ANALIS MARKET (26/8/2026): Tren Bullish Masih Terjaga
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup menguat pada perdagangan hari Selasa (25/8/26), didorong oleh pemulihan saham-saham teknologi setelah sempat tertekan pada sesi sebelumnya.
Indeks S&P 500 naik 0,32% ke level 7.677,28, Nasdaq Composite menguat 0,66% ke 26.151,30, sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,30% ke 53.577,40.
Nvidia menjadi salah satu pendorong utama setelah sahamnya naik lebih dari 2%, mengakhiri tren penurunan selama tujuh sesi berturut-turut.
Pergerakan pasar relatif terbatas karena investor menantikan data inflasi AS dan laporan kinerja keuangan Nvidia pada hari Rabu.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung positif namun tetap berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS dan laporan keuangan Nvidia. Pemulihan saham teknologi dan semikonduktor mengindikasikan investor mulai melakukan reposisi setelah aksi jual sebelumnya, namun ekspektasi tinggi terhadap kinerja Nvidia meningkatkan risiko terjadinya skenario buy the rumor, sell the news. Pendapatan Nvidia diperkirakan hampir dua kali lipat secara tahunan (year-on-year) menjadi sekitar US$92 miliar, sehingga hasil yang tidak jauh melampaui ekspektasi dapat memicu aksi ambil untung (profit-taking). Dari sisi perdagangan, perhatian pasar akan tertuju pada apakah laporan Nvidia mampu kembali mendongkrak valuasi sektor AI atau justru menjadi katalis bagi aksi ambil untung.
GEOPOLITIK: Ketegangan perdagangan AS-Kanada meningkat setelah Kanada mengumumkan tarif balasan hingga 50% terhadap barang-barang AS senilai hampir US$28 miliar. Sementara itu, perkembangan hubungan AS-Iran tetap menjadi sorotan, di mana langkah AS untuk membatasi akses Iran ke sistem keuangan global meningkatkan permintaan terhadap aset safe-haven. Namun, laporan mengenai diskusi antara Iran dan Oman untuk membentuk koridor maritim sementara di Selat Hormuz membantu meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi.
REGULASI & KEBIJAKAN: Fokus kebijakan moneter global terutama tertuju pada prospek suku bunga Bank of Japan (BoJ). Mantan anggota dewan BoJ, Seiji Adachi, memperkirakan bank sentral berpotensi menaikkan suku bunga bulan depan dan kembali menaikkannya paling cepat pada bulan Januari. Ekspektasi ini meningkatkan tekanan terhadap mata uang yen sekaligus mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor panjang mendekati level tertinggi dalam beberapa dekade. Sementara itu, pasar AS masih menantikan data inflasi sebagai acuan utama dalam menentukan arah kebijakan The Fed selanjutnya.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun turun menjadi 4,65% dari level tertinggi dalam 20 bulan di angka 4,75% pada 21 Agustus, sedangkan imbal hasil tenor 2 tahun turun 5 basis poin (bps) menjadi 4,19% per 25 Agustus 2026. Di Jepang, imbal hasil JGB tenor 10 tahun naik ke kisaran 2,89%, sementara tenor 2 tahun bertahan di level 1,68%. Di pasar valuta asing, Yen melemah melampaui level JPY159 per Dolar AS, sementara indeks DXY stabil di kisaran 99 dan Euro bertahan di atas US$1,165. Pergerakan imbal hasil AS mengindikasikan bahwa tekanan inflasi jangka pendek mulai sedikit mereda, namun pasar tetap berhati-hati terhadap prospek suku bunga.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa sebagian besar menguat. Indeks FTSE 100 naik 0,3%, melanjutkan tren penguatan selama enam sesi berturut-turut. DAX 40 menguat 0,6% ke level 26.266, sementara FTSE MIB naik 0,3% ke level 52.720. Sebaliknya, CAC 40 turun 0,2% ke level 8.439 akibat data keyakinan konsumen yang tercatat lebih lemah dari perkiraan. Indeks EU600 naik 0,35% ke level 656,48.
-Pasar Asia bergerak variatif. Nikkei 225 naik 0,5% ke level 65.856 dan Topix menguat 0,5% ke level 4.094. Shanghai Composite naik 0,19% ke level 3.889,4, sedangkan Shenzhen Component turun 0,35% ke level 13.745,9. Indeks Sensex India naik sekitar 0,4% ke level 77.656, STI Singapura menguat 0,97% ke 5.736, dan KOSPI Korea Selatan naik 0,68% ke 6.743. Indeks Hang Seng cenderung stagnan di angka 25.511, sementara FKLCI Malaysia ditutup stagnan di level 1.736.
