Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (24/8/2026): Tren Bullish Masih Terjaga

Oleh: Ria

24 Agustus 2026, 09:07
ANALIS MARKET (24/8/2026): Tren Bullish Masih Terjaga

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup menguat pada perdagangan hari Jumat (21/8/26), menghentikan penurunan selama sepekan setelah data ekonomi AS menunjukkan aktivitas bisnis tumbuh pada laju tercepat dalam lebih dari empat tahun.

Indeks S&P 500 naik 0,43%, Nasdaq 100 naik 0,43%, sementara Dow Jones menguat 0,98%.

Kenaikan ini terutama didukung oleh data ekonomi yang solid, disertai penguatan saham teknologi berkapitalisasi pasar sangat besar (mega-cap), seperti Alphabet (+1,1%), Microsoft (+0,4%), dan Meta (+0,8%).

Sebaliknya, pergerakan saham semikonduktor bervariasi; Nvidia turun 1%, Micron -0,8%, dan Intel -2,2%, sementara Walmart melemah lebih dari 10% sepanjang pekan setelah hasil kinerja yang mengecewakan menekan prospek perusahaan.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung beragam karena data ekonomi AS yang kuat mendukung aset berisiko, sementara kenaikan imbal hasil obligasi serta kekhawatiran mengenai inflasi dan defisit fiskal membatasi kenaikan tersebut. Investor juga memantau tingginya volume penerbitan utang oleh perusahaan terkait AI dan peningkatan belanja pemerintah AS, yang berpotensi terus menekan imbal hasil. Fokus pasar kini beralih ke perkembangan inflasi dan arah kebijakan Federal Reserve.

GEOPOLITIK: Risiko geopolitik tetap tinggi akibat konflik AS-Iran yang berpotensi mengganggu pasokan energi global. Namun, sinyal bahwa Iran mungkin mencari jalan untuk mengakhiri konflik mulai meredakan sebagian kekhawatiran pasar. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran lebih memilih untuk mengakhiri perang saat masih berada dalam posisi yang kuat. Perkembangan lebih lanjut dalam konflik ini akan menjadi katalis utama bagi harga minyak, inflasi global, dan aset safe haven.

PERDAGANGAN & KEBIJAKAN: Ketegangan perdagangan AS-Kanada kembali meningkat setelah negosiasi terbaru gagal mencapai kesepakatan. AS mulai menerapkan tarif 50% terhadap produk Kanada senilai sekitar US$20 miliar, sementara Kanada akan menerapkan tarif balasan dengan nilai setara (dollar-for-dollar) mulai 8 September, yang mencakup sektor baja, produk susu, peralatan rumah tangga, peralatan pertanian, pulp dan kertas, serta elektronik. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menilai tuntutan terbaru Washington terlalu besar dan penawarannya terlalu kecil. Eskalasi ini berpotensi meningkatkan tekanan pada rantai pasok dan perdagangan bilateral.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 4,74% pada hari Jumat, kembali mendekati level tertinggi dalam 20 bulan. Departemen Keuangan AS akan setidaknya melipatgandakan pembelian kembali obligasi tenor panjang menjadi US$4 miliar pada kuartal mendatang, meskipun peningkatan penerbitan utang dan belanja defisit tetap menjadi faktor yang mendorong kenaikan imbal hasil. Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun naik 4 basis poin (bps) menjadi 4,24% per 21 Agustus 2026. Di Jepang, imbal hasil JGB tenor 10 tahun naik ke kisaran 2,88%, sementara imbal hasil tenor 2 tahun turun 1 bps menjadi 1,67%. Euro menguat di atas US$1,170, Yen relatif stabil di kisaran JPY159 per Dolar AS, sementara Indeks Dolar bergerak di sekitar level 98,8 dan mencatatkan penurunan hampir 1% sepanjang minggu.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa sebagian besar menguat. Indeks FTSE 100 Inggris naik 0,6%, melanjutkan kenaikan selama enam sesi berturut-turut. Indeks DAX 40 Jerman menguat 0,6% ke level 26.137, sementara indeks CAC 40 Prancis naik 0,4% ke level 8.484, mengakhiri tren penurunan selama delapan sesi. Indeks FTSE MIB Italia relatif stagnan di level 52.668. Sementara itu, indeks EU600 berada di level 654,18 dan masih mencatatkan penurunan 1,12% selama empat minggu terakhir.

-Pasar Asia bergerak variatif. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,3% ke level 66.016, sementara indeks Shanghai Composite relatif stagnan di level 3.905,2 dan indeks Shenzhen Component naik 0,87% ke level 14.094,2. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 1,2% atau 311 poin ke level 26.009, sementara indeks KOSPI Korea Selatan menguat 0,88% ke level 6.913. Indeks BSE Sensex India relatif stagnan di level 77.541, FKLCI Malaysia turun tipis 0,01% menjadi 1.736, dan STI Singapura naik 0,30% menjadi 5.689.

