Generasi Muda Indonesia Makin Percaya Diri, Tapi Kesiapan AI dan Dunia Kerja Masih Jadi Tantangan
Oleh: Harry

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id — Anak muda Indonesia dinilai memiliki kepercayaan diri tinggi dalam menghadapi dunia kerja, namun masih membutuhkan lebih banyak pengalaman praktis, pemahaman perdagangan global, dan kesiapan menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Temuan tersebut terangkum dalam studi Shaping Tomorrow’s Workforce – Asia Pacific Youth Insights yang diinisiasi Federal Express Corporation (FedEx) bersama Junior Achievement (JA) dan diterbitkan JA Institute.
Survei melibatkan lebih dari 4.200 anak muda usia 15-22 tahun di 10 negara dan wilayah Asia Pasifik, termasuk 552 responden Indonesia.
Di Indonesia, 99% responden berharap pendidikan memberikan pemahaman lebih besar mengenai cara dunia kerja beroperasi, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 97%.
Kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis menjadi keterampilan yang dinilai paling penting untuk 10-15 tahun mendatang.
Kepercayaan diri anak muda Indonesia juga relatif tinggi.
Sebanyak 78% percaya diri menghasilkan ide atau solusi baru, 72% mampu mengambil inisiatif, 73% mampu beradaptasi terhadap perubahan, dan 69% percaya diri bekerja secara mandiri.
Angka tersebut seluruhnya lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik.
Namun, hanya 43% responden Indonesia yang nyaman bekerja tanpa rutinitas tetap, dibandingkan 56% di kawasan Asia Pasifik.
Hal ini menunjukkan masih perlunya penguatan kemampuan menghadapi situasi kerja yang tidak terstruktur.
Dalam aspek kewirausahaan, 95% responden Indonesia meyakini pola pikir kewirausahaan dapat membantu kesuksesan dalam berbagai pekerjaan.
Mereka juga memperkirakan pendidikan formal akan memberikan sekitar 81% bekal yang dibutuhkan untuk karier, dibandingkan 69% di Asia Pasifik.
Di tengah perkembangan AI dan ekonomi global, terdapat kesenjangan antara kebutuhan dan kesiapan.
Sebanyak 94% responden menilai pemahaman bisnis lintas negara penting bagi karier, tetapi hanya 69% yang menyatakan sekolah atau universitas telah mengajarkan perdagangan internasional.
Sementara itu, 84% memperkirakan akan bekerja berdampingan dengan AI, namun baru 70% yang merasa pendidikannya telah mempersiapkan mereka menggunakan AI dalam lingkungan kerja nyata.
Sebanyak 18% responden Indonesia juga memprioritaskan keterampilan digital dan teknologi dalam kurikulum, lebih tinggi dari rata-rata Asia Pasifik sebesar 12%.
Managing Director FedEx Indonesia, Garrick Thompson mengatakan, anak muda Indonesia membutuhkan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dalam lingkungan bisnis nyata, seiring perubahan teknologi dan perdagangan global.
“Anak muda Indonesia memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Mereka tidak hanya ingin mempelajari teori, tetapi juga ingin mendapatkan kesempatan untuk menerapkan kemampuan mereka dalam lingkungan bisnis yang nyata,” ujar Garrick Thompson, seperti dilansir dalam siaran pers, Rabu (26/8).
“Seiring dengan perkembangan teknologi seperti AI dan perdagangan lintas negara yang membentuk masa depan, para pelajar membutuhkan keterampilan praktis yang tidak hanya diperoleh di dalam kelas. Melalui kemitraan kami dengan Junior Achievement, FedEx bangga dapat membantu generasi muda Indonesia mendapatkan pengalaman langsung di dunia bisnis. Kami berkomitmen untuk mempersiapkan generasi berikutnya agar dapat sukses dalam perekonomian global,” sambungnya.
Di sisi lain, menurut President and Chief Executive Officer JA Asia Pacific, Vivek Kumar, bakat saja tidak cukup untuk memastikan keberhasilan generasi muda.
Mereka membutuhkan pengalaman nyata untuk membangun keterampilan praktis, kepercayaan diri, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.
Studi tersebut merekomendasikan penguatan program yang membantu anak muda menggunakan AI secara bertanggung jawab, menghadapi situasi bisnis yang tidak terstruktur, serta menerapkan pengetahuan dari ruang kelas ke dunia nyata.
Temuan ini bertepatan dengan peringatan 20 tahun FedEx/JA International Trade Challenge (ITC).
Sejak 2007, program tersebut telah menjangkau lebih dari 54.000 pelajar di Asia Pasifik melalui pembelajaran kewirausahaan, perdagangan global, pemecahan masalah, dan kolaborasi lintas budaya.