KOMODITAS: Harga minyak mentah turun 4,6% menjadi sekitar US$81/barel, sedangkan Brent melemah 5,55% menjadi US$87,05/barel, setelah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan di Selat Hormuz mereda. Harga emas turun ke kisaran US$4.655/ons setelah sebelumnya sempat mencapai US$4.696,2, mencerminkan aksi ambil untung menjelang rilis data inflasi AS. Harga batu bara naik tipis 0,11% menjadi di atas US$131/ton, didorong oleh permintaan energi di Asia dan risiko pasokan. Harga tembaga bergerak di kisaran US$6,69/pon di tengah peningkatan inventaris bursa. Nikel naik 0,21% menjadi US$17.050/ton, didukung oleh ekspektasi pasokan yang lebih ketat dari Indonesia, sementara timah turun 0,26% menjadi US$55.748/ton dan CPO melemah 1,43% menjadi MYR4.946/ton.
INDONESIA: Aliansi Koalisi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) akan menggelar unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI di Senayan, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/08/2026) mulai pukul 14.00 WIB, dengan perkiraan massa sebanyak 1.000 orang yang terdiri dari mahasiswa dan anggota masyarakat sipil. Aksi yang bertajuk #MerebutKembaliIndonesia ini merupakan bentuk pengawasan publik terhadap fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran DPR RI. GERAM juga meminta Ketua dan Wakil Ketua DPR untuk hadir dan berdialog secara langsung dengan massa aksi. Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, GERAM menyatakan kesiapannya untuk melakukan konsolidasi guna menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar. Aksi ini berpotensi meningkatkan volatilitas pasar domestik jika berkembang menjadi kerusuhan sosial atau mengganggu aktivitas ekonomi, meskipun dampaknya diperkirakan terbatas apabila aksi berlangsung dengan tertib.
-Selain itu, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) telah mulai menjalankan mandatnya sebagai perantara tunggal dalam pengelolaan ekspor tiga komoditas sumber daya alam strategis—yaitu batu bara, CPO, dan feroaloi—dengan total estimasi nilai ekspor mencapai hampir US$70 miliar. DSI akan melakukan verifikasi terhadap kuantitas, kualitas, klasifikasi, harga, pembayaran, dan repatriasi devisa, serta mengintegrasikan data dari tujuh kementerian/lembaga untuk mendeteksi potensi under-invoicing (pelaporan nilai ekspor lebih rendah dari yang sebenarnya) dan transfer pricing. DSI memperkirakan adanya potensi optimalisasi nilai sekitar US$5 miliar per tahun. Kebijakan ini berpotensi memberikan dampak positif bagi transparansi dan penerimaan negara serta dapat memperbaiki mekanisme penentuan harga (price discovery) bagi komoditas Indonesia, meskipun para investor masih memantau mekanisme perantara tersebut dan besaran margin DSI yang saat ini masih dalam tahap perhitungan. Portal Eksportir ditargetkan meluncur pada September 2026, sementara evaluasi terhadap model perantara akan dilakukan sebelum 1 Januari 2027.
-IHSG ditutup turun 0,37% di level 6.501,67 pada perdagangan hari Senin (24/8/26), setelah bergerak dalam rentang 6.474,57 – 6.551,00. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp556,22 miliar di Pasar Reguler, dengan aliran dana asing terutama masuk ke saham TINS, BRMS, EMAS, AADI, dan ADRO, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada saham BBRI, BUMI, TPIA, ISAT, dan DSSA. Nilai tukar Rupiah melemah ke kisaran Rp17.740/US$ di tengah volume perdagangan yang rendah dan tekanan eksternal. Sentimen pasar juga terbebani oleh melebarnya defisit transaksi berjalan menjadi US$12,5 miliar pada kuartal II-2026, akibat tingginya harga minyak, kuatnya impor, dan melemahnya ekspor.
-Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase koreksi yang sehat dan bertahan di atas EMA10 (6.425,22), EMA20 (6.350,05), dan EMA50 (6.311,59). Kondisi ini mengindikasikan tren bullish masih terjaga, dengan momentum jangka pendek cenderung positif. Indikator RSI (14) berada di level 61,71, masih di bawah area jenuh beli (overbought) di angka 70, sehingga momentum kenaikan masih cukup kuat dan peluang penguatan lebih lanjut tetap terbuka. IHSG juga bertahan di atas level 6.462,35 (FR 100,00%), sehingga memiliki ruang untuk melanjutkan kenaikan menuju 6.601,98 (FR 161,80%), dengan level resistance berikutnya berada di sekitar 6.723,32. Sebaliknya, jika terjadi koreksi dan IHSG kembali turun di bawah level 6.462,35, indeks berpotensi menguji level 6.425,22 (EMA10), kemudian 6.350,05 (EMA20) sebagai level support berikutnya.
“Kami menyarankan akumulasi pembelian secara bertahap saat terjadi koreksi sehat di area EMA10, sementara penggunaan trailing stop dapat dipertimbangkan jika IHSG menembus ke bawah level support penting di 6.462,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (26/8).