KOMODITAS: Harga komoditas cenderung menguat. Harga WTI relatif stabil di kisaran US$87/barel (+0,26%), sementara Brent naik 0,65% menjadi US$94,39/barel. Harga batu bara termal stabil di kisaran US$131/ton (+0,77%). Harga emas melonjak 2,03% hingga melampaui US$4.607/oz, mencatatkan kenaikan sekitar 5% sepanjang pekan ini. Harga tembaga naik 1,95% menjadi di atas US$6,5795/lb, minyak kelapa sawit Malaysia menguat 1,15% menjadi MYR5.018/ton, timah turun 0,47% menjadi US$55.543/ton, sedangkan nikel naik 0,59% menjadi sekitar US$17.045/ton.

AGENDA HARI INI:

-Amerika Serikat (AS): Indeks Aktivitas Nasional Chicago Fed bulan Juli.

-Brasil (BR): Laporan BCB Focus Market Readout.

INDONESIA: Defisit transaksi berjalan (CAD) diproyeksikan melebar menjadi 2,5%–3,0% dari PDB pada tahun 2026, dari 0,11% dari PDB pada tahun 2025. Pada kuartal II-2026, CAD mencapai US$12,5 miliar atau 3,3% dari PDB, jauh lebih tinggi dibandingkan US$3,6 miliar atau 1,0% dari PDB pada kuartal sebelumnya. Pelebaran CAD diperkirakan didorong oleh peningkatan impor seiring agenda pemerintah yang pro-pertumbuhan, sementara ekspor berpotensi tertekan oleh lemahnya permintaan global—terutama dari Tiongkok—serta ketegangan geopolitik dan perdagangan. Kondisi ini berpotensi menekan posisi eksternal dan nilai tukar rupiah, terutama jika tidak diimbangi oleh arus masuk modal yang kuat.

-Selain itu, neraca modal dan finansial mencatatkan surplus sebesar US$12,0 miliar pada kuartal II-2026, berbalik dari defisit US$4,8 miliar pada kuartal sebelumnya, yang didukung oleh peningkatan investasi langsung dan portofolio. Namun, arus modal tetap rentan terhadap meningkatnya ketidakpastian global dan sentimen risk-off, sehingga kombinasi antara pelebaran CAD dan ketergantungan pada arus modal menimbulkan risiko bagi Neraca Pembayaran Indonesia. Sementara itu, pemerintah sedang mempertimbangkan opsi untuk memperpanjang insentif libur pajak (tax holiday) bagi industri pionir hingga tahun 2027, dengan proyeksi biaya pajak (tax expenditure) mencapai Rp8,11 triliun pada tahun 2027. Penerapan Pajak Minimum Global (GMT) berpotensi mengurangi efektivitas tax holiday tersebut, sehingga pemerintah mempertimbangkan untuk mengalihkan insentif ke skema kredit pajak yang dapat dikembalikan (refundable tax credit) guna menjaga daya tarik investasi.

-IHSG ditutup menguat 0,37% di level 6.525,69. Sepanjang perdagangan hari Jumat (21/8), IHSG bergerak di kisaran 6.507,43 – 6.551,96. Investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp992,64 miliar di Pasar Reguler. Arus masuk dana asing terutama terjadi pada saham BBRI, BBCA, BMRI, TPIA, dan BBNI, sementara tekanan jual asing terbesar tercatat pada ISAT, ASII, BUMI, AMMN, dan BRMS. Di sisi lain, nilai tukar Rupiah menguat ke kisaran Rp17.720 per Dolar AS, menuju penguatan mingguan ketiga berturut-turut, yang didukung oleh pelemahan Indeks Dolar AS yang berada di dekat level terendahnya dalam beberapa bulan terakhir. Akibatnya, sentimen terhadap Rupiah membaik, diperkuat oleh pertumbuhan kredit domestik yang mencapai 13,58% secara tahunan (year-on-year) pada bulan Juli, melampaui target Bank Indonesia sebesar 8%–12% untuk akhir tahun 2026.

-Secara teknikal, IHSG berada di atas EMA10 (6.408,23), EMA20 (6.334,09), dan EMA50 (6.303,83). Kondisi ini mengindikasikan tren bullish masih terjaga dan momentum jangka pendek cenderung positif. Indikator RSI (14) berada di level 63,48, masih di bawah area jenuh beli (overbought) di angka 70, sehingga momentum bullish masih cukup kuat dan potensi kenaikan lebih lanjut masih terbuka. Jika IHSG mampu bertahan di atas area 6.462–6.408, penguatan berpotensi berlanjut menuju level 6.602 (minor FR 161,80%), dengan resistance berikutnya di sekitar 6.723 (area gap). Sebaliknya, jika terjadi koreksi dan IHSG gagal mempertahankan level 6.462, indeks berpotensi menguji level 6.408 (EMA10), kemudian 6.394 (EMA20) sebagai support berikutnya.

“Kami menyarankan strategi akumulasi pembelian secara bertahap saat terjadi koreksi sehat di sekitar EMA10, serta penerapan trailing stop jika IHSG mulai kehilangan level 6.462 sebagai support penting,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Senin (24/8).

Berita Terkini

See More