Pertemuan Bilateral Menko Airlangga-Mendag China : Perkuat Perdagangan, Investasi dan Ekonomi
Oleh: Ronal

Foto : Dok. Kemenko Perekonomian RI
Pasardana.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto telah melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan China, Wang Wentao, di Shanghai, Jumat (17/7) pekan kemarin.
Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas penguatan kemitraan ekonomi strategis Indonesia–China, terutama di bidang perdagangan, investasi, pengembangan kawasan ekonomi, ekonomi digital, energi terbarukan, serta kerja sama ekonomi regional.
Dalam keterangan resmi yang diterima pada Minggu (19/7), Menko Airlangga menyampaikan, bahwa China selama ini telah menjadi mitra perdagangan utama bagi Indonesia.
Pada 2025, nilai total perdagangan Indonesia–China mencapai 154,6 miliar dolar AS.
Selama periode 2021–2025, total perdagangan kedua negara menunjukkan tren pertumbuhan sebesar 7,24 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan besarnya hubungan ekonomi kedua negara sekaligus pentingnya upaya meningkatkan dan menyeimbangkan nilai perdagangan bilateral.
Sementara itu, di bidang investasi, China juga menjadi salah satu dari tiga sumber penanaman modal asing terbesar di Indonesia.
Pada 2025, realisasi investasi China mencapai hampir 8,1 miliar dolar AS atau sekitar 13 persen dari total investasi asing, terutama pada sektor industri pengolahan, perdagangan, energi, properti, serta transportasi dan pergudangan.
Dalam kerangka Two Countries Twin Parks atau TCTP, Indonesia dan China telah membangun berbagai kerja sama antara kawasan ekonomi dan industri, pemerintah daerah, serta pelaku usaha kedua negara.
Hingga saat ini, sebanyak 30 Nota Kesepahaman telah ditandatangani dengan estimasi nilai investasi sekitar Rp 37,1 triliun.
Lebih lanjut Airlangga menekankan pentingnya menindaklanjuti berbagai Nota Kesepahaman tersebut menjadi proyek investasi yang konkret.
Pembentukan joint venture antara pelaku usaha Indonesia dengan China juga perlu terus didorong guna mempercepat implementasi berbagai kerja sama dalam kerangka TCTP.
“Berbagai Nota Kesepahaman yang telah ditandatangani perlu segera ditindaklanjuti menjadi investasi nyata. Kami juga mendorong pembentukan joint venture agar kerja sama TCTP dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih konkret,” ujarnya.
Perluasan tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang kerja sama industri, memperkuat konektivitas antar kawasan, serta memperluas manfaat investasi bagi berbagai wilayah di Indonesia.
Pemerintah Indonesia juga mengharapkan dukungan Kementerian Perdagangan China untuk mendorong keterlibatan perusahaan China sebagai investor, mitra strategis, maupun co-developer dalam pengembangan kawasan industri dan komersial di Indonesia.
Pembahasan lainnya adalah terkait upaya penyelarasan perdagangan dan penguatan investasi.
Pemerintah RI mendorong peningkatan dan penyelarasan nilai perdagangan bilateral agar memberikan manfaat yang semakin seimbang bagi kedua negara.
Upaya tersebut dapat ditempuh melalui perluasan akses pasar bagi produk Indonesia, peningkatan ekspor produk bernilai tambah, penguatan hilirisasi, serta pengembangan investasi yang berorientasi ekspor.
Dalam konteks ini, Danantara Indonesia diharapkan dapat berperan sebagai mitra strategis dalam mendorong masuknya investasi berkualitas, memperkuat kapasitas produksi nasional, dan mengembangkan proyek-proyek prioritas bersama investor China.
Kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat rantai pasok, meningkatkan transfer teknologi, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung perdagangan bilateral yang lebih seimbang dan berkelanjutan.
Sedangkan di sektor energi, Menko Airlangga mengundang perusahaan China untuk meningkatkan partisipasi dan investasi dalam mendukung program Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto terkait pengembangan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 gigawatt.
Indonesia juga mengharapkan dukungan China terhadap pembentukan dan penempatan Sekretariat Regional Comprehensive Economic Partnership atau RCEP di Indonesia.
Selain itu, Airlangga turut menyampaikan dukungan Indonesia terhadap keketuaan China dalam APEC 2026.
Indonesia memandang bahwa prioritas keterbukaan, inovasi, dan kerja sama sejalan dengan agenda penguatan integrasi ekonomi kawasan, transformasi digital, pemberdayaan UMKM, transisi energi, dan pengembangan sumber daya manusia.





