.617,7, Hang Seng turun 1,3% menjadi 24.954, dan KOSPI terkoreksi 0,25% menjadi 7.034. India menjadi pengecualian, dengan indeks BSE Sensex naik sekitar 0,2% ke level 74.902,6.
KOMODITAS: Pergerakan komoditas didominasi oleh kenaikan di sektor energi. Harga minyak Brent melonjak 8,7% menjadi US$109,97 per barel, sementara WTI naik 8,54% mendekati US$104 per barel, didorong oleh meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat konflik AS-Iran. Harga batu bara naik 0,44% menjadi di atas US$148 per ton, mencapai level tertinggi dalam 12 minggu. Sebaliknya, harga emas turun 1,91% menjadi sekitar US$4.314 per ons di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga. Tembaga melemah 5,3% menjadi US$6,45 per pon, sementara nikel turun 1,48% menjadi sekitar US$16.850 per ton. Timah naik 0,65% menjadi US$55.218 per ton, sedangkan CPO turun 1,63% menjadi MYR4.885 per ton.
AGENDA HARI INI:
-Inggris Raya (GB): PDB bulan Juli (MoM).
-Amerika Serikat (AS): Inflasi bulan Agustus (MoM & YoY) dan Sentimen Konsumen Michigan bulan September.
INDONESIA: Harga minyak mentah dunia kembali menembus level US$100/barel; harga Brent mencapai US$105,24/barel (+3,98%) dan WTI mencapai US$100,06/barel (+4,17%) pada hari Kamis (26/09/2010). Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara, khususnya melalui peningkatan subsidi energi dan kompensasi, mengingat asumsi harga minyak dalam anggaran negara berada di kisaran US$90/barel. Namun, ruang fiskal dinilai masih cukup memadai—tercermin dari defisit anggaran negara sebesar 0,91% terhadap PDB hingga Juli 2026 dan sekitar 0,95% terhadap PDB pada bulan Agustus—sehingga pemerintah belum memandang perlu adanya penambahan kuota subsidi bahan bakar.
-Selain itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah dapat menggunakan dana cadangan anggaran negara untuk mendukung program pembukaan rekening bank bagi masyarakat secara bertahap, dengan target mencapai 200 juta rekening. Program ini diperkirakan baru akan mulai dilaksanakan pada tahun 2027 karena masih memerlukan persiapan serta integrasi data antara Dukcapil (Kependudukan dan Pencatatan Sipil), pihak perbankan, dan Bank Indonesia (BI). Purbaya juga memperkirakan bahwa anggaran yang dibutuhkan mungkin tidak akan mencapai Rp11 triliun, mengingat masyarakat yang sudah memiliki rekening di bank-bank yang ditunjuk tidak perlu membuka rekening baru. BRI akan menangani pembukaan rekening secara nasional, sementara BSI akan melayani wilayah Aceh. Program ini berpotensi memperluas inklusi keuangan, meskipun dampaknya terhadap anggaran negara akan bergantung pada jumlah rekening yang terealisasi dan mekanisme penugasan pemerintah.
-IHSG ditutup turun 1,33% di level 6.589,34 pada perdagangan hari Kamis (09/10), setelah bergerak di kisaran 6.585,56 – 6.712,50. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp747,51 miliar, dengan aliran dana asing terutama masuk ke ANTM, AADI, CUAN, PTBA, dan ENRG, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada BBCA, BBRI, ISAT, DSSA, dan INDY. Di pasar valuta asing, Rupiah berada di kisaran Rp17.530/USD, setelah sempat menguat di bawah Rp17.450/USD pada sesi sebelumnya. Sentimen pasar juga tertekan oleh harga minyak yang menembus US$100 per barel—mengingat Indonesia merupakan importir neto minyak—yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kondisi fiskal.
-Secara teknikal, IHSG kembali membentuk candle bearish setelah gagal mempertahankan kekuatannya di atas area 6.700, dan ditutup di level 6.589,34. IHSG berada di bawah EMA10 (6.602,75), namun masih bertahan di atas EMA20 (6.529,42) dan EMA50 (6.419,84), sementara RSI (14) turun ke 57,63, mengindikasikan momentum bullish mulai melemah meskipun tren naik (uptrend) masih terjaga. Jika IHSG gagal menembus kembali EMA10 di level 6.603, koreksi berpotensi berlanjut ke arah 6.529 – 6.520, yang merupakan area support terdekat sekaligus posisi EMA20 dan garis tren naik. Jika level tersebut bertahan, IHSG memiliki ruang untuk rebound dan menguji level 6.673 – 6.723, dengan resistance berikutnya di 6.859. Sebaliknya, jika harga turun menembus level 6.520, koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.420 (EMA50), dengan level support berikutnya di 6.377.
“Kami menyarankan pendekatan wait & see sembari memantau area 6.529–6.520, sementara investor yang sudah mencetak keuntungan dapat menerapkan trailing stop atau melakukan aksi ambil untung (profit-taking) secara bertahap jika level support tersebut ditembus,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (11/9).




