Menko Airlangga Bantah Keras Tuduhan AS Terkait Penipuan "Transshipment"
Oleh: Ronal

Foto : istimewa
Pasardana.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menuduh Indonesia melakukan penipuan terkait pengalihan pengiriman (transshipment scam).
Tuduhan tersebut mencuat menyusul adanya laporan “The Great Transshipment Scam” yang diterbitkan Gedung Putih, yang menuding sejumlah negara termasuk Indonesia membantu China untuk menghindari tarif.
“Kami katakan bahwa tuduhan tersebut tidak benar. Kami tegaskan bahwa studi ini merupakan studi yang berdasarkan anggapan atau asumsi. Jadi apa yang terjadi sebetulnya tidak seperti apa yang mereka asumsikan,” kata Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, (20/8).
Merngutip Antara, disebutkan bahwa laporan tersebut menyatakan bahwa terjadi kegiatan transshipment atau pengalihan pengiriman terutama terjadi di negara-negara yang memiliki pelabuhan utama.
Dokumen berjumlah 24 halaman tersebut menuding para eksportir China memanfaatkan praktik pengemasan ulang dan klaim palsu mengenai negara asal barang melalui Indonesia dan puluhan negara lainnya demi mendapatkan tarif yang lebih rendah.
Laporan itu menyebut praktik tersebut sebagai "Jaringan Transshipment Bayangan Tiongkok" (“China’s Shadow Transshipment Network”). Lebih lanjut, laporan tersebut menggolongkan Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam ke dalam “Tier 2”.
Kategori ini mencakup negara-negara yang menurut Washington memiliki “volume transshipment yang signifikan, disertai dengan integrasi yang lebih dalam ke dalam rantai pasok dan sumber pasokan bahan baku yang terkait dengan Tiongkok”.
“Pertama, Indonesia tidak pernah terlibat ataupun diberitahu mengenai adanya studi ini. Indonesia dituduh bersama Brasil, Malaysia, Thailand, Turkiye, Vietnam yang masuk di dalam (penipuan) transshipment,” ujar Airlangga.
Selain itu, AS juga menyoroti peningkatan aktivitas barang-barang yang terkait dengan China, khususnya kotak dan wadah plastik di koridor Bekasi-Batam.
“Kedua, Indonesia ditempatkan di Tier 2, di mana merupakan manufaktur terintegrasi dengan China dan ekspornya ke Amerika, terutama untuk produk-produk plastik dan turunannya. Dapat kami sampaikan bahwa dalam laporan yang saya baca sekilas, jaringan akses Batam dan Bekasi," ucap Menko Airlangga.
"Kita dapat menyatakan bahwa kawasan industri Batam dan Bekasi itu sudah ada sejak tahun 90-an, dan industri yang ada di sana kebanyakan industri manufaktur dan kalau industri berbasis plastik, packaging-nya itu seluruhnya adalah sebagian besar perusahaan nasional,” sambungnya.
Menko Airlangga menambahkan, untuk bahan baku plastik, Indonesia sudah memiliki bahan baku sendiri yang diproduksi oleh Chandra Asri dan Lotte Chemicals.
“Jadi tidak benar ini menggunakan transshipment dari negara lain untuk memproses. Dan kedua, plastik packaging-nya sebagian besar digunakan sendiri di dalam negeri ataupun diekspor ke sekitaran, tetapi bukan ke Amerika Serikat,” tegas Menko Airlangga.




