See More

06 Agustus 2026, 19:26

06 Agustus 2026, 17:02

06 Agustus 2026, 16:50

06 Agustus 2026, 16:03

06 Agustus 2026, 15:57

06 Agustus 2026, 15:47
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih tinggi pada perdagangan hari Selasa (26/08/08), mencatatkan rekor penutupan tertinggi pertamanya sejak awal Juni di tengah membaiknya sentimen terhadap saham-saham kecerdasan buatan (AI).
Indeks S&P 500 naik 1,8% menjadi 7.736,52, Dow Jones Industrial Average menguat 1,7% menjadi 54.085,88, sementara Nasdaq Composite melonjak 2,6% menjadi 26.584,99.
Kenaikan ini didukung oleh pemulihan saham teknologi, penurunan harga minyak dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, serta optimisme menjelang laporan keuangan SpaceX dan AMD.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar kembali positif seiring pulihnya minat investor terhadap saham AI setelah mengalami koreksi tajam sepanjang bulan Juli. Reli ini didorong oleh laporan keuangan yang kuat dari Microsoft dan Amazon, yang memicu aksi beli di sektor teknologi. Sementara itu, musim laporan keuangan juga memberikan katalis positif setelah saham Palantir Technologies melonjak 30% berkat lonjakan permintaan solusi AI yang hampir melipatgandakan pendapatannya menjadi US$1,93 miliar, sedangkan Caterpillar naik 5,6% setelah mencatatkan pendapatan kuartalan di atas US$20 miliar untuk pertama kalinya. Dari sisi makroekonomi, jumlah lowongan kerja AS (JOLTS) turun menjadi 7,359 juta pada bulan Juni dari 7,537 juta pada bulan Mei, sedikit di bawah ekspektasi pasar. Meskipun demikian, pasar tenaga kerja dinilai masih kokoh, sehingga perhatian investor kini beralih ke data Nonfarm Payrolls (NFP) bulan Juli, yang akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
PERANG DAGANG: Pemerintah AS dikabarkan sedang menyiapkan kebijakan batas bawah harga (price floor) dan tarif impor untuk polisilikon serta produk turunannya sebagai bagian dari upaya mengurangi dominasi Tiongkok dalam rantai pasok semikonduktor dan panel surya. Kebijakan tersebut, yang diperkirakan akan diumumkan pada akhir bulan ini setelah penyelidikan Section 232 Trade Expansion Act rampung, berpotensi meningkatkan perlindungan bagi produsen domestik AS seperti Hemlock Semiconductor dan Wacker Chemie. Namun, langkah ini juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kenaikan biaya produksi di industri semikonduktor, panel surya, kendaraan listrik, dan elektronik konsumen, yang berpotensi menambah ketidakpastian rantai pasok global. Meskipun demikian, sentimen pasar awal cenderung positif bagi produsen energi surya AS, yang tercermin dari penguatan saham Corning, First Solar, dan T1 Energy setelah laporan tersebut beredar.
GEOPOLITIK: Sentimen geopolitik membaik setelah munculnya optimisme terkait upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz semakin besar, sementara Qatar mengonfirmasi bahwa negosiasi masih berlangsung dengan fokus pada peredaan konflik dan pemulihan jalur pelayaran strategis tersebut. Harapan ini mendorong penurunan harga minyak dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.
REGULASI & KEBIJAKAN: Pelaku pasar terus memantau perkembangan kebijakan Federal Reserve menjelang rilis data ketenagakerjaan AS minggu ini. Meskipun data JOLTS menunjukkan perlambatan dalam pembukaan lapangan kerja, kondisi pasar tenaga kerja tetap relatif kuat, sehingga data Nonfarm Payrolls (NFP) bulan Juli akan menjadi faktor kunci dalam membentuk ekspektasi mengenai arah suku bunga The Fed selanjutnya.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) bergerak stabil di sekitar level 99,87 seiring turunnya harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,65% dari level tertinggi 18 bulan di angka 4,75%, sementara imbal hasil tenor 2 tahun melemah ke level 4,21%. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke sekitar 2,80%, sedangkan yen diperdagangkan di kisaran JPY157,8 per dolar AS.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa ditutup lebih tinggi. Indeks FTSE 100 Inggris naik 0,20%, DAX Jerman menguat 0,77%, CAC 40 Prancis naik 0,61%, FTSE MIB Italia melonjak 1,26%, dan STOXX Europe 600 naik 0,73%, didukung oleh membaiknya sentimen global dan meredanya ketegangan geopolitik.
-Pasar Asia bergerak bervariasi. Nikkei 225 Jepang melonjak 2,99% didorong oleh pemulihan saham teknologi, Shanghai Composite naik 0,33%, KOSPI Korea Selatan menguat 1,62%, dan pasar Malaysia naik 0,40%. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,60% akibat aksi ambil untung, sementara indeks Sensex India melemah sekitar 0,30%.
KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas bervariasi. Harga minyak Brent turun lebih dari 5% ke kisaran US$79 per barel dan WTI melemah ke bawah US$76 per barel di tengah meningkatnya optimisme terkait kesepakatan diplomatik AS-Iran. Harga emas naik ke kisaran US$4.080 per ons, tembaga menguat mendekati US$6,6 per pon akibat kendala pasokan, sementara nikel bertahan di atas US$17.300 per ton, didukung oleh kekhawatiran pasokan dari Indonesia. Harga timah naik ke kisaran US$55.450 per ton, batu bara termal bertahan di atas US$130 per ton, dan minyak kelapa sawit Malaysia menguat di atas MYR4.650 per ton.
AGENDA EKONOMI HARI INI:
-Amerika Serikat: Perubahan Tenaga Kerja ADP bulan Juli, PMI Jasa ISM bulan Juli, Suku Bunga Hipotek 30-tahun MBA, serta data mingguan inventaris minyak mentah dan bensin EIA.
-Indonesia: Tingkat Pertumbuhan PDB Kuartal II (YoY).
-Jepang: Risalah Rapat Kebijakan Moneter BoJ.
-Tiongkok: PMI Jasa Caixin bulan Juli.
-India: Keputusan Suku Bunga Reserve Bank of India (RBI).
-Eropa: Produksi Industri Prancis bulan Juni (MoM), serta PMI Jasa S&P Global Spanyol dan Italia bulan Juli.
INDONESIA: Ekonom di PT Bank Central Asia (BCA) memproyeksikan Defisit Transaksi Berjalan (CAD) Indonesia akan melebar menjadi sekitar 1,3% dari PDB pada akhir tahun 2026, naik dari 0,11% pada tahun 2025. Pelebaran ini diperkirakan dipicu oleh peningkatan impor akibat tingginya harga minyak global dan kuatnya belanja pemerintah, sementara pertumbuhan ekspor tetap terbatas. Meskipun akun finansial diproyeksikan terus mencatat surplus—yang membantu membiayai defisit eksternal—pelebaran CAD berpotensi meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan cadangan devisa jika arus masuk modal tidak cukup kuat.
-Selain itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah siap menambah dana yang bersumber dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke bank-bank Himbara untuk menjaga likuiditas dan mempercepat pemulihan ekonomi. Setelah sebelumnya menempatkan dana sebesar Rp400 triliun, pemerintah menyatakan siap menambah likuiditas jika diperlukan agar penyaluran kredit kepada dunia usaha dan masyarakat terus meningkat. Kebijakan ini diharapkan dapat mendukung permintaan domestik, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta memberikan sentimen positif bagi sektor perbankan, konsumsi, dan otomotif.
-IHSG ditutup menguat 1,37% di level 6.319,61 pada perdagangan hari Selasa (04/08), setelah bergerak di kisaran 6.238,40 – 6.319,61. Investor asing kembali mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp741,19 miliar di Pasar Reguler dan Rp623,48 miliar di seluruh pasar. Aksi beli asing terutama terkonsentrasi pada saham BBCA, BMRI, BBRI, MDKA, dan BBNI, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada TPIA, AMMN, EMAS, MEDC, dan ASII. Di sisi lain, nilai tukar Rupiah kembali melemah hingga di atas Rp18.000 per dolar AS setelah sempat menguat selama empat hari berturut-turut; pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran yang meningkat mengenai prospek keseimbangan eksternal Indonesia di tengah proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan (CAD).
-Secara teknikal, IHSG terus membentuk candle bullish dan berhasil ditutup di atas EMA10 (6.211), EMA20 (6.161), serta EMA50 (6.246), sekaligus mengonfirmasi breakout dari fase konsolidasi jangka pendeknya. Pergerakan ini juga didukung oleh keberhasilan indeks bertahan di atas garis tren naik (uptrend line), yang mengindikasikan semakin kuatnya momentum rebound. Indikator RSI (14) naik ke level 60,20, mencerminkan momentum bullish yang terus membaik namun belum memasuki wilayah jenuh beli (overbought), sehingga masih menyisakan ruang untuk penguatan lebih lanjut. Selama IHSG mampu bertahan di atas area 6.246–6.211, indeks memiliki ruang untuk terus naik guna menguji level resistansi di 6.377, kemudian 6.450, hingga 6.500. Sebaliknya, jika indeks kembali bergerak di bawah EMA50, IHSG berpotensi mengalami koreksi sehat (pullback), dengan area support berada di level 6.246, 6.211, dan 6.161.
“Kami menyarankan investor untuk mempertimbangkan strategi averaging up pada saham-saham yang telah mengonfirmasi breakout, sembari tetap menerapkan trailing stop di bawah area support terdekat guna mengantisipasi potensi koreksi jangka pendek,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (05/8).